ISF 2026: Indonesia Genjot Solusi Hadapi Tantangan Keberlanjutan

Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM, Rosan Roeslani menuturkan, keberlanjutan menjadi wacana yang tidak dapat dipisahkan dari daya saing.

oleh Agustina MelaniDiterbitkan 07 Oktober 2026, 16:35 WIB
Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Roeslani di pembukaan Indonesia International Sustainability Forum (ISF) 2026 pada Selasa, (6/10/2026). (Foto: istimewa)

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM, Rosan Perkasa Roeslani menuturkan, keberlanjutan bukan hanya agenda iklim, tapi juga industri, investasi, dan security. Lewat Indonesia International Sustainability Forum (ISF) menjadi platform dialog dan kemitraan untuk mendukung keberlanjutan tersebut.

“ISF telah berkembang lebih dari sekedar konferensi, menjadi platform dialog dan kemitraan. Di mana ide menjadi project, serta ambisi menjadi investasi. Untuk Indonesia, keberlanjutan bukan hanya agenda iklim, tapi agenda nasional, industri dan investasi. Di tengah dinamika global saat ini, keberlanjutan juga menjadi wacana yang tidak dapat dipisahkan dari daya saing,” tutur Rosan, dikutip dari keterangan resmi, Rabu, (7/10/2026).

Sementara itu, Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia (KADIN) Anindya Bakrie mengatakan untuk mendorong aksi iklim dan pertumbuhan berkelanjutan di tengah tantangan energi global, saat ini Kadin Indonesia telah menetapkan lima prioritas.

“Pertama, kita perlu terus mempercepat transisi energi untuk memperkuat ketahanan energi. Kedua, kita perlu mengembangkan pasar karbon yang berintegritas tinggi. Ketiga, mendukung perusahaan-perusahaan Indonesia dalam upaya mereka menuju net zero. Keempat, mendorong ekonomi sirkular dan inisiatif waste-to-energy. Dan terakhir, mendorong pengelolaan kehutanan yang berkelanjutan,” ujar Anindya.

Indonesia International Sustainability Forum (ISF) 2026 resmi dibuka pada Selasa, 6 Oktober 2026. Memasuki tahun keempat penyelenggaraan ISF, konsistensi dalam menjaga momentum agenda keberlanjutan menjadi semakin penting, terutama di tengah ketidakpastian global.

Mempertemukan pemimpin pemerintahan, dunia usaha, investor, lembaga keuangan, organisasi internasional, serta para ahli dari berbagai bidang, ISF 2026 menjadi ruang strategis untuk membahas bagaimana menjaga momentum pertumbuhan ekonomi sekaligus mempercepat transisi rendah karbon, memperkuat ketahanan, dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

Mengusung tema “Investing for a Resilient, Sustainable, and Prosperous World,” ISF 2026 menempatkan investasi, teknologi, inovasi, dan kolaborasi lintas sektor sebagai bagian penting dari upaya menerjemahkan agenda keberlanjutan menjadi pertumbuhan dan pembangunan yang nyata.

 

 

 

Mempertemukan Pertumbuhan, Investasi, dan Transisi Rendah Karbon

Indonesia International Sustainability Forum (ISF) 2026 dibuka pada Selasa, (6/10/2026). (Foto: istimewa)

Agenda ISF 2026 berangkat dari tantangan yang dihadapi Indonesia dan banyak negara, bagaimana menjaga momentum pertumbuhan ekonomi, sekaligus mempercepat transisi rendah karbon, memperkuat ketahanan, dan menciptakan kualitas hidup yang lebih baik.

Karena itu, keberlanjutan tidak ditempatkan sebagai agenda yang berdiri sendiri, melainkan sebagai bagian dari strategi pertumbuhan jangka panjang.

Pembahasan di ISF 2026 diarahkan pada bagaimana modal, teknologi, inovasi, kebijakan, dan kemitraan dapat mendorong terciptanya solusi yang dapat diterapkan dan diperluas.

“Dalam tekanan volatilitas geopolitik dan ekonomi, momentum agenda keberlanjutan perlu terus dijaga dan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari strategi dan pertumbuhan ekonomi. Melalui ISF 2026, kita dapat belajar dari pengalaman berbagai negara dan berbagai industri tentang bagaimana agenda keberlanjutan dapat memperkuat ketahanan sekaligus membuka peluang pertumbuhan baru,” ujar Chair of ISF 2026, Rachmat Kaimuddin.

Rachmat menambahkan, yang tidak kalah penting, forum ini membuka ruang untuk membangun kemitraan, memperkuat kolaborasi, dan mendorong investasi, transfer technology, yang dapat membawa berbagai gagasan tersebut menjadi solusi nyata.

 

Hadirkan 22 Sesi Tematik

Utusan Khusus Sekretaris Jenderal PBB untuk Isu Air, Retno Marsudirini di ISF 2026. (Foto: Istimewa)

Pada hari pertama, ISF 2026 mengangkat tema “Powering Low-Carbon Growth”, dengan pembahasan mengenai energi, industri, dan sektor-sektor strategis dalam mendorong pertumbuhan rendah karbon. Sementara hari kedua mengangkat tema “Enabling a Resilient & Liveable Future”, dengan fokus pada ketahanan pangan dan alam, air, kota dan mobilitas, serta pembiayaan, inovasi, dan talenta.

Selain rangkaian sesi Plenary, ISF 2026 menghadirkan 22 sesi tematik yang memperluas pembahasan mengenai berbagai tantangan dan peluang keberlanjutan dari perspektif lintas sektor.

Rangkaian tersebut menghadirkan sejumlah figur dan ahli dari Indonesia maupun dunia, termasuk Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono; Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan; Utusan Khusus Presiden Bidang Energi dan Iklim Hashim Djojohadikusumo; CEO Danantara Development Management Fund/CTO BPI Danantara Sigit Puji Santosa; serta Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti.

Dari tingkat global, ISF 2026 juga menghadirkan Utusan Khusus Sekretaris Jenderal PBB untuk Isu Air Retno Marsudirini; Utusan Khusus Presiden Bidang Perdagangan Internasional dan Kerja Sama Multilateral Marie Elka Pangestu; serta Executive Secretary UNESCAP Armida Salsiah Alisjahbana, bersama berbagai pemimpin dan ahli lainnya.

 

KADIN: Menjadikan Agenda Keberlanjutan sebagai Agenda Daya Saing

Ketua Umum APINDO, Shinta Kamdani saat menjadi pembicara dalam Indonesia Sustainability Forum (ISF) 2026 di Jakarta, Selasa (6/10/2026).

Sebagai bagian penting dari ekosistem ISF 2026, KADIN Indonesia membawa perspektif dunia usaha ke dalam pembahasan mengenai bagaimana agenda keberlanjutan dapat diterjemahkan menjadi peluang investasi, inovasi, dan peningkatan daya saing.

Bagi dunia usaha, transisi menuju ekonomi yang lebih berkelanjutan semakin terkait erat dengan bagaimana Indonesia membangun industri yang kompetitif, menarik investasi jangka panjang, mengembangkan teknologi, menciptakan lapangan kerja, serta memperkuat posisi Indonesia dalam rantai nilai global.

Wakil Ketua Umum Koordinator Bidang Pembangunan Manusia, Kebudayaan, dan Keberlanjutan KADIN Indonesia, Shinta W. Kamdani menyampaikan, dunia usaha memiliki posisi strategis dalam menjembatani agenda keberlanjutan dengan kebutuhan pertumbuhan ekonomi dan daya saing.

“ISF 2026 menjadi ruang penting untuk mempertemukan dunia usaha dengan pemerintah, investor, dan mitra global dalam membahas bagaimana keberlanjutan dapat diterjemahkan menjadi investasi, inovasi, dan peluang pertumbuhan. Bagi dunia usaha, transisi menuju ekonomi yang lebih berkelanjutan bukan hanya mengenai memenuhi target lingkungan, tetapi juga membangun industri yang lebih kompetitif, resilien, dan siap menghadapi perubahan global," ujar Shinta.

Ia menambahkan, rangkaian 27 side events yang berlangsung sejak Juli hingga Oktober 2026 menunjukkan semakin luasnya keterlibatan berbagai sektor dalam membangun agenda keberlanjutan di Indonesia.

"Melalui rangkaian side events dan diskusi lintas sektor, kita melihat semakin banyak aktor yang membawa perspektif, solusi, dan peluang kolaborasi ke dalam agenda ini. Tantangannya sekarang adalah bagaimana berbagai gagasan tersebut dapat diterjemahkan menjadi kemitraan dan implementasi yang memberikan dampak nyata bagi perekonomian dan masyarakat,” Shinta menambahkan.

 

Dari Dialog Menuju Kolaborasi dan Aksi

Penyelenggaraan ISF 2026 mencerminkan meningkatnya perhatian dan partisipasi berbagai pemangku kepentingan terhadap agenda pertumbuhan berkelanjutan. Pada pelaksanaan forum, ISF 2026 telah mencatat lebih dari 7.000 pendaftar dari berbagai negara, di antaranya Singapura, Inggris, Malaysia, India, dan Jepang, dengan rangkaian 27 side events yang turut membangun momentum menuju forum utama.

Selain sebagai forum pertukaran gagasan, ISF 2026 diarahkan untuk membuka ruang bagi kemitraan, peluang investasi, inovasi, dan rekomendasi kebijakan yang dapat mendukung agenda pembangunan berkelanjutan di tingkat nasional, regional, maupun global.

Dengan mempertemukan perspektif pemerintah, dunia usaha, investasi, teknologi, dan pembangunan, ISF 2026 menempatkan keberlanjutan sebagai bagian integral dari strategi pertumbuhan, untuk membangun ekonomi yang lebih kompetitif, tangguh, inklusif, dan mampu menciptakan nilai jangka panjang.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya