Liputan6.com, Jakarta - Harga perak PT Aneka Tambang Tbk (Antam) menguat pada perdagangan Rabu, (7/10/2026). Kenaikan harga perak Antam hari ini mengikuti harga emas Antam dan berlawanan dengan harga perak dunia.
Mengutip laman logammulia.com, harga perak Antam hari ini naik Rp 300 menjadi Rp 41.200. Pada perdagangan sebelumnya, harga perak Antam ditetapkan Rp 40.900.
Advertisement
Antam menawarkan perak batangan 250 gram, 500 gram dan perak butiran murni 99,95%. Harga perak batangan 250 gram dibanderol Rp 10.825.000 dan perak batangan 500 gram ditetapkan Rp 20.725.000.
Lalu bagaimana harga perak dunia?
Mengutip tradingeconomics.com, harga perak dunia turun 0,75% menjadi US$ 60,87.
Harga perak turun di ke bawah US$ 61 per ons pada Rabu pekan ini, memangkas kenaikan dari sesi sebelumnya. Hal ini seiring dengan pemulihan harga minyak akibat risiko berkelanjutan terhadap pasokan dari Timur Tengah, yang terus menyoroti risiko inflasi dan kekhawatiran akan kenaikan suku bunga.
Harga minyak menguat karena Iran meningkatkan serangan terhadap kapal tanker di Selat Hormuz dalam beberapa hari terakhir, sementara pasukan Arab Saudi terus terlibat bentrokan dengan kelompok Houthi.
Imbal hasil obligasi pemerintah AS (Treasury) juga tetap berada di dekat level tertinggi dalam beberapa dekade di tengah kekhawatiran mengenai inflasi yang persisten, meningkatnya risiko fiskal, dan tingginya penerbitan utang terkait kecerdasan buatan (AI).
Sementara itu, pasar memperkirakan peluang hampir 80% Federal Reserve (the Fed) akan mempertahankan suku bunga tidak berubah bulan ini, menyusul pertumbuhan lapangan kerja pada September yang lebih lemah dari perkiraan serta revisi ke bawah terhadap data ketenagakerjaan untuk dua bulan sebelumnya.
Para investor kini menantikan risalah rapat terbaru The Fed untuk mendapatkan petunjuk lebih lanjut mengenai prospek kebijakan moneter.
Harga Emas Dunia
Sebelumnya, harga emas dunia menguat pada perdagangan Selasa, 6 Oktober 2026 (Rabu pagi Jakarta). Kenaikan harga emas itu didukung oleh terhentinya lonjakan imbal hasil atau yield obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) atau treasury dan dolar AS yang melemah.
Sementara itu, investor menantikan risalah rapat the Federal Reserve (the Fed) pada September untuk mendapatkan petunjuk baru mengenai prospek kebijakan moneternya.
Mengutip CNBC, Rabu (7/10/2026), harga emas di pasar spot naik 0,7% menjadi US$ 4.168,33 per ons. Kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Desember ditutup menguat 0,7% ke level US$ 4.187,10.
“Kami melihat adanya permintaan aset safe-haven (untuk emas) akibat gejolak di pasar obligasi Prancis dan kekhawatiran yang meningkat mengenai pasar obligasi pemerintah AS,” ujar Analis American Gold Exchange, Jim Wyckoff.
Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun sedikit turun setelah sempat mencapai level tertinggi dalam lebih dari dua dekade pada Senin pekan ini. Sementara dolar AS melemah dari level tertinggi satu tahun, sehingga membuat emas yang dihargai dalam dolar AS menjadi lebih terjangkau bagi pemegang mata uang lain.
Investor masih merasa cemas mengenai peningkatan tingkat utang pemerintah dan pelebaran defisit anggaran di beberapa wilayah zona euro, khususnya Prancis, yang mendorong kenaikan imbal hasil obligasi negara.
Investor Menantikan Risalah Rapat The Fed
Investor kini menantikan risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) September, yang dijadwalkan rilis pada Rabu, untuk mengukur kemungkinan kenaikan suku bunga lebih lanjut tahun ini.
Pasar telah mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed bulan ini setelah data pertumbuhan lapangan kerja September tercatat lebih rendah dari perkiraan.
Para pedagang kini melihat peluang kenaikan suku bunga The Fed bulan ini hanya sebesar 22%, tetapi masih memperhitungkan probabilitas sebesar 84% untuk kenaikan suku bunga pada Desember, menurut data FedWatch Tool dari CME.
Emas cenderung kehilangan daya tariknya dibandingkan aset-aset yang memberikan imbal hasil (seperti obligasi) di tengah lingkungan suku bunga tinggi.
Sementara itu, harga minyak turun karena ekspor minyak mentah Timur Tengah yang tetap kuat serta pelepasan cadangan darurat oleh negara-negara G7 telah meredakan kekhawatiran mengenai pasokan.
"Terlepas dari hambatan jangka pendek, aksi beli ETF yang terus berlanjut serta permintaan dari investor diskresioner tetap memberikan dukungan bagi emas. Kami mempertahankan pandangan bahwa logam mulia ini akan bergerak melampaui level $5.000 per ons pada tahun 2027,” ungkap para analis TD Securities dalam sebuah catatan.