Liputan6.com, Jakarta - Solana telah mencatat kemajuan signifikan dalam hal kesehatan jaringan, berdasarkan laporan Fidelity. Hal itu mencakup aspek ketahanan, keamanan ekonomi dan indikator kinerja.
Mengutip Cointelegraph, Minggu (18/10/2026), laporan dari Center fo Applied Technology (FCAT) milik Fidelity menyebutkan Solana tidak mengalami gangguan pada jaringan utama (mainnet) selama dua tahun terakhir. Namun, konsentrasi dalam hal staking, layanan hosting dan perangkat lunak klien dapat menjadi potensi ancaman bagi stabilitas itu.
Advertisement
Laporan tersebut menyatakan keamanan ekonomi didukung oleh partisipasi staking yang substansial serta insentif yang memberikan imbalan atas kinerja validator. Selain itu, latensi rendah, kapasitas yang lebih luas, dan biaya transaksi yang murah turut mendukung penggunaan praktis dalam skala besar.
Meski demikian, laporan itu mencatat beberapa aspek terkait desentralisasi dan ketahanan jaringan perlu terus dipantau, termasuk adanya konsentrasi staking pada sejumlah kecil entitas atau operator validator.
Pada 21 Agustus, Cointelegraph melaporkan, Solana telah memangkas waktu slot (slot time) menjadi 350 milidetik. Menurut Wakil Presiden Teknologi di Solana Foundation, Jacob Creech, ini merupakan pengurangan pertama sejak jaringan tersebut pertama kali diluncurkan.
Pada Juni, Solana Foundation mengungkapkan rencana untuk mengurangi waktu slot menjadi 200 milidetik, dengan argumen langkah ini akan memperbaiki latensi dan mempercepat konfirmasi di jaringan blockchain tersebut. Rencananya, akan ada tiga tahap pengurangan lagi, masing-masing sebesar 50 milidetik.
Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual Kripto. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.
Solana Masuk Infrastruktur Keuangan Institusi, JPMorgan Jadi Penasihat
Sebelumnya, Solana dilaporkan telah meluncurkan sistem penyelesaian transaksi atau settlement yang ditujukan untuk kebutuhan institusi keuangan.
Laporan tersebut disampaikan bursa kripto asal Amerika Latin, Bitso. Sistem ini dikembangkan dengan masukan dari JPMorgan, salah satu bank terbesar di dunia.
Mengutip CoinMarketCap, Kamis (8/10/2026), jika benar terealisasi sesuai laporan tersebut, langkah ini dapat menjadi bagian dari upaya menghubungkan teknologi blockchain berkecepatan tinggi dengan infrastruktur penyelesaian transaksi keuangan tradisional.
Menurut Bitso, sistem tersebut dirancang untuk menangani transaksi institusi dalam jumlah besar. Solana selama ini dikenal memiliki kemampuan memproses transaksi dengan cepat dan biaya relatif rendah.
Karakteristik tersebut membuat blockchain mulai dilirik lembaga keuangan yang mencari alternatif terhadap sistem kliring dan settlement konvensional.
Namun, informasi mengenai cakupan sistem, waktu peluncuran, serta penggunaannya masih terbatas. Belum ada penjelasan lengkap mengenai institusi yang akan menggunakan sistem tersebut maupun volume transaksi yang ditargetkan.
Peran JPMorgan sebagai Penasihat
Bitso secara khusus menyebut JPMorgan sebagai penasihat dalam proyek settlement Solana tersebut.
Keterlibatan sebagai penasihat berbeda dengan kepemilikan, pengoperasian, atau investasi. Dalam konteks ini, JPMorgan kemungkinan memberikan masukan terkait desain sistem, kepatuhan, maupun struktur pasar, tanpa menjadi pihak yang bertanggung jawab menjalankan sistem.
Hal tersebut menjadi penting karena JPMorgan sebenarnya telah memiliki infrastruktur blockchain sendiri, termasuk jaringan Onyx dan JPM Coin.
Dengan demikian, keterlibatan JPMorgan sebagai penasihat pada proyek berbasis blockchain publik menunjukkan pendekatan yang berbeda dibandingkan ketika bank tersebut membangun infrastruktur miliknya sendiri.
Namun, laporan yang tersedia belum menjelaskan secara rinci ruang lingkup pekerjaan JPMorgan sebagai penasihat.
Minat institusi keuangan terhadap teknologi blockchain juga terus berkembang. Salah satu contohnya adalah langkah Moody's menghadirkan pemeringkatan kredit secara onchain melalui Canton Network.
Tren tersebut menunjukkan semakin banyak institusi keuangan tradisional yang mulai mengeksplorasi infrastruktur berbasis blockchain.
Jadi Infrastruktur Settlement Institusi
Bagi Solana, sistem settlement yang ditujukan untuk institusi dapat menjadi sinyal penting bagi kredibilitas jaringan tersebut di sektor keuangan.
Transaksi institusi membutuhkan tingkat keandalan dan kepastian penyelesaian yang lebih tinggi dibandingkan transaksi ritel. Karena itu, sistem yang dibangun di atas Solana harus mampu menunjukkan kestabilan jaringan, waktu konfirmasi yang konsisten, serta kepastian finalitas transaksi.
Kebutuhan tersebut menjadi semakin relevan di Amerika Latin, kawasan tempat Bitso beroperasi. Hambatan dalam sistem perbankan koresponden dapat mendorong permintaan terhadap sistem settlement yang lebih cepat.
Meski demikian, laporan Bitso belum mengungkap jadwal implementasi, institusi peserta, target volume transaksi, ataupun persetujuan regulator.
Artinya, status operasional sistem tersebut masih belum sepenuhnya jelas.
Jika proyek ini benar-benar masuk tahap produksi dan memperoleh dukungan regulasi, langkah tersebut dapat menjadi tonggak penting bagi penggunaan blockchain publik dalam infrastruktur keuangan institusi.