Penjelasan Kedubes Singapura Terkait Kabar Kunjungan Dino Patti Djalal

Kedutaan Besar Singapura membantah kabar kunjungan Dino Patti Djalal dan Saiful Mujani, menyebutnya disinformasi.

oleh Septian DenyDiterbitkan 25 Oktober 2026, 18:05 WIB
Bendera Singapura (unsplash)

Liputan6.com, Jakarta - Kedutaan Besar Singapura di Jakarta membantah kabar yang beredar di media sosial mengenai kunjungan Dino Patti Djalal dan Saiful Mujani ke kediaman Duta Besar Singapura pada 18 Oktober 2026. Kedutaan menyebut informasi tersebut sebagai disinformasi dan menegaskan bahwa kunjungan itu tidak pernah terjadi.

Dalam pernyataan untuk menanggapi pertanyaan media, Kedutaan Besar Singapura menyatakan telah mengetahui unggahan media sosial yang memuat klaim keliru mengenai kunjungan mantan Wakil Menteri Luar Negeri Dino Patti Djalal dan akademisi Saiful Mujani ke kediaman Duta Besar Singapura di Indonesia.

“Tidak ada kunjungan seperti itu,” tegas Kedutaan Besar Singapura dalam keterangan tertulisnya, Minggu (25/10/2026).

Kedutaan juga menyatakan akan bekerja sama dengan Kementerian Komunikasi dan Digital Republik Indonesia untuk menangani disinformasi tersebut.

Dino Patti Djalal Buka Suara

Dino Patti Djalal turut memberikan klarifikasi setelah kabar tersebut beredar di Instagram dalam dua hari terakhir. Melalui akun Instagram @dinopattidjalal, dia mengatakan unggahan itu menggambarkan seolah-olah dirinya mendatangi rumah Duta Besar Singapura di Jakarta pada Minggu malam, 18 Oktober 2026, bersama Saiful Mujani.

Dino menegaskan informasi tersebut tidak benar. Ia menjelaskan bahwa pada hari itu dirinya sedang berada di Perth, Australia, selama tiga hari dan baru kembali ke Indonesia pada Selasa malam.

“Saya ingin memberikan klarifikasi bahwa berita itu 100 persen fiktif, sepenuhnya dibuat-buat,” kata Dino.

Ia menjelaskan keberadaannya di Perth untuk berbicara dalam sesi mengenai perubahan iklim yang diselenggarakan oleh organisasi nonpemerintah Global Citizen. Dino menyebut dirinya merupakan anggota Oceania Board organisasi tersebut. Selama berada di Perth, ia juga bertemu dengan Presiden Timor Leste José Ramos-Horta.

Dino menambahkan bahwa dirinya sudah bertahun-tahun belum sempat berkunjung ke kediaman Duta Besar Singapura di Jakarta, meskipun ia menyebut sang dubes sebagai teman baiknya.

Terkait kabar tersebut, Dino justru berencana menghubungi Duta Besar Singapura untuk mengundangnya berkunjung ke AKC Library Cafe miliknya di Kemang dan menikmati dendeng balado buatan ibunya.

Mengenai Saiful Mujani, Dino menyatakan dirinya tidak memiliki urusan dengan akademisi tersebut dan belum pernah bertemu dengannya. Meski demikian, ia mengakui Saiful sebagai analis atau ahli kuantitatif survei yang baik.

 

Dino Soroti Dugaan Intimidasi terhadap Kebebasan Berpendapat

Pendiri FPCI Dino Patti Djalal menegaskan bahwa penyelenggaraan AFPC 2025 bertujuan untuk menjembatani jurang antara ASEAN sebagai institusi dan masyarakat di akar rumput (Dok. Liputan6.com/Teddy Tri Setio Berty).

Dino menduga penyebaran informasi fiktif tersebut bertujuan membentuk kesan bahwa dirinya tidak nasionalis dan berkolusi dengan Singapura. Ia membantah anggapan tersebut dengan menyinggung pengabdiannya kepada negara selama 28 tahun.

Ia mengatakan telah menerima dua penghargaan Bintang Mahaputera, salah satunya dari Presiden Prabowo Subianto, serta satu Bintang Jasa Utama atas pengabdiannya kepada negara.

Dino juga menyinggung latar belakang keluarganya. Menurut dia, ayahnya memperjuangkan dan mendedikasikan hidup untuk menasionalisasi laut di sekitar Kepulauan Indonesia melalui gagasan Wawasan Nusantara, yang kini menjadi bagian dari wilayah kedaulatan Indonesia.

Namun, Dino menyatakan dirinya lebih mengkhawatirkan pola penyebaran informasi yang menurutnya dilakukan secara terorganisasi oleh pihak-pihak yang tidak diketahui identitasnya.

Ia menyebut pola tersebut sebagai modus operandi baru, yakni sekelompok orang yang ia juluki “tim siluman” membuat informasi fiktif dan menyebarkannya melalui berbagai akun yang mereka buat sendiri sehingga seolah-olah berasal dari masyarakat secara organik.

Menurut Dino, pola tersebut bukan sekadar tindakan iseng, melainkan aksi terkoordinasi dan terorganisasi yang diduga memiliki dukungan dari pihak tertentu.

Ia mengingatkan masyarakat sipil, khususnya pihak-pihak yang aktif menyampaikan opini di ruang publik, agar mewaspadai praktik semacam itu. Dino menilai penyebaran informasi fiktif tersebut dapat menjadi bentuk intimidasi terhadap kebebasan berpendapat.

Dino mengatakan akan membawa persoalan ini kepada Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid. Ia berharap pemerintah dapat memberikan perhatian terhadap praktik intimidasi dan pengaburan fakta yang dinilainya berpotensi menyasar pihak lain.

Ia menekankan pentingnya melindungi masyarakat dari modus penyebaran informasi fiktif semacam itu agar tidak terus berulang.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya