Dua Wanita Hebat di Balik Pesta Rakyat yang Memikat

Ipuk Fiestiandani menjaga Gandrung Sewu sebagai warisan budaya Banyuwangi. Maya Watono dan InJourney mengemasnya jadi pengalaman spektakuler.

Pemimpin Redaksi Liputan6.com, Titis Widyatmoko (Istimewa)

Liputan6.com, Jakarta - Bayangkan puluhan ribu orang bergerak menuju satu titik pada waktu bersamaan. Jalanan sebuah kota kecil mendadak lumpuh. Mobil dan motor saling mengunci. Tak ada yang bisa maju, tak ada yang bisa mundur.

Saya mengalaminya sendiri pada Sabtu (24/10) di Banyuwangi, Jawa Timur. Satu per satu orang turun dari kendaraan. Banyak yang meninggalkan mobil di tepi jalan, lalu berjalan kaki hingga dua sampai tiga kilometer. Tujuannya satu, jangan sampai ketinggalan pergelaran tari kolosal Gandrung Sewu 2026.

Orang tidak berjalan sejauh itu untuk hal biasa. Mereka datang menyaksikan lebih dari 1.300 penari tampil serempak di tepi laut pada malam hari. Panitia mencatat 20.000 orang masuk ke lokasi festival di Pantai Marina Boom di kabupaten ujung timur Jawa itu. Saya meyakini jumlah sesungguhnya jauh lebih besar. Seakan-akan satu kota tumplek blek di tempat sama.

Antusiasme luar biasa itu terbayarkan. Di hadapan Selat Bali, ribuan penari bergerak serempak, mengenakan riasan bercahaya dalam pertunjukan bertema Glow in the Dark. Tata cahaya dan pertunjukan drone menyempurnakan malam yang sulit dilupakan.

Gandrung Sewu 2026 (Liputan6.com/Titis Widyatmoko)

Di balik pesta rakyat termegah ini, ada dua perempuan dengan peran berbeda, tetapi saling melengkapi. Dua-duanya sosok hebat, Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani dan Direktur Utama InJourney Maya Watono.

Bupati Ipuk Fiestiandani berperan penting menjaga Gandrung Sewu tetap hidup dan berkembang. Memasuki periode kedua kepemimpinannya, Ipuk telah melahirkan berbagai program yang memperkuat kemajuan Banyuwangi. Gandrung Sewu sendiri pertama kali digelar pada 2012, ketika Banyuwangi dipimpin Abdullah Azwar Anas. Kini, memasuki tahun ke-14, Gandrung Sewu telah menjelma menjadi panggung kebanggaan Tanah Blambangan.

Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani saat berbicara di program Bincang Liputan6. (Istimewa)

Berawal dari keinginan mengangkat sejarah tari Gandrung, festival ini terus menghadirkan cerita baru tentang sejarah, adat, perjuangan, dan keberagaman Banyuwangi. Tari Gandrung sendiri merupakan kesenian khas masyarakat Osing. Kata gandrung bermakna terpikat atau mencintai, dan tarian ini telah menjadi penanda identitas budaya Banyuwangi.

Yang dilakukan Bupati Ipuk bukan sekadar mempertahankan sebuah acara tahunan. Gandrung Sewu menjadi sarana regenerasi penari muda, pembelajaran sejarah lokal, sekaligus pengembangan pariwisata dan ekonomi masyarakat. Tradisi tidak dibiarkan menjadi artefak masa lalu, tetapi terus diwariskan kepada generasi berikutnya. Ribuan penari harus menjalani audisi ketat untuk terpilih tampil di Gandrung Sewu. "Budaya yang hidup adalah budaya yang dirawat, dicintai dan diberi ruang untuk berkembang," kata Ipuk.

Dirut InJourney Maya Watono (Istimewa)

Dirut InJourney Maya Watono menghadirkan pembaruan pada cara tradisi itu dinikmati. Sehari sebelum Gandrung Sewu 2026 saya bertemu Maya Watono di kantor InJourney, Jakarta. Saat pertama memimpin InJourney dia direktur utama perempuan termuda di BUMN. Kini pada umur 44, dia memimpin holding BUMN dengan sekitar 50 ribu pekerja. "Stubborn on vision, flexible on execution," kata Maya kepada saya tentang kredo kepemimpinannya.

Gagasan menggelar Gandrung Sewu pada malam hari datang darinya. Dia melihat pertunjukan sore hari terasa panas. Mengapa tidak memindahkannya ke malam hari agar lebih nyaman, sekaligus membuka kemungkinan eksplorasi tata cahaya.

Hasilnya adalah pengalaman berbeda. Ribuan penari dengan riasan glow in the dark berpadu dengan cahaya dan teknologi pertunjukan drone. Tradisi tetap menjadi jiwa, sementara pendekatan baru memperkuat daya pikatnya. "Kami ingin menarasikan Banyuwangi ini di mata Indonesia dan dunia, saya rasa pertunjukan malam ini luar biasa," kata Maya.

Mengapa ribuan orang rela berdesakan di jalanan Banyuwangi? Mengapa penerbangan penuh dan hotel kebanjiran tamu? Wakil Menteri Kesehatan Benjamin Paulus Octavianus yang berkunjung ke Banyuwangi bahkan harus mencari alternatif transportasi lain karena kehabisan tiket pesawat. Jawabannya bukan semata karena Banyuwangi memiliki tari Gandrung, melainkan kekayaan budaya itu dihadirkan dalam pergelaran yang membuat orang ingin datang dan mengalaminya sendiri.

Dalam The Experience Economy, Pine dan Gilmore menjelaskan bahwa pengalaman merupakan bentuk penawaran ekonomi yang berbeda dari barang dan jasa. “Ketika seseorang membeli sebuah pengalaman, dia membayar untuk menikmati rangkaian peristiwa berkesan yang dirancang dan dipentaskan layaknya sebuah pertunjukan teater untuk melibatkan dirinya secara personal,” tulis Pine dan Gilmore.

Kutipan ini menjelaskan bagaimana sebuah pengalaman dirancang agar melibatkan manusia secara personal dan meninggalkan kesan. Dalam konteks Gandrung Sewu, yang membuat orang datang bukan hanya tarian, melainkan keseluruhan pengalaman: ribuan penari yang bergerak serempak, suasana malam, tata cahaya, hingga pertunjukan drone.

Pine dan Gilmore juga memperkenalkan Four Realms of Experience atau empat dimensi pengalaman. Gandrung Sewu mempertemukan keempatnya. Entertainment, melalui pertunjukan kolosal yang memukau. Educational, ketika penonton mengenal tari Gandrung dan kebudayaan Osing. Escapist, ketika perjalanan ke Banyuwangi membawa mereka keluar sejenak dari rutinitas. Dan Esthetic, ketika pantai, laut, kostum, cahaya, dan ribuan penari membentuk suasana khas.

Keempat dimensi itu saling memperkuat, menjadikan festival lebih dari sekadar tontonan. Pengunjung memperoleh pengalaman budaya sekaligus perjalanan yang berkesan. Dampaknya pun dapat meluas ke transportasi, perhotelan, kuliner, dan UMKM.

Inilah pelajaran penting dari Gandrung Sewu, budaya tetap menjadi inti, sementara pengalaman yang dibangun di sekelilingnya membuat semakin banyak orang ingin mendekat, menyaksikan, dan mengenali.

Para tamu Banyuwangi juga berpeluang mengunjungi destinasi lain dan membeli produk UMKM. Karena itu, InJourney melihat Gandrung Sewu sebagai pintu masuk untuk membangun perjalanan wisata yang lebih panjang, sekaligus menghubungkan budaya dengan perhotelan, kuliner, perdagangan, dan industri kreatif. Data akan lebih kuat ketika BPS melakukan survei akurat tentang dampak ekonomis gelaran Gandrung Sewu.

Tantangan berikutnya adalah memastikan pengalaman itu tidak berhenti pada malam pertunjukan. Dokumentasi, cerita digital, dan informasi festival berikutnya bisa menjadi alasan bagi pengunjung untuk kembali tahun berikutnya.

Dalam The Art of Relevance, Nina Simon mengingatkan pentingnya membuat institusi budaya bermakna bagi lebih banyak orang, termasuk mereka yang selama ini merasa bukan bagian darinya. Gandrung Sewu perlu terus relevan bukan hanya bagi wisatawan dan penikmat seni, tetapi juga bagi anak muda, warga lokal, pelaku UMKM, dan generasi yang belum mengenal tari Gandrung.

Di situlah pentingnya kolaborasi. Pemerintah daerah menjaga akar budaya, sementara dunia usaha membantu memperluas pengalaman, konektivitas, promosi, dan manfaat ekonominya. Tujuannya bukan semata-mata membuat acara semakin besar, melainkan memastikan manfaatnya semakin luas.

Kalaupun ada sisi perlu perbaikan, manajemen massa rasanya harus dievaluasi. Kantong-kantong parkir wajib disediakan sehingga kendaraan tidak banyak terkunci. Fasilitas ibadah, toilet umum perlu diperbanyak. Dari sisi pertunjukan, story telling layak ditampilkan dalam sisi tarian kolosal supaya lebih hidup.

Terlepas dari itu, Gandrung Sewu 2026 adalah pertunjukan yang dahsyat dan memikat. Bayangkan jika model seperti ini direplikasi di banyak kota kecil Indonesia. Setiap daerah memiliki cerita, tradisi, dan kekayaan budaya yang bisa diangkat dengan cara baru. Jika dikelola melalui kolaborasi yang tepat, semuanya berpotensi menciptakan pengalaman wisata sekaligus menggerakkan ekonomi lokal.

Bupati Ipuk memastikan tradisi tetap hidup. Maya Watono dan InJourney menunjukkan bagaimana tradisi dapat tampil dengan wajah baru. Ketika keduanya bertemu, Gandrung Sewu bukan sekadar pesta rakyat. Gandrung Sewu menjadi pengalaman yang menggerakkan manusia, ekonomi, dan kebanggaan sebuah daerah, sekaligus mengingatkan kita bahwa budaya akan terus hidup ketika mampu menemukan tempat di hati generasi baru.  

Oleh: Titis Widyatmoko, Editor in Chief Liputan6.com

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya