Liputan6.com, Jakarta - Cahaya matahari menembus celah-celah atap rumah itu. Dari bawah, rangka kayu yang terbuka terlihat jelas karena sebagian penutup atap telah ambruk dimakan usia. Ketika hujan turun, air masuk dari berbagai sisi dan membuat penghuninya kesulitan beristirahat.
Bagi sebagian orang, rumah adalah tempat paling nyaman untuk pulang. Namun bagi Nirwana dan keluarganya, rumah yang mereka tempati selama delapan tahun terakhir justru menjadi pengingat akan keterbatasan yang mereka hadapi setiap hari.
Advertisement
Rumah sederhana yang berada di Lingkungan Batu Murrung, Desa Senga, Kecamatan Belopa, Kabupaten Luwu, itu jauh dari kata layak huni. Dinding yang terbuat dari papan tampak kusam dan lapuk dimakan usia. Sejumlah bagian bahkan hanya ditambal menggunakan papan dan tripleks seadanya agar bangunan tersebut tetap bisa berdiri.
Meski kondisinya memprihatinkan, rumah itu tetap menjadi tempat berteduh bagi Nirwana bersama suami dan tiga anaknya. Di bangunan sederhana tersebut, mereka menjalani kehidupan sehari-hari dengan segala keterbatasan yang ada.
Sudah delapan tahun keluarga itu tinggal di rumah tersebut. Namun hingga kini, keinginan untuk memperbaiki bangunan yang terus mengalami kerusakan belum juga terwujud karena keterbatasan ekonomi.
"Kami sudah sekitar delapan tahun tinggal di rumah ini bersama suami dan tiga orang anak. Sampai sekarang belum ada biaya untuk memperbaiki atap yang rusak karena untuk kebutuhan sehari-hari saja kami masih sering kekurangan," ujar Nirwana, Kamis (8/10/2026).
Kerusakan paling parah terlihat pada bagian atap. Sejumlah rumbia yang sebelumnya menutupi rumah telah hilang sehingga menyisakan lubang di berbagai sisi. Saat cuaca cerah, sinar matahari bebas masuk ke dalam rumah. Sebaliknya ketika hujan turun, air ikut masuk dan membasahi bagian dalam rumah.
Kondisi itu membuat keluarga Nirwana tidak pernah benar-benar merasa nyaman saat cuaca buruk datang. Malam yang seharusnya digunakan untuk beristirahat kerap berubah menjadi waktu untuk mencari tempat yang masih aman dari tetesan air hujan.
"Tidak bisa tidur kalau hujan pak, kami duduk saja di pinggir-pinggir," katanya.
Di tengah kondisi rumah yang semakin memprihatinkan, keluarga tersebut masih berusaha menjalani kehidupan seperti biasa. Mereka bersyukur karena masih mendapatkan bantuan sosial berupa sembako dari pemerintah yang membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari.
"Alhamdulillah kami masih dapat bantuan pemerintah berupa sembako. Bantuan itu sangat membantu untuk kebutuhan sehari-hari keluarga kami," tuturnya.
Meski demikian, bantuan kebutuhan pokok tersebut belum mampu menyelesaikan persoalan utama yang mereka hadapi, yakni kondisi rumah yang terus mengalami kerusakan dari tahun ke tahun.
Sumber penghasilan keluarga selama ini berasal dari pekerjaan sang suami sebagai tukang batu. Namun pekerjaan yang mengandalkan tenaga fisik itu kini tidak lagi bisa dilakukan secara maksimal karena kondisi kesehatan yang dialaminya.
Nirwana mengatakan suaminya mengalami benjolan pada bagian tangan yang membuatnya kesulitan melakukan pekerjaan berat. Rasa sakit yang muncul saat bekerja membuat penghasilannya tidak lagi menentu seperti sebelumnya.
"Suami saya kerja sebagai tukang batu, tapi sekarang sudah tidak bisa terlalu kerja berat karena ada benjolan di tangannya. Kalau dipakai kerja berat, tangannya sering terasa sakit," ungkapnya.
Berkurangnya kemampuan bekerja membuat kondisi ekonomi keluarga semakin sulit. Penghasilan yang ada lebih banyak digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan kebutuhan anak-anak, sehingga tidak ada biaya yang bisa disisihkan untuk memperbaiki rumah.
Harapan untuk mendapatkan bantuan perbaikan rumah sebenarnya sudah lama diupayakan. Nirwana mengaku pernah mendatangi Dinas Sosial sebanyak dua kali untuk mencari informasi terkait program bedah rumah.
Namun saat itu ia mendapat informasi bahwa program tersebut telah dialihkan ke Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Perkim). Keinginannya untuk mengurus lebih lanjut akhirnya tertunda karena harus menghadapi proses persalinan.
"Sudah dua kali saya datang ke dinas sosial pak, tapi katanya anggaran bedah rumah sudah pindah di Perkim. Saya tidak ke Perkim saat itu karena besoknya saya melahirkan. Jadi belum pernah ke sana sampai sekarang," ujarnya.
Kini, harapan keluarga tersebut tertuju pada bantuan pemerintah maupun pihak-pihak yang memiliki kepedulian terhadap masyarakat kurang mampu. Mereka berharap kondisi rumah yang ditempati dapat menjadi perhatian sehingga memperoleh kesempatan mendapatkan bantuan rehabilitasi atau program bedah rumah.
Bagi Nirwana, yang dibutuhkan bukanlah rumah mewah dengan bangunan besar dan fasilitas lengkap. Ia hanya ingin keluarganya memiliki tempat tinggal yang aman, dengan atap yang mampu melindungi dari panas dan hujan, serta ruang yang nyaman bagi anak-anaknya untuk tumbuh dan beristirahat.
"Kami tidak berharap rumah yang mewah, yang penting aman ditempati dan anak-anak bisa tidur dengan nyaman saat hujan turun," kata Nirwana.