Liputan6.com, Jakarta - Pemadaman listrik massal yang melanda Kota Batam, Kepulauan Riau tak hanya mengganggu aktivitas perkantoran dan industri. Pekerja sektor informal hingga pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang mengandalkan jaringan internet untuk mencari nafkah turut merasakan dampaknya.
Bagi kurir paket dan pengemudi ojek online (ojol), gangguan jaringan komunikasi membuat pekerjaan yang biasanya bisa diselesaikan dengan cepat menjadi lebih sulit. Sementara itu, pelaku UMKM menghadapi kendala dalam menjalankan usaha, terutama ketika transaksi digital dan peralatan operasional tak dapat digunakan secara normal.
Advertisement
Aryanda (40), seorang kurir paket di Batam, mengaku kesulitan mengantarkan barang kepada penerima akibat gangguan jaringan komunikasi selama pemadaman listrik.
Ia kesulitan menghubungi penerima maupun pemilik paket untuk memastikan lokasi pengantaran. Akibatnya, jumlah paket yang berhasil diantarkan menurun dibandingkan hari biasa.
Aryanda mengatakan, sejak pukul 08.00 hingga 12.00 WIB, jumlah paket yang berhasil diantarkannya masih di bawah 100 paket. Padahal, dalam kondisi normal, ia bisa mengantarkan sekitar 150 paket dalam rentang waktu yang sama.
“Biasanya bisa sampai 150 paket. Namun, karena jaringan bermasalah, menghubungi penerima paket menjadi sulit. Akibatnya, pengantaran menjadi lebih lambat,” ujar Aryanda saat ditemui di Batam Centre.
Bagi Aryanda, koneksi internet bukan sekadar fasilitas pendukung, melainkan bagian penting dari pekerjaannya. Gangguan jaringan membuat proses konfirmasi alamat hingga komunikasi dengan penerima menjadi lebih lama, sehingga jumlah paket yang bisa diselesaikan ikut berkurang.
Ojol Batasi Perjalanan
Gangguan serupa juga dirasakan Suganda (50), pengemudi ojol. Meski pemadaman listrik pada Selasa (13/10/2026) tidak separah sehari sebelumnya, gangguan jaringan di sejumlah kawasan Batam masih menyulitkan aktivitasnya.
Suganda mengaku kesulitan mengantarkan penumpang ke beberapa lokasi karena sinyal internet menghilang. Salah satu kawasan yang disebutnya mengalami kendala jaringan adalah sekitar Balank Sport.
Kondisi tersebut membuat perjalanan yang seharusnya dapat diselesaikan dalam waktu relatif singkat menjadi lebih lama. Untuk mengantisipasi kendala, ia memilih membatasi jangkauan perjalanan dan mengantar penumpang ke lokasi yang masih terjangkau jaringan internet.
“Kalau masuk ke kawasan Balank Sport, sinyal bisa hilang. Akibatnya, pengantaran penumpang menjadi lama. Sekarang kami memilih mengantar ke lokasi yang masih terjangkau jaringan internet dan listriknya menyala,” kata Suganda.
Bagi pengemudi ojol, gangguan jaringan tak hanya menyulitkan navigasi dan komunikasi dengan penumpang, tetapi juga berpotensi menghambat penerimaan pesanan. Waktu yang tersita untuk menyelesaikan satu perjalanan dapat mengurangi kesempatan mengambil pesanan berikutnya.
Transaksi UMKM Ikut Terganggu
Dampak pemadaman listrik massal di Batam turut dirasakan pelaku UMKM. Usaha yang bergantung pada pasokan listrik dan koneksi internet menghadapi hambatan dalam menjalankan aktivitas sehari-hari. Usaha laundry dan kafe, misalnya. Mereka merasa terganggu ketika peralatan tidak dapat digunakan secara normal.
Yogi, warga Batam sekaligus pelaku UMKM, mengeluhkan banyaknya aktivitas yang terganggu akibat pemadaman tersebut.
“Banyak dampaknya. Internet lumpuh total sehingga sulit untuk bertransaksi. Belum lagi kondisi panas dan berbagai kendala lainnya. Ini jelas merugikan masyarakat,” ujarnya.
Gangguan listrik yang berlangsung berjam-jam membuat dampaknya meluas hingga ke aktivitas ekonomi masyarakat. Bagi mereka yang menggantungkan pendapatan pada jumlah pesanan, transaksi, atau barang yang berhasil diantarkan, waktu operasional yang terbuang dapat berarti berkurangnya kesempatan memperoleh penghasilan.
Peristiwa ini juga memperlihatkan ketergantungan aktivitas ekonomi sehari-hari pada pasokan listrik dan jaringan telekomunikasi. Ketika keduanya terganggu, pekerja lapangan harus menyesuaikan pola kerja, sedangkan pelaku UMKM menghadapi hambatan dalam melayani pelanggan.
Pemulihan listrik karena itu menjadi penting bukan semata-mata untuk menghidupkan kembali peralatan elektronik, tetapi juga untuk mendukung kelancaran aktivitas ekonomi masyarakat yang bergantung pada layanan digital.
Bagi pekerja sektor informal dan pelaku UMKM, listrik serta jaringan internet yang stabil merupakan bagian penting dari upaya mencari nafkah. Ketika keduanya terganggu, dampaknya langsung terasa pada pekerjaan, produktivitas, dan peluang pendapatan mereka.