Liputan6.com, Jakarta - Laporan terbaru dari lembaga riset pasar TrendForce memproyeksikan penurunan pengiriman laptop (notebook) global pada 2027.
Ancaman penurunan berkisar dari angka rendah hingga tinggi, dipicu oleh kenaikan biaya komponen utama yang membebani para produsen.
Advertisement
Menurut TrendForce, sebagaimana dikutip dari 9to5mac, Senin (12/10/2026), fokus risiko industri laptop pada 2027 akan bergeser dari kendala rantai pasok menjadi penurunan permintaan akibat lonjakan biaya produksi.
Seberapa besar dampak penurunan ini sangat bergantung pada keputusan para pemegang merek. Apakah mereka memilih menyerap biaya tersebut demi menjaga margin keuntungan, atau justru membebankannya ke konsumen melalui kenaikan harga jual retail?
Tekanan terbesar datang dari kenaikan harga tiga komponen inti yaitu unit pemroses sentral (CPU), memori (Dynamic Random-Access Memory/DRAM), dan media penyimpanan (Solid-State Drive/SSD).
Pada kuartal ketiga (Q3) 2026, TrendForce mencatat bahwa ketiga komponen tersebut menyumbang sekitar 68% dari total biaya bahan baku untuk laptop kelas menengah di kisaran harga USD 900 (Rp 16 jutaan).
3 Opsi Sulit
Apabila harga DRAM dan CPU terus melonjak, pabrikan akan dihadapkan pada tiga opsi sulit tanpa bisa mempertahankan ketiganya sekaligus:
- Menaikkan harga retail: Berisiko menekan permintaan pasar dan memperpanjang siklus penggantian laptop oleh konsumen.
- Menyerap kenaikan biaya: Berdampak langsung pada penurunan margin laba kotor perusahaan.
- Pangkas spesifikasi: Memangkas performa perangkat yang berpotensi menurunkan daya saing produk di pasar.
Laporan tersebut juga menyoroti bahwa pasokan DRAM diprediksi tetap ketat akibat tingginya permintaan untuk sektor kecerdasan buatan (AI).
Kondisi ini membuat pertumbuhan pasokan DRAM untuk PC berisiko terbatas. Sebaliknya, keterbatasan pasokan NAND Flash diperkirakan mulai mereda pada semester kedua 2027 seiring masuknya kapasitas produksi baru.
Pengikisan Stok Lama dan Tren Produksi
Kinerja pengapalan laptop pada 2026 sempat ditopang oleh membaiknya ketersediaan CPU, aksi beli lebih awal oleh produsen, serta penyerapan permintaan penggantian perangkat yang ditarik lebih cepat.
Namun, karena sebagian pembeli telah memperbarui perangkat mereka lebih awal, momentum pembelian pada periode berikutnya diperkirakan melemah. Seiring menipisnya inventaris komponen berbiaya rendah, tekanan biaya produksi akan terasa kian langsung bagi para produsen.
Di sisi lain, untuk menekan biaya manufaktur di tengah ketidakpastian pasar, para produsen berpotensi mengalihkan kembali sebagian porsi produksi laptop ke Tiongkok—selama tidak ada penambahan tekanan tarif perdagangan.
TrendForce memperkirakan pangsa pasar Tiongkok dalam produksi laptop global akan meningkat dari 76% pada 2025 menjadi 79% pada 2026, dan berpeluang menembus angka di atas 80% pada 2027.