Tether Investasi di Fintech Bolivia, Bidik Ekspansi USDT di Amerika Latin

Melalui investasi Tether, fintech asal Bolivia, Peso dapat menghubungkan USDT dengan mata uang lokal.

oleh Agustina MelaniDiterbitkan 22 Oktober 2026, 18:28 WIB
Ilustrasi perusahaan penerbit stablecoin USDT, Tether. (Gambar by AI)

Liputan6.com, Jakarta - Perusahaan penerbit stablecoin, Tether telah memimpin putaran pendanaan tahap awal atau pre-seed di perusahaan financial technology (fintech) asal Bolivia, Peso yang menyediakan layanan pembayaran memakai USDT melalui aplikasi pesan-antar makanan dan jaringan perbankan lokal. Hal ini untuk mendukung ekspansi perusahaan itu di seluruh Amerika Latin.

Mengutip Cointelegraph, Kamis, (22/10/2026), dalam sebuah pengumuman pada Rabu pekan ini,Tether menyatakan, investasi ini akan membantu Peso memperluas infrastruktur pembayaran stablecoin di Bolivia, Brasil, Kolombia dan Argentina.

Ekspansi ini mencakup layanan yang menghubungkan USDT dengan mata uang lokal melalui sistem perbankan dan sistem pembayaran pedagang atau merchant.

Peso telah mengintegrasikan pembayaran USDT ke dalam layanan pesan-antar makanan Yango di Bolivia, yang memungkinkan pelanggan untuk membayar pesanan menggunakan stablecoin tersebut. Perusahaan fintech ini menawarkan pembayaran berbasis kode QR, layanan point-of-sale (POS) bagi pedagang, serta akun virtual yang terhubung dengan sistem perbankan Bolivia melalui transfer ACH. Tether tidak mengungkapkan besaran nilai investasinya.

Investasi ini dilakukan di tengah langkah perusahaan fintech lain yang juga memperluas layanan keuangan berbasis USDT di Bolivia. Pada Selasa, platform pinjaman Tala mengumumkan kemitraan dengan El Dorado untuk menawarkan kredit secara langsung melalui dompet digital, yang memungkinkan nasabah yang memenuhi syarat untuk menerima dan melunasi pinjaman dalam bentuk USDT di blockchain Tempo.

Bolivia beralih ke stablecoin di tengah kelangkaan dolar AS

Sejak 2025, Bolivia semakin beralih menggunakan stablecoin di tengah kelangkaan dolar AS yang berkepanjangan dan inflasi yang tinggi. Banyak pelaku bisnis mulai menerima USDT untuk transaksi pembelian karena akses terhadap mata uang asing menjadi semakin sulit.

 

Integrasikan Kripto dan Stablecoin

Ilustrasi Kripto. (Foto By AI)

Pada November 2025, pemerintah mengumumkan rencana untuk mengintegrasikan kripto dan stablecoin ke dalam sistem keuangan, termasuk mengizinkan bank untuk menawarkan layanan penyimpanan aset digital serta produk keuangan yang terkait dengan kripto.

Selanjutnya, pada Juli 2026, pemerintah mulai mempertimbangkan kerangka regulasi yang akan mengakui USDT sebagai alat pembayaran, sarana tabungan, dan instrumen perdagangan, sejajar dengan mata uang boliviano dan dolar AS.

Usulan tersebut muncul saat Bolivia berjuang menghadapi kelangkaan dolar yang berkepanjangan, menyusul keputusan untuk meninggalkan kebijakan patokan mata uang (currency peg) yang telah lama diterapkan pada Juni 2026. Kondisi ini memicu permintaan terhadap alternatif yang bernilai setara dengan dolar, seperti USDT, sebagaimana dilaporkan oleh Cointelegraph pada Juli 2026.

 

Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual Kripto. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya