Liputan6.com, Jakarta - Kekayaan pendiri sekaligus CEO produsen baterai terbesar di dunia Contemporary Amperex Technology (CATL), Robin Zeng, anjlok US$ 14,9 miliar atau sekitar Rp 269,2 triliun (asumsi kurs dolar Rp 18.071 per dolar AS). Penurunan itu terjadi sejak Maret akibat merosotnya harga saham.
Harga saham CATL yang terdaftar di dua bursa anjlok 33% di Shenzhen dan 25% di Hong Kong pada periode tersebut, dengan penurunan lebih dari 12% di kedua pasar pada Rabu, yang menjadi aksi penjualan terburuk dalam lebih dari setahun.
Advertisement
Melansir VnExpress, Sabtu (24/10/2026), aksi jual besar-besaran ini dipicu oleh laporan kinerja kuartal ketiga yang dirilis sehari sebelumnya dan mengecewakan para investor. Menurut data Forbes, kekayaan Zeng turun menjadi US$ 38,3 miliar (Rp 692,1 triliun) dari sebelumnya US$ 53,2 miliar (Rp 961,3 triliun) pada Maret.
CATL telah lama mendominasi pasar dengan menguasai 39,4% penggunaan baterai kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) dalam delapan bulan pertama tahun ini, serta melayani hampir seluruh produsen otomotif global.
Namun, nilai pasarnya menyusut hingga separuhnya setelah mencapai puncak pada Mei. Penurunan harga saham semakin cepat dalam sebulan terakhir seiring meningkatnya kekhawatiran terkait tren “de-CATLization,” yaitu langkah beberapa produsen mobil China yang mulai melakukan diversifikasi dengan membeli komponen dari pesaing.
Bahkan, beberapa produsen otomotif seperti Li Auto dan Xiaomi kini mulai memproduksi baterai EV mereka sendiri.
Laporan Kuartal Ketiga Mengecewakan Pasar
Laporan kinerja kuartal ketiga CATL yang dirilis Selasa lalu juga tidak memenuhi ekspektasi pasar. Margin perusahaan menyempit di berbagai unit bisnis akibat tingginya biaya bahan baku serta tantangan lain, termasuk pemberlakuan kembali pajak konsumsi dalam negeri dan pengurangan insentif pengembalian pajak pertambahan nilai (PPN) atas ekspor, menurut laporan Bloomberg.
Laba bersih CATL naik 14,5% secara year-on-year (yoy) menjadi 21,2 miliar yuan atau Rp 57,4 triliun (asumsi kurs yuan China terhadap rupiah di kisaran Rp 2.709). Capaian ini melambat dibandingkan pertumbuhan 36,5% pada kuartal kedua, sekaligus menjadi pertumbuhan paling lambat dalam hampir dua tahun terakhir dan jauh di bawah proyeksi analis sebesar 41,2%.
Sementara itu, pendapatan naik 58,6% menjadi 165,2 miliar yuan (Rp 447,4 triliun). Kendati meningkat dari pertumbuhan 56,9% pada kuartal sebelumnya, angka ini masih berada di bawah ekspektasi pasar yang memproyeksikan pertumbuhan 60,2%.
Mitigasi Dampak Aturan Pajak
Dalam konferensi telepon bersama analis pada Selasa, pihak CATL menyampaikan bahwa mereka tengah aktif berkoordinasi dengan pelanggan untuk memitigasi dampak perubahan aturan pajak. Di saat bersamaan, perusahaan terus mengembangkan teknologi dan produk baru demi menekan dampak terhadap profitabilitas.
Pada hari yang sama, CATL turut memperkenalkan generasi terbaru baterai untuk truk berat serta mengumumkan rencana perluasan jaringan penukaran baterai (battery swap).
Pihak perusahaan menegaskan, prospek permintaan pasar terhadap kendaraan listrik tidak sepesimistis yang diperkirakan pasar dan masih memiliki potensi pertumbuhan yang kuat ke depan.