Liputan6.com, Jakarta: Bagi remaja putri, usia ke-17 tahun adalah momen yang sangat istimewa. Ini juga dirasakan eks kembar siam Pristian Yuliana dan Pristian Yuliani. Keduanya merayakan ulang tahun ke-17 bersama teman-teman kembar lainnya di Jakarta, Sabtu (31/7) malam. Ulang tahun Yuliana-Yuliani atau sering dipanggil Ana dan Ani ini digelar berkat bantuan seorang donatur.
Memasuki tahap dewasa, keduanya mengucap syukur diberi umur panjang serta kesehatan. Gadis dari empat bersaudara ini bercita-cita menjadi dokter, seperti dokter yang berhasil memisahkannya. Namun anak dari pasangan Hartini dan Tularjo ini terganjal masalah ekonomi. Ayahnya yang berprofesi sebagai tukang ojek penghasilannya minim. Saat ini, keduanya hanya mengandalkan bantuan dari Padmosantjojo yang mereka anggap seperti ayah mereka. Apalagi, pemerintah daerah tak sedikit pun memberikan bantuan untuk mereka. Padahal kisah sukses pemisahan Ana dan Ani telah mengharumkan nama bangsa.
Ana dan Ani dipisahkan saat berusia tiga bulan pada oktober 1987. Operasi pemisahan tengkorak kepala mereka dilakukan 41 dokter. Profesor dokter Padmosantjojo sebagai ahli bedah syarafnya. Berbagai kalangan menilai operasi pemisahan kembar siam selama 13 jam itu langka dan ajaib. Makanya dianggap fenomena keberhasilan dokter Indonesia karena pertama kalinya berhasil memisahkan bayi kembar siam yang dempet pada tengkorak kepala. Kendati menjadi salah satu fenomena dunia kedokteran Indonesia, pemerintah tidak membantu biaya operasi sebesar Rp 42 juta itu.
Setelah dioperasi, mereka mengaku tidak mengalami keluhan apa pun, termasuk gangguan fungsi otak yang sebelumnya sempat dikhawatirkan tim dokter. Bahkan, Ana dan Ani meraih ranking enam dan empat selama di kelas tiga sekolah menengah umum. Kini di usia ke-17, si kembar patut berlega hati. Pasalnya, dokter Padmosantjojo sudah tidak mengkhawatirkan lagi dampak operasi pemisahan mereka.(DNP/Olivia Rosalia dan Amar Sudjarwadi)
Memasuki tahap dewasa, keduanya mengucap syukur diberi umur panjang serta kesehatan. Gadis dari empat bersaudara ini bercita-cita menjadi dokter, seperti dokter yang berhasil memisahkannya. Namun anak dari pasangan Hartini dan Tularjo ini terganjal masalah ekonomi. Ayahnya yang berprofesi sebagai tukang ojek penghasilannya minim. Saat ini, keduanya hanya mengandalkan bantuan dari Padmosantjojo yang mereka anggap seperti ayah mereka. Apalagi, pemerintah daerah tak sedikit pun memberikan bantuan untuk mereka. Padahal kisah sukses pemisahan Ana dan Ani telah mengharumkan nama bangsa.
Ana dan Ani dipisahkan saat berusia tiga bulan pada oktober 1987. Operasi pemisahan tengkorak kepala mereka dilakukan 41 dokter. Profesor dokter Padmosantjojo sebagai ahli bedah syarafnya. Berbagai kalangan menilai operasi pemisahan kembar siam selama 13 jam itu langka dan ajaib. Makanya dianggap fenomena keberhasilan dokter Indonesia karena pertama kalinya berhasil memisahkan bayi kembar siam yang dempet pada tengkorak kepala. Kendati menjadi salah satu fenomena dunia kedokteran Indonesia, pemerintah tidak membantu biaya operasi sebesar Rp 42 juta itu.
Setelah dioperasi, mereka mengaku tidak mengalami keluhan apa pun, termasuk gangguan fungsi otak yang sebelumnya sempat dikhawatirkan tim dokter. Bahkan, Ana dan Ani meraih ranking enam dan empat selama di kelas tiga sekolah menengah umum. Kini di usia ke-17, si kembar patut berlega hati. Pasalnya, dokter Padmosantjojo sudah tidak mengkhawatirkan lagi dampak operasi pemisahan mereka.(DNP/Olivia Rosalia dan Amar Sudjarwadi)