Harga Minyak Dunia Dekati US$ 109 per Barel, Serangan Ukraina Makin Luas

Harga minyak dunia bertahan di level tinggi setelah fasilitas minyak Rusia diserang drone dan dua kapal tanker dilaporkan terkena serangan.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 19 Oktober 2026, 08:00 WIB
Api dan asap membubung dari Kilang Minyak Moskow di tenggara ibu kota Rusia setelah serangan drone besar-besaran Ukraina, Minggu (20/9/2026). (Dok. UGC via AP)

Liputan6.com, Jakarta - Harga minyak dunia bertahan di dekat level tertinggi dalam beberapa waktu terakhir. Pelaku pasar mencermati serangan Ukraina terhadap fasilitas minyak di Rusia serta serangan terhadap kapal tanker di kawasan Teluk Persia.

Mengutip CNBC, Senin (19/10/2026), kontrak berjangka minyak mentah Brent, yang menjadi acuan internasional, turun US$ 1,04 menjadi US$ 108,82 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat melemah 26 sen menjadi US$ 101,15 per barel.

Kebakaran terjadi di terminal minyak dan depot penyimpanan di St. Petersburg, Rusia, setelah Ukraina melancarkan gelombang besar serangan drone pada Minggu. Gubernur St. Petersburg Alexander Beglov menyampaikan informasi tersebut melalui unggahan di Telegram.

Berdasarkan data Kpler, terminal di St. Petersburg mengekspor sekitar 120.000 barel produk olahan minyak per hari, yang sebagian besar berupa bahan bakar minyak (BBM) jenis fuel oil.

Hingga laporan tersebut disampaikan, tingkat kerusakan fasilitas itu belum diketahui secara pasti.

 

Ukraina Kembali Menyerang Fasilitas Energi Rusia

Seorang warga setempat melihat gudang yang terbakar setelah serangan drone Rusia di wilayah Kyiv, Ukraina, pada 20 September 2026, di tengah invasi Rusia ke Ukraina.(Genya SAVILOV / AFP)

Ukraina sempat menghentikan sementara serangan terhadap fasilitas energi Rusia setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan pada 11 Oktober bahwa Kyiv dan Moskow telah menyepakati gencatan senjata.

Namun, Rusia tetap melancarkan serangan terhadap infrastruktur energi Ukraina setelah pengumuman tersebut.

Pekan lalu, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengatakan Kyiv akan kembali menyerang fasilitas Rusia sebagai bentuk balasan atas serangan yang terus berlanjut.

Serangan terhadap fasilitas energi berpotensi mengganggu produksi dan distribusi minyak. Kondisi ini menjadi perhatian pasar karena gangguan pasokan dapat memengaruhi keseimbangan minyak dunia.

Meski harga Brent dan WTI turun pada perdagangan yang dilaporkan, kedua kontrak tersebut masih bertahan di level tinggi di tengah meningkatnya risiko geopolitik.

 

Dua Kapal Tanker Diserang di Teluk Persia

Sebuah perahu mengapung sementara kapal-kapal komersial tampak berlabuh di Selat Hormuz, di lepas pantai Bandar Abbas, Iran, Selasa, 13 Oktober 2026. (Razieh Poudat/ISNA via AP)

Di Timur Tengah, dua kapal tanker dilaporkan menjadi sasaran serangan di lepas pantai Arab Saudi, tepatnya di kawasan Teluk Persia, pada Jumat.

Berdasarkan laporan insiden dari United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO), sebuah kapal kecil menembakkan granat berpeluncur roket ke kapal tanker yang identitasnya belum diketahui. Insiden itu terjadi sekitar 78 mil laut di timur laut Al Jubayl.

Kapal tanker lainnya, ST3, dilaporkan terkena proyektil yang jenis dan asalnya belum diketahui.

Sementara itu, Iran meningkatkan serangan terhadap kapal tanker di Teluk Persia, Selat Hormuz, dan Teluk Oman. Serangan tersebut dilaporkan sebagai bagian dari upaya menghambat ekspor minyak mentah dari kawasan itu.

Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran strategis bagi perdagangan minyak dunia. Gangguan terhadap lalu lintas kapal di kawasan tersebut dapat meningkatkan kekhawatiran pasar mengenai kelancaran pasokan minyak global.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya