Korea Utara Akan Kembali Siarkan Propaganda di Perbatasan

Pengeras suara untuk menyiarkan propaganda akan disiapkan dalam beberapa hari mendatang.

oleh Khairisa FeridaDiterbitkan 23 Oktober 2026, 14:57 WIB
Kim Yo Jong (tengah kiri), adik perempuan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un, mengunjungi kawasan perbatasan bersama sejumlah pejabat militer pada Selasa (20/10/2026). Foto yang dirilis pemerintah Korea Utara pada Rabu (21/10/2026) ini tidak dapat diverifikasi secara independen karena wartawan tidak diberi akses untuk meliput kegiatan tersebut. (Korean Central News Agency/Korea News Service via AP)

Liputan6.com, Pyongyang - Korea Utara berencana kembali menyiarkan propaganda anti-Korea Selatan melalui pengeras suara di sepanjang perbatasan kedua negara yang dijaga ketat militer. Rencana itu disampaikan adik perempuan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un, Kim Yo Jong, menyusul meningkatnya ketegangan setelah tiga tentara Korea Selatan terluka akibat ledakan ranjau darat di wilayah perbatasan.

Kim Yo Jong, yang menjadi salah satu juru bicara utama kakaknya dalam urusan hubungan dengan Amerika Serikat (AS) dan Korea Selatan, mengumumkan rencana tersebut pada Rabu (21/10/2026) setelah mengunjungi kawasan perbatasan yang sedang diperkuat pasukan Korea Utara. Ia kembali mengancam akan membalas setiap provokasi Korea Selatan yang mengganggu pembangunan pertahanan di wilayah tersebut.

Dalam pernyataan lanjutan pada Kamis (22/10), Kim Yo Jong mengatakan Korea Utara akan menyiagakan "peralatan baru untuk menghadapi ancaman" di sepanjang perbatasan. 

Korea Utara tengah menambah ranjau, pagar kawat berduri, penghalang antitank, dan berbagai fasilitas pertahanan lainnya di sepanjang perbatasan yang sudah menjadi salah satu kawasan dengan penjagaan militer paling ketat di dunia. Pembangunan ini merupakan bagian dari kebijakan Kim Jong Un yang semakin keras terhadap Korea Selatan.

Saat meninjau kawasan tersebut bersama Marsekal Pak Jong Chon, salah satu pejabat tinggi militer kepercayaan Kim Jong Un, Kim Yo Jong menyebut pembangunan pertahanan perbatasan sebagai "tugas besar dan suci" untuk mendukung kebijakan pemutusan hubungan secara permanen dengan Korea Selatan.

Kim Jong Un sebelumnya telah menetapkan Korea Selatan sebagai negara yang paling dimusuhinya, di tengah kebuntuan hubungan diplomatik dengan AS.

"Pasukan taktis pemburu kami sedang menempati posisi baru. Dalam bulan Oktober ini, pengeras suara untuk perang psikologis terhadap Republik Korea akan mulai beroperasi di sepanjang perbatasan," kata Kim Yo Jong, menggunakan nama resmi Korea Selatan.

Ia memperingatkan bahwa pasukan penjaga perbatasan Korea Utara tidak akan tinggal diam jika tembakan peringatan Korea Selatan sampai membahayakan wilayah maupun keselamatan tentaranya.

Menurut Seoul, tembakan peringatan tersebut dilakukan untuk memaksa tentara Korea Utara yang melintasi garis perbatasan saat membangun pertahanan agar kembali ke wilayah mereka.

"Jika tindakan itu benar-benar membahayakan keamanan wilayah dan keselamatan personel militer kami, pasukan penjaga perbatasan Korea Utara tidak akan memberikan ampun kepada kelompok bersenjata yang tidak lagi menggunakan akal sehat," kata Kim Yo Jong seperti dilaporkan Associated Press.

Menanggapi ancaman untuk kembali menyiarkan propaganda, juru bicara Kementerian Pertahanan Korea Selatan Chung Binna mengatakan pada Kamis bahwa Seoul perlu mengambil "langkah yang sepadan" sebagai respons terhadap tindakan Korea Utara di sepanjang perbatasan.

Namun, ia tidak menjelaskan langkah apa yang sedang dipertimbangkan pemerintah Korea Selatan.

Kantor berita resmi Korea Utara, Korean Central News Agency (KCNA), semula melaporkan bahwa kunjungan Kim Yo Jong ke kawasan perbatasan berlangsung pada Selasa. Namun, Kim kemudian meluruskan informasi tersebut melalui pernyataan terpisah dengan menyebut kunjungannya berlangsung pada Rabu dini hari.

Sebelumnya, setelah melakukan pemeriksaan bersama Komando Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang dipimpin AS, Seoul secara resmi menyatakan bahwa ranjau yang dipasang Korea Utara menjadi penyebab ledakan di perbatasan pada 21 September.

Korea Selatan mendesak Pyongyang meminta maaf dan membersihkan ranjau yang masih tersisa. Namun, Korea Utara membantah bertanggung jawab atas ledakan tersebut dan mengancam akan membalas dengan keras jika diprovokasi.

"Pimpinan militer kami menekankan bahwa kelompok itu harus dibuat menyadari bahwa unit-unit persenjataan baru kami telah menempati posisi tembak," kata Kim Yo Jong kepada para tentara saat berkunjung pada Rabu.

Ia mengingatkan para tentara tentang perintah Kim Jong Un untuk menjadikan perbatasan dengan "musuh" sebagai benteng pertahanan yang tidak akan pernah bisa ditembus.

Militer Korea Selatan menyatakan tentara Korea Utara telah melintasi garis demarkasi militer sebanyak 50 kali sepanjang tahun ini saat melakukan pembangunan pertahanan. Seoul mengaku telah merespons pelanggaran tersebut dengan tembakan peringatan dan peringatan melalui pengeras suara.

Namun, Kim Yo Jong menyebut tuduhan pelanggaran perbatasan itu sebagai "dalih palsu". Ia menuduh tindakan provokasi Korea Selatan semakin meningkat hingga "melampaui batas" sejak insiden ledakan ranjau.

Ketua Kepala Staf Gabungan Korea Selatan Jin Yong-Sung menyebut ancaman Kim Yo Jong "tidak dapat ditoleransi" dan memerintahkan militer untuk "menanggapi dengan tegas" setiap kemungkinan provokasi Korea Utara.

Dalam inspeksi perbatasan pada Selasa, Pak Jong Chon menuduh Korea Selatan sengaja mengeluarkan tuduhan yang "telah direncanakan dan tidak masuk akal" untuk mengalihkan tanggung jawab atas meningkatnya ketegangan kedua negara.

Pak juga mengancam akan memberikan "balasan yang jauh lebih kuat" jika Korea Selatan melakukan provokasi.

Ia membantah tuduhan bahwa tentara Korea Utara telah melintasi perbatasan selama pembangunan pertahanan berlangsung.

"Tentara kami lebih tahu di mana letak garis perbatasan kami dibandingkan siapa pun," ungkap Pak, seperti dikutip KCNA.

Siaran propaganda melalui pengeras suara merupakan salah satu taktik perang psikologis yang sudah digunakan sejak era Perang Dingin. Kedua Korea sesekali kembali menggunakan cara tersebut ketika hubungan mereka memanas.

Pemerintahan Korea Selatan yang berhaluan liberal di bawah Presiden Lee Jae Myung menghentikan siaran propagandanya setelah mulai berkuasa tahun lalu sebagai upaya memperbaiki hubungan dengan Korea Utara. Pyongyang kemudian turut menghentikan siaran serupa.

Dalam beberapa tahun terakhir, Kim Jong Un telah menghentikan seluruh hubungan diplomatik dan kerja sama dengan Korea Selatan serta menetapkan negara tetangganya itu sebagai musuh permanen.

Sikap tersebut diambil ketika perundingan nuklir antara Korea Utara dan AS masih menemui jalan buntu setelah berlangsung selama bertahun-tahun.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya