Liputan6.com, Jakarta - Layar ponsel pintar milik Adi (40 tahun) mendadak merah membara pada perdagangan Jumat pekan lalu. Pegawai swasta yang berkantor di kawasan Meruya Utara, Jakarta Barat ini hanya bisa menghela napas panjang saat menyaksikan portofolio investasinya tergerus drastis hingga 52 persen.
Kepanikan pasar yang memicu Otoritas Bursa Efek Indonesia (BEI) memberlakukan pembekuan perdagangan sementara (trading halt) menjadi momen yang tak akan dilupakan Adi. "Pasrah," kata Adi singkat saat berbincang dengan Liputan6.com, mengenang detik-detik ketika IHSG terhempas hebat.
Advertisement
Padahal, deretan saham yang mengisikan portofolionya bukanlah saham 'gorengan' tanpa fundamental. Ia mengoleksi saham-saham berkapitalisasi besar dan menjadi tulang punggung bursa, seperti PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), hingga PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT). Di samping itu, ia juga mengapit saham komoditas dan energi seperti PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) serta PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN).
Namun, ketika gelombang tekanan melanda pasar modal secara menyeluruh, saham-saham unggulan (blue chip) pun tak luput dari sapuan imbas negatif. Floating loss atau kerugian yang belum terealisasi membengkak dalam hitungan jam. Kendati demikian, Adi memilih tidak mengambil tindakan panik dengan melepas sahamnya (cut loss).
Senin yang Masih Memerah
Harapan akan terjadinya pemulihan (rebound) instan pada awal pekan ini, Senin (19/10/2026), belum sepenuhnya terwujud. IHSG kembali melanjutkan tren pelemahan dan membakar sisa hijau di portofolio banyak investor ritel.
Meski demikian, Adi justru tampak lebih tenang menghadapi dinamika pasar modal yang sedang bergejolak ini. Strategi utamanya saat ini sederhana: mendiamkan asetnya dan menunggu hingga badai mereda.
"Diemin dulu saja. Saya jarang cut loss," tutur Adi dengan nada santai.
Sikap dingin Adi dalam menghadapi fluktuasi harga saham bukan tanpa alasan. Ia memastikan dana yang dialokasikan di pasar modal seluruhnya merupakan "uang dingin" atau dana mengendap yang tidak dialokasikan untuk kebutuhan operasional sehari-hari maupun dana darurat. Keleluasaan finansial inilah yang memberinya napas panjang untuk bertahan di tengah tekanan pasar.
"Soalnya bukan duit panas. Kalapun sampai tahun depan baru hijau lagi, ya baru aku lepas," ujarny seraya tertawa ringan.
Bagi Adi, kesabaran adalah kunci utama dalam mengarungi siklus pasar saham yang penuh naik-turun. Pengalaman panjang mengajarkannya bahwa pasar modal selalu memiliki dinamika tersendiri untuk kembali ke nilai intrinsiknya.
"Minggu lalu saya baru saja jual saham PT Bukit Asam Tbk (PTBA), itu setelah merah bertahun-tahun," pungkas Adi.
Tak Kapok Investasi: Kini Pilih Main Aman
Cerita serupa datang dari pekerja swasta di Jakarta Selatan, Prilly (40 tahun) yang mengaku turut mengalami kerugian hingga sekitar Rp 70 juta setelah nilai investasinya merosot.
Bagi Prilly, kerugian itu bukan perkara kecil. Uang yang telah ia tanamkan di pasar modal sejak 2017 kini menjadi pengingat bahwa investasi saham tak selalu berujung manis. Di balik peluang meraup keuntungan, risiko kehilangan modal juga membayangi setiap keputusan.
Meski demikian, kerugian puluhan juta rupiah itu tak serta-merta membuatnya kapok. Prilly masih ingin berinvestasi di pasar saham, tetapi dengan pendekatan yang lebih berhati-hati.
“Jangan bilang main saham, invest saham,” ujarnya kepada Liputan6.com, seraya menegaskan bahwa aktivitas yang ia jalani bukan sekadar permainan untuk mencari keuntungan sesaat.
Selama bertahun-tahun berinvestasi, Prilly mengaku paling banyak mengalokasikan dananya ke saham-saham perbankan. Pilihan itu menjadi bagian dari perjalanan investasi sejak mulai mengenal pasar modal pada 2017.
Namun, situasi pasar yang bergejolak membuatnya harus mengevaluasi kembali langkah yang diambil. Setelah saham terdampak isu MSCI dan aktivitas perdagangan mengalami penghentian sementara (halt), Prilly memilih menahan diri untuk sementara waktu.
Ia memutuskan untuk tidak terburu-buru melakukan pembelian saham baru. Baginya, menunggu kondisi pasar lebih jelas menjadi pilihan yang lebih masuk akal ketimbang mengambil risiko tambahan di tengah ketidakpastian.
Investor ritel lain ikut membagikan ceritanya, Fajar (40 tahun) yang telah terjun ke pasar saham sejak 2011 bermodal awal Rp 10 juta. Kala itu, dia mulai membeli sejumlah saham, termasuk PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dan PT Smartfren Telecom Tbk (FREN).
Namun, perjalanan investasinya tidak selalu berjalan mulus. Sejak pembelian pertama saham BUMI, ia sudah merasakan kerugian. Pengalaman serupa juga terjadi pada saham FREN yang hingga kini masih tersisa dalam portofolionya, bahkan setelah perusahaan tersebut memasuki proses merger dengan XL Axiata yang kini menjadi bagian dari XLSmart. “FREN juga sampai merger sama XLSmart, saham jadi enggak sampai satu lot. Sampai sekarang masih pegang,” ujarnya.
Kondisi tersebut membuat nilai investasinya tertekan. Meski demikian, ia membedakan antara potensi kerugian dan kerugian yang benar-benar direalisasikan.
Saat ini, ia memperkirakan potensi kerugiannya mencapai puluhan juta rupiah. Namun, karena saham-saham tersebut masih dipegang, kerugian itu belum sepenuhnya direalisasikan melalui penjualan. “Investor ritel ya duit terbatas. Rugi real baru puluhan juta itu karena pakai duit sekuritas,” katanya.
Menurutnya, kesabaran menjadi bagian penting dalam menghadapi saham yang harganya turun. Namun, kesabaran itu tidak selalu mudah dijalankan, terutama ketika dana yang digunakan bukan sepenuhnya milik sendiri.
Meski mengalami kerugian, ia mengaku tidak kapok berinvestasi di pasar saham. Sebab masih melihat peluang dalam investasi jangka panjang, termasuk potensi memperoleh dividen dari perusahaan yang membagikannya. “Tidak ada kapok. Kalau untuk jangka panjang tidak, karena pasti dapat dividen,” ujarnya.
Ambil Peluang saat Saham Murah
Dino (35 tahun), menjadi salah satu investor ritel yang justru mencoba memanfaatkan momentum turunnya IHSG. Setelah beberapa bulan tidak aktif bertransaksi di Bursa Efek Indonesia (BEI), ia kembali membeli saham ketika melihat harga-harga mulai murah.
Namun, kali ini Dino tidak berniat menahan saham terlalu lama. Ia memilih strategi scalping, yakni membeli dan menjual saham dalam waktu relatif singkat untuk mengambil keuntungan dari pergerakan harga.
“Gue udah berapa bulan enggak main IHSG. Baru hari ini main lagi karena trennya lagi murah aja. Itu pun cuma main scalping-scalping doang,” ujar dia.
Bagi Dino, koreksi harga menjadi kesempatan untuk kembali mencoba peruntungan di pasar saham. Meski demikian, ia memilih transaksi jangka pendek ketimbang mengambil posisi investasi dengan durasi lebih panjang di tengah kondisi pasar yang belum stabil.
Dia mengaku masih sempat memperoleh keuntungan ketika harga saham yang diperdagangkan sempat menguat menjelang penutupan pasar.
Dino menduga tekanan jual dari investor asing menjadi salah satu faktor yang membuat penguatan IHSG tertahan. Menurut pengamatannya, meskipun terdapat peluang kenaikan setelah koreksi, indeks masih berpotensi melemah sebelum kembali menguat. “Kayaknya asing masih pada cabut, jadi IHSG melemah dulu, naiknya tipis-tipis,” ujarnya.