Miliarder Ray Dalio Beri Peringatan Maraknya AI Segera Berakhir

Miliarder Ray Dalio mengatakan suku bunga tinggi dan kebutuhan mengubah kekayaan jadi uang tunai bisa memicu keterpurukan AI.

oleh Cahya Alena FauzaDiterbitkan 08 Oktober 2026, 21:00 WIB
Pendiri Bridgewater Associates Ray Dalio saat berada di Nusa Dua, Bali, untuk menghadiri Forum Indonesia Afrika Kedua. (Ist)

Liputan6.com, Jakarta - Miliarder sekaligus pendiri Bridgewater, Ray Dalio, mengibaratkan artificial intelligence atau kecerdasan buatan (AI) sebagai gelembung yang hampir meletus akibat naiknya suku bunga dan dorongan mengubah kekayaan menjadi uang tunai.

Pada Konferensi CEO Global Forbes, Ray Dalio mengatakan, banyak utang dan pinjaman yang diambil demi mendanai AI. Naiknya suku bunga menjadi titik di mana gelembung tersebut akan pecah pada akhirnya.

“Kita sedang di bagian siklus di mana kita sudah mendekati titik itu,” tutur dia mengutip Yahoo Finance, Kamis, (8/10/2026).

Dia berpendapat demikian lantaran konglomerat teknologi menghabiskan ratusan miliar dolar AS dan menambah utang untuk AI. Hal ini seiring dengan semakin terkonsentrasinya kenaikan pasar pada segelintir saham. Imbal hasil obligasi di seluruh dunia juga telah meroket di seluruh dunia, melonjakkan investasi besar yang dibutuhkan untuk membangun infrastruktur AI.

Pun demikian, nilai pasar saham terus meningkat, dengan optimisme terhadap laba sektor teknologi yang mendorong indeks S&P 500 dan Nasdaq 100 mencapai rekor tertinggi pada pekan ini.

Selain itu, Dalio, yang sudah lama memperingatkan tentang hal ini, mengatakan ada permasalahan lain yang bisa mendorong keruntuhan pasar. Ini termasuk pajak kekayaan dan upaya lain untuk mengubah keuntungan yang belum direalisasi menjadi uang tunai.

"Semua orang mengatakan, nilai saya miliaran dolar, tapi coba belanjakan uang itu," kata Dalio.

 "Demi membelanjakannya, Anda harus menjual kekayaan untuk mendapat uang, jadi di situlah biasanya gelembung tersebut mulai pecah," dia menambahkan.

 

Miliarder Ray Dalio Lebih Pilih Investasi Emas Dibandingkan Bitcoin, Ini Ternyata Alasannya

Pendiri Bridgewater Associates Ray Dalio saat berada di Nusa Dua, Bali, untuk menghadiri Forum Indonesia Afrika Kedua. (Ist)

Sebelumnya, investor miliarder Ray Dalio memperingatkan soal Bitcoin sebagai penyimpan nilai jangka panjang dan aset lindung nilai (safe haven).

Ia menilai Bitcoin memiliki dukungan bank sentral yang minim serta masih menyisakan kekhawatiran terkait keterbatasan privasi dan ketahanannya terhadap komputasi kuantum.

Mengutip laman Cointelegraph.com, Rabu (4/3/2026), Dalio menepis gagasan bahwa Bitcoin (BTC) dapat berfungsi sebagai emas digital. Dalam wawancaranya di All-In Podcast pada Selasa (3/3) ia mengatakan bahwa “hanya ada satu emas.”

“Emas bukan sekadar logam mulia yang dispekulasikan. Emas merupakan “uang yang paling mapan” dan menjadi mata uang cadangan terbesar kedua yang dimiliki bank sentral," ujar Dalio.

Dalio juga mengatakan dirinya tidak melihat alasan mengapa bank sentral ingin membeli Bitcoin dan menyimpannya dalam jangka panjang.

Sebelumnya, Dalio pernah menyebut bahwa Bitcoin memiliki karakteristik hard money, namun ia juga mencatat bahwa aset tersebut masih memiliki korelasi yang cukup tinggi dengan saham teknologi.

“Dari perspektif kepemilikan, penawaran dan permintaan bisa terpengaruh jika seseorang tertekan di satu area dan harus menjual aset lain yang mereka miliki,” jelasnya

 

Kurangnya Privasi pada Bitcoin

Ilustrasi aset kripto Bitcoin. (Foto By AI)

Dalio turut menyoroti kurangnya privasi pada Bitcoin dengan menyatakan bahwa “setiap transaksi dapat dipantau,” serta memperingatkan bahwa perkembangan komputasi kuantum berpotensi mengancam jaringan tersebut.

Pada Juli lalu, Dalio merekomendasikan alokasi portofolio sebesar 15% ke Bitcoin atau emas untuk mengoptimalkan “rasio imbal hasil terhadap risiko terbaik,” di tengah masalah utang Amerika Serikat yang membebani dan pelemahan nilai mata uang yang berkelanjutan.

Menurutnya, antara Juli hingga awal Oktober, Bitcoin dan emas sama-sama menguat hingga akhirnya pasar kripto mengalami kejatuhan besar yang menghapus hampir USD 20 miliar posisi leverage.

Keduanya kemudian bergerak berbeda arah pada awal Oktober. Bitcoin turun lebih dari 45% sejak puncaknya pada Oktober menjadi USD 68.420, sementara emas terus menguat, melonjak lebih dari 30% ke level USD 5.120 dalam periode yang sama.

Tatanan dunia Telah Berubah

Bulan lalu, Dalio menyampaikan pesan kepada investor bahwa “Tatanan Dunia” yang selama hampir satu abad dipimpin oleh Amerika Serikat telah “runtuh."

Ia menilai para investor harus memikirkan kembali cara melindungi kekayaan mereka di tengah meningkatnya konflik geopolitik dan ketidakstabilan ekonomi.

Dalio kembali menegaskan pandangannya yang telah lama dipegang bahwa aset penyimpan nilai, khususnya emas, merupakan pilihan terbaik untuk menjaga kekayaan ketika mata uang melemah dan sistem kredit terganggu. Sementara itu, aset berbasis utang dinilai menjadi lebih rentan seiring meningkatnya ketidakpastian.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya