Liputan6.com, Jakarta - Pengamat pasar modal Hendra Wardhana menilai, langkah Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) masuk ke pasar saham usai pengumuman penyedia indeks global MSCI akan berpotensi menjadi katalis positif bagi saham Badan Usaha Milik Negara (BUMN).
Ia menilai, hal itu terutama ke saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM), dan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) yang ikut menopang rebound Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di tengah tekanan sentimen MSCI.
Advertisement
“Namun, penguatan ini perlu dilihat secara proporsional. Aksi beli Danantara dapat membantu memperbaiki sentimen, meningkatkan kepercayaan investor, dan memberikan tambahan permintaan terhadap saham-saham yang dinilai memiliki valuasi menarik,” ujar Hendra dalam keterangannya, dikutip Sabtu, (24/10/2026).
Meski demikian, ia mengingatkan, keberlanjutan kenaikan harga tetap bergantung pada fundamental perusahaan, prospek laba, arus kas, kebijakan dividen, serta kondisi pasar secara keseluruhan. Investor perlu membedakan antara kenaikan yang didorong oleh sentimen dan kenaikan yang ditopang oleh perbaikan kinerja bisnis.
Jika aksi beli tersebut diikuti peningkatan kinerja keuangan dan perbaikan tata kelola, ia menilai, dampaknya akan lebih berkelanjutan. Sebaliknya, Hendra menuturkan, jika penguatan hanya mengandalkan ekspektasi terhadap Danantara, harga saham tetap berisiko terkoreksi ketika minat beli mereda.
“Dari sisi prospek, saham perbankan BUMN seperti BMRI, BBRI, dan BBNI menarik dicermati karena memiliki bisnis yang relatif mapan, basis nasabah luas, serta peran penting dalam pembiayaan perekonomian. BMRI memiliki daya tarik dari diversifikasi bisnis dan kemampuan menghasilkan laba, sedangkan BBRI memiliki jaringan kuat di segmen mikro yang memberikan peluang pertumbuhan dalam jangka panjang,” ujar Hendra.
Hal yang Perlu Diperhatikan Investor
Namun, Hendra mengingatkan, investor tetap perlu memperhatikan kualitas kredit, pertumbuhan kredit, biaya dana, dan margin bunga bersih, terutama ketika daya beli masyarakat belum sepenuhnya pulih dan risiko kredit dapat meningkat.
“BBNI juga layak diperhatikan karena memiliki peluang pertumbuhan dari segmen korporasi dan komersial, tetapi kualitas ekspansi kredit dan efisiensi operasional tetap menjadi faktor penting,” ujar Hendra.
Dalam menilai ketiga bank tersebut, Hendra mengingatkan investor sebaiknya tidak hanya membandingkan harga saham nominal, tetapi juga rasio harga terhadap nilai buku (price to book value/PBV), rasio harga terhadap laba (price to earnings ratio/PER), tingkat pengembalian ekuitas (return on equity/ROE), serta konsistensi pembagian dividen. Valuasi yang murah baru menjadi peluang apabila kualitas aset dan kemampuan menghasilkan laba tetap terjaga.
Sektor Saham Lainnya
Di luar sektor perbankan, Hendra melihat PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) menarik dicermati karena memiliki bisnis telekomunikasi dengan kebutuhan layanan yang relatif berulang, basis pelanggan besar, dan peluang pertumbuhan dari kebutuhan data serta layanan digital.
“Akan tetapi, investor perlu memperhatikan persaingan industri, kebutuhan belanja modal, tekanan tarif, dan kemampuan perusahaan mengubah pertumbuhan trafik data menjadi peningkatan pendapatan serta laba,” ujar dia.
Sementara itu, ia menilai, PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) memiliki karakter investasi yang berbeda karena pergerakannya sangat dipengaruhi harga komoditas, khususnya nikel dan emas, serta perkembangan industri pengolahan mineral dan rantai pasok baterai kendaraan listrik.
“Kenaikan harga emas dapat menjadi sentimen positif bagi bisnis emas ANTM, sedangkan prospek nikel sangat bergantung pada keseimbangan pasokan dan permintaan global. Karena itu, ANTM berpotensi menawarkan peluang ketika prospek komoditas membaik, tetapi volatilitasnya juga cenderung lebih tinggi dibandingkan saham dengan pendapatan yang lebih stabil,” ujar Hendra.
Katalis Tambahan
Ia menuturkan, investor perlu memperhitungkan harga komoditas, biaya produksi, kebutuhan investasi, dan realisasi proyek sebelum mengambil keputusan.
“Katalis utama bagi saham-saham BUMN ke depan adalah konsistensi Danantara dalam menjalankan strategi investasinya, pemilihan emiten berdasarkan valuasi dan fundamental, serta kemungkinan meningkatnya kepercayaan pasar terhadap pengelolaan aset negara,” kata dia.
Jika pembelian dilakukan secara terukur dan berorientasi pada nilai investasi, Hendra menilai, langkah tersebut dapat membantu memperkuat permintaan pasar dan mengurangi tekanan jual dalam jangka pendek. “Namun, pengaruhnya tidak boleh dibesar-besarkan,” ujar Hendra.
Ia menuturkan, besarnya dampak terhadap harga saham akan bergantung pada nilai transaksi Danantara dibandingkan dengan likuiditas perdagangan, konsistensi pembelian, respons investor lain, serta kondisi pasar saat transaksi berlangsung.
Aksi beli satu institusi tidak otomatis mampu membalikkan tren pasar apabila tekanan jual asing masih besar atau investor belum memperoleh kepastian mengenai transparansi dan reformasi pasar modal. Hendra menuturkan, risiko eksternal, termasuk perubahan suku bunga global, pelemahan rupiah, arus modal asing, dan ketidakpastian terkait MSCI, juga tetap perlu diperhitungkan.
“Dengan demikian, kehadiran Danantara lebih tepat dipandang sebagai katalis tambahan, bukan jaminan bahwa harga saham akan terus naik,” kata Hendra.
Strategi Perdagangan Saham
Untuk strategi perdagangan, Hendra merekomendasikan BMRI dengan status trading buy dan target harga Rp 4.100, BBRI trading buy dengan target Rp 3.100, BBNI trading buy dengan target Rp3.600, TLKM trading buy dengan target Rp 2.400, serta ANTM trading buy dengan target Rp 3.000.
“Rekomendasi ini ditujukan untuk memanfaatkan peluang pemulihan harga, sehingga investor sebaiknya tetap memperhatikan momentum pergerakan saham, volume transaksi, dan kemampuan harga bertahan di area support sebelum melakukan pembelian,” ujardia.
Ia menuturkan, saham BMRI, BBRI, dan BBNI dapat menjadi pilihan bagi investor yang ingin memanfaatkan potensi pemulihan sektor perbankan, TLKM menawarkan eksposur terhadap bisnis telekomunikasi dan digital, sedangkan ANTM lebih sesuai bagi investor yang siap menghadapi volatilitas sektor komoditas.
“Target harga tersebut merupakan sasaran analisis, bukan jaminan harga akan tercapai, dan perlu dievaluasi kembali jika terjadi perubahan signifikan pada kondisi pasar maupun fundamental emiten,” kata dia.
Di tengah volatilitas IHSG, Hendra menuturkan, investor sebaiknya melakukan pembelian secara bertahap, menjaga disiplin batas risiko, serta tidak menggunakan seluruh dana sekaligus hanya karena melihat Danantara mulai masuk ke pasar saham.
“Pada akhirnya, peluang terbaik bukan sekadar membeli saham yang sedang diborong institusi besar, melainkan memilih perusahaan dengan valuasi masuk akal, fundamental yang terjaga, dan prospek keuntungan yang dapat dipertanggungjawabkan,”kata dia.
Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual saham. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.
Danantara Beli Saham BUMN
Sebelumnya, Daya Anagata Nusantara (Danantara) mulai membeli saham-saham BUMN di pasar modal Indonesia pada Rabu (21/10/2026) dan Kamis (22/10/2026). Langkah ini diambil karena Danantara menilai valuasi emiten pelat merah makin menarik di tengah prospek pertumbuhan yang baik.
Langkah ini sekaligus merespons tekanan pada pasar modal Indonesia usai catatan dari MSCI dipublikasikan hingga berdampak pada pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Chief Investment Officer (CIO) Danantara, Pandu Patria Sjahrir mengatakan, akumulasi pembelian saham tersebut dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan fundamental perusahaan serta potensi imbal hasil investasi.
"Dari kemarin, hari ini, kita sudah mulai beli saham-saham yang ada yang kami lihat menarik. Kita terus selama harga menarik, dengan prospek yang baik," ujar Pandu di Wisma Danantara, Kamis (22/10/2026).
Pandu menjelaskan, Danantara mengutamakan investasi yang berorientasi pada keuntungan dengan memperhitungkan keseimbangan risiko dan potensi imbal hasil (risk-reward).
"Kami melihat sekarang dari sisi risk-reward menarik, dan kami juga sudah mulai masuk ke pasar modal. Tentunya itu akan bertambah terus tergantung nanti kondisi pasarnya," kata Pandu.
Ia menilai saham-saham BUMN memiliki fundamental dan prospek pertumbuhan yang kuat sehingga memberikan peluang investasi yang sangat menjanjikan bagi Danantara.
"Prospek-prospek secara fundamental perusahaan-perusahaan yang ada di pasar modal Indonesia, apalagi yang merupakan BUMN, memang sangat menarik," ujar Pandu.
Pandu menegaskan, Danantara akan terus mencermati kondisi pasar dan kekuatan fundamental perusahaan sebelum menambah portofolio investasinya. Strategi ini diterapkan demi menjaga potensi keuntungan dengan tetap memperhitungkan dinamika risiko pasar.