Liputan6.com, Jakarta - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) meminta relawan yang terlibat dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mematuhi prosedur keselamatan selama bertugas. Relawan diimbau berkoordinasi dengan pos komando, mengikuti pengaturan giliran kerja, serta menggunakan alat pelindung diri (APD) sesuai standar untuk mengurangi risiko kecelakaan di lokasi kebakaran.
Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan mengatakan, keterlibatan relawan berperan penting dalam upaya pemadaman. Namun, setiap kegiatan di lapangan harus mengikuti rencana operasi dan berada dalam koordinasi pos komando setempat.
Advertisement
“Untuk itu kami mengimbau kepada relawan agar senantiasa bila terlibat dalam penanganan karhutla ini tetap memperhatikan rencana operasi dari pos komando, jadi tidak bisa berdiri sendiri tetapi berhubungan langsung dengan pos komando yang ada di kabupaten/kota ataupun yang ada di desa di kecamatan yang terdekat,” kata Berton dalam pemaparan daring.
Berton juga meminta Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mengawasi aspek keamanan dan keselamatan relawan. Petugas keselamatan atau safety officer perlu berada di lokasi untuk memastikan prosedur keselamatan diterapkan selama kegiatan berlangsung.
“Kemudian untuk BPBD tetap melakukan supervisi terkait keamanan maupun keselamatan dari para relawan. Tentu kami juga perlu mengimbau adanya safety officer di mana petugas untuk keselamatan ini ada di lokasi saat relawan bekerja ataupun memadamkan api,” ujarnya.
Selain koordinasi, BNPB menekankan pentingnya pembekalan sebelum operasi pemadaman dan evaluasi setelah kegiatan selesai. Langkah ini diperlukan untuk meninjau pelaksanaan operasi sekaligus memantau kondisi kesehatan personel sebelum kembali bertugas.
“Pihak lain juga kami tentu mengimbau adanya pembekalan atau briefing dalam pelaksanaan operasi serta debriefing setelah operasi selesai sehingga bisa diketahui ada hal yang perlu dikenal lanjutan pada saat keesokan harinya, baik itu kesehatan dari personel ataupun kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan,” kata Berton.
Pengaturan giliran kerja juga harus mengikuti durasi operasi yang ditetapkan pos komando. Relawan yang mengalami kelelahan fisik maupun mental perlu beristirahat dan digantikan oleh tim lain yang siap bertugas.
“Yang kelima adalah pengerahan relawan disesuaikan dengan durasi rencana operasi dan yang telah ditentukan oleh pos komando. Kami tidak menyarankan ketika relawan sudah mengalami kelelahan fisik ataupun kelelahan mental untuk beristirahat dan diganti oleh tim lain yang sudah siap karena memang ada shift yang diatur oleh pihak Pemda,” ujarnya.
Standar APD untuk Relawan Karhutla
BNPB turut mengingatkan pentingnya pengetahuan dan keterampilan relawan dalam menghadapi kebakaran. Relawan perlu memahami proses terbentuknya api, teknik pemadaman, serta langkah-langkah menghindari bahaya agar tidak menjadi korban saat menjalankan tugas.
“Kemudian yang terakhir, relawan yang terlibat memiliki pengetahuan pemadaman karhutla, kami berharap relawan tersebut dibekali ilmu-ilmu atau mencari ilmu terkait dengan cara pemadaman api, situasi bagaimana terbentuknya api, bagaimana memadamkan api, ataupun bagaimana menghindari api sehingga kita tidak melihat adanya korban lain lagi dari relawan yang selama ini kita lihat,” tutur Berton.
Dari sisi perlengkapan, relawan diimbau menggunakan APD yang sesuai, antara lain helm keselamatan, kacamata pelindung, dan masker respirator berstandar N95. Perlengkapan tersebut diperlukan untuk membantu melindungi tubuh dari berbagai risiko di lokasi kebakaran, termasuk paparan asap dan partikel berbahaya.
“Ada helm keselamatan, ini perlu digunakan dengan cara yang benar, jangan menggunakan dengan cara yang salah atau kurang tepat. Kacamata pelindung ini penting sehingga para relawan tidak mengalami apa, percikan api atau asap masuk ke mata yang membuat perih atau luka,” katanya.
Berton menjelaskan, masker respirator N95 digunakan untuk membantu melindungi relawan dari paparan partikel, termasuk PM2.5. Relawan juga perlu mengenakan pakaian tahan panas, sarung tangan kulit tahan panas, dan sepatu bot, serta membawa ransel dan perlengkapan lapangan yang diperlukan.
“Gunakan sarung tangan kulit yang dan yang tahan panas, sepatu boot di lapangan juga digunakan, serta ransel dan perlengkapan di lapangan,” ujar Berton.
BNPB mengingatkan relawan agar segera beristirahat dan mencukupi kebutuhan cairan ketika mulai mengalami kelelahan atau kehausan selama bertugas.
“Apabila sudah mengalami kelelahan atau mengalami kehausan, segera beristirahat dan minum air yang secukupnya,” pungkasnya.