Liputan6.com, Jakarta - Getty Images, perusahaan penyedia foto dan video asal Amerika Serikat (AS), berencana mengajukan perlindungan kebangkrutan melalui restrukturisasi utang. Langkah ini ditargetkan rampung pada akhir 2026 sekaligus mengembalikan perusahaan menjadi entitas privat di tengah tekanan keuangan dan persaingan gambar berbasis kecerdasan buatan (AI).
Mengutip The Straits Times, Kamis (15/10/2026), Getty Images mengumumkan kesepakatan dengan kreditur utama untuk memulai proses prepackaged Chapter 11, yakni restrukturisasi kebangkrutan yang telah memperoleh dukungan kreditur sebelum proses pengadilan.
Advertisement
Setelah restrukturisasi, afiliasi keluarga Getty dan Koch Equity Development akan memiliki 100 persen saham perusahaan. Keduanya berkomitmen menyediakan tambahan modal hingga US$ 533 juta atau sekitar Rp 9,58 triliun (asumsi kurs Rp 17.968 per dolar AS).
Kesepakatan tersebut mencakup penghapusan surat utang tanpa jaminan senilai US$ 270 juta. Kreditur berjaminan juga menyetujui penurunan biaya bunga dan perpanjangan jatuh tempo utang.
Koch Equity Development turut menyediakan pembiayaan hingga US$ 143 juta atau sekitar Rp 2,57 triliun. Getty Images menegaskan operasional tetap berjalan normal dan pemasok akan dibayar penuh.
“Tidak ada dampak yang diperkirakan terhadap kontributor konten, mitra, pelanggan, atau karyawan di seluruh jaringan global perusahaan,” kata Getty Images dalam pernyataannya.
Penghapusan Pencatatan Saham
Restrukturisasi menjadi langkah penting bagi Getty Images yang menghadapi tekanan utang dan persaingan AI generatif. Rencana penggabungan usaha dengan pesaingnya, Shutterstock, sebelumnya tidak berlanjut.
Pada Agustus 2026, Getty Images menarik panduan keuangan tahunannya dan menunjuk Guggenheim Securities untuk memberikan nasihat terkait alternatif pendanaan serta pengelolaan neraca.
Per 30 Juni 2026, total utang perusahaan mencapai sekitar US$ 2,1 miliar atau sekitar Rp 37,73 triliun. Getty Images juga membukukan kerugian US$ 206,1 juta sepanjang 2025.
Tekanan keuangan turut tercermin pada sahamnya yang merosot sekitar 99 persen sejak kembali melantai di bursa melalui skema perusahaan akuisisi bertujuan khusus (SPAC) pada 2022.
Saat itu, valuasi Getty Images mencapai sekitar US$ 4,8 miliar. Namun, kapitalisasi pasarnya tercatat hanya US$ 20,74 juta pada penutupan perdagangan Jumat sebelum pengumuman restrukturisasi.
Pada akhir September 2026, Bursa Efek New York (NYSE) memulai proses penghapusan pencatatan saham Getty Images setelah sahamnya diperdagangkan di bawah US$ 1.
Restrukturisasi diharapkan mengurangi beban utang dan memperbaiki kondisi keuangan perusahaan. Meski kembali menjadi perusahaan privat, Getty Images tetap menghadapi tantangan mempertahankan posisinya di industri konten visual di tengah perkembangan AI generatif.