Liputan6.com, Jakarta - Kebutuhan air bersih di Balikpapan, Kalimantan Timur, masih belum sepenuhnya terpenuhi. Saat ini, ketersediaan air bersih di kota tersebut sekitar 1.500 liter per detik, sementara kebutuhan masyarakat mencapai 2.500 liter per detik.
Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), menjelaskan pemerintah tengah berupaya menambah pasokan air agar kebutuhan warga dapat terpenuhi, terutama saat musim kemarau.
Advertisement
“Tidak boleh ada masyarakat yang kesulitan mendapatkan air bersih, terutama di masa kemarau, El Nino berkepanjangan,” ujar Menko AHY saat meninjau sumur air Gunung Tembak di Kelurahan Teritip, Balikpapan Timur, dikutip dari keterangan tertulis, Jumat (9/10/2026).
AHY menegaskan, pembangunan sumur bor menjadi salah satu langkah yang perlu terus dikawal. Penambahan kapasitas pasokan juga harus direncanakan secara bertahap agar manfaatnya dapat dirasakan secara berkelanjutan.
“Tadi saya mendengar langsung masyarakat yang mengapresiasi dan menerima manfaat dari sumur bor 10 liter per detik. Tapi tentu masih banyak hal yang perlu kita kerjakan karena harus tercukupi,” tuturnya.
Kesenjangan antara pasokan dan kebutuhan air tersebut membutuhkan koordinasi berbagai pihak untuk mencari solusi jangka pendek maupun jangka panjang.
Sumur Gunung Tembak Bantu Kebutuhan Pesantren
Sumur air Gunung Tembak telah memberikan manfaat bagi masyarakat, termasuk Pondok Pesantren Hidayatullah Balikpapan. Pesantren yang berdiri pada 1976 itu memiliki sekitar 1.300 santri dan telah menerima manfaat sumber air di kawasan Gunung Tembak sejak 1988.
Ketersediaan air berperan penting dalam menunjang kebutuhan sehari-hari sekaligus kegiatan pendidikan di lingkungan pesantren. Manfaat tersebut menjadi salah satu gambaran pentingnya menjaga dan meningkatkan akses air bersih bagi masyarakat.
AHY mengatakan, penambahan pasokan perlu dilakukan secara konsisten. Pemerintah tidak harus langsung menghadirkan tambahan air dalam jumlah besar, tetapi perlu memastikan adanya kemajuan dari waktu ke waktu.
“Yang penting, walaupun tidak bisa langsung besar suplai yang bisa kita tambahkan, tetapi selalu ada progres, selalu ada kemajuan. Sepuluh liter per detik, ditambah lagi 10 liter dan seterusnya,” kata Menko AHY.
Menurut dia, setiap peningkatan kapasitas diharapkan dapat membantu mengurangi kesenjangan antara ketersediaan air dan kebutuhan masyarakat Balikpapan.
Dengan kebutuhan yang masih lebih tinggi daripada pasokan saat ini, pembangunan infrastruktur air bersih menjadi salah satu pekerjaan yang perlu dilanjutkan secara bertahap dan terkoordinasi.
Pasokan dari Sepaku Semoi Masih Perlu Dikaji
Selain pembangunan sumur bor, pemerintah turut mempertimbangkan kemungkinan pemanfaatan pasokan air dari Sepaku Semoi. Menurut AHY, pasokan tersebut saat ini telah memenuhi kebutuhan di Ibu Kota Nusantara (IKN).
Meski demikian, opsi penyaluran air ke Balikpapan masih memerlukan perhitungan menyeluruh. Jarak yang cukup jauh serta kebutuhan anggaran yang besar menjadi sejumlah hal yang perlu dipertimbangkan sebelum langkah tersebut direalisasikan.
Untuk mendorong peningkatan pasokan air bersih, Kementerian Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan akan mengawal koordinasi dengan Kementerian Pekerjaan Umum melalui balai terkait, pemerintah daerah, serta perusahaan daerah air minum.
AHY menegaskan, pemenuhan kebutuhan air bersih merupakan tanggung jawab bersama. Karena itu, berbagai upaya penambahan pasokan perlu terus berjalan, meskipun dilakukan secara bertahap.
Pemerintah berharap peningkatan kapasitas pasokan dapat memperluas akses masyarakat terhadap air bersih, sekaligus membantu warga menghadapi musim kemarau berkepanjangan.