Liputan6.com, Jakarta - Pimpinan Pusat Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (PP ISNU) mendorong kader perempuan untuk adaptif terhadap perkembangan teknologi, khususnya kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Upaya itu dilakukan melalui kegiatan Literasi Digital Seri 2 bertema “AI for Productivity” yang digelar di bawah koordinasi Ketua PP ISNU Bidang Penguatan Perempuan dan Advokasi Perlindungan Pekerja Perempuan, Zainun Nasihah Ghufron.
Advertisement
Kegiatan tersebut tidak sekadar mengenalkan teknologi AI kepada kader perempuan ISNU. Lebih jauh, forum ini diarahkan untuk memberikan wawasan agar perempuan mampu membaca perubahan teknologi sekaligus memanfaatkannya untuk meningkatkan produktivitas dalam berbagai bidang kehidupan, baik dalam pekerjaan, organisasi, maupun proses pembelajaran.
Zainun Nasihah Ghufron menekankan pentingnya perempuan terus mengembangkan kapasitas intelektual di tengah perubahan teknologi yang berlangsung begitu cepat. Menurutnya, perkembangan AI harus direspons dengan penguatan literasi sehingga kader perempuan tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu memahami perubahan paradigma yang menyertainya.
“Perempuan perlu membangun ulang struktur epistemologi dalam rangka memperkuat literasi. Kita harus mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi, tetapi tetap memiliki pijakan yang kuat pada tradisi keilmuan Ahlussunnah wal Jamaah,” ujar Zainun Nasihah.
Menurut dia, kemampuan beradaptasi dengan teknologi tidak berarti harus meninggalkan tradisi keilmuan yang telah menjadi fondasi intelektual warga Nahdlatul Ulama. Justru, perkembangan teknologi harus menjadi ruang baru untuk memperluas proses belajar dan memperkuat kontribusi perempuan di tengah masyarakat.
“Belajar harus menjadi way of life. Artinya, belajar tidak berhenti pada ruang kelas atau forum formal, tetapi menjadi bagian dari kehidupan. Dengan cara itu, kader perempuan akan selalu siap menghadapi perubahan zaman. Jadi, bagaimana AI ini bisa menjadi alat untuk tetap mempersatukan kebinekaan dan memperkuat hubungan kemanusiaan antaranak bangsa," tuturnya.
Kegiatan Literasi Digital Seri 2 tersebut diawali dengan prolog yang disampaikan Sahabat Legislatif, Hindun Anisah, Legislator asal PKB itu memberikan pengantar mengenai pentingnya perempuan memiliki kemampuan literasi dan kesiapan menghadapi perubahan teknologi yang semakin memengaruhi berbagai sektor kehidupan.
Hindun menegaskan bahwa AI dapat dimanfaatkan untuk memperkuat persatuan dan meneguhkan identitas kebangsaan sebagai satu Indonesia.
Karena itu, teknologi tersebut perlu digunakan untuk mengambil manfaat yang positif dan produktif, bukan untuk menyebarkan konspirasi, provokasi, atau informasi yang dapat memecah belah masyarakat.
Peserta pelatihan juga diingatkan agar tidak menerima informasi dari AI secara mentah dan mudah percaya. Menurut dia, keandalan informasi sangat bergantung pada data serta pihak yang memasukkannya ke dalam sistem.
Oleh sebab itu, literasi digital perlu diperkuat agar kader mampu memeriksa informasi secara kritis dan memastikan bahwa pemanfaatan AI tetap berpijak pada nilai-nilai positif Ahlussunnah wal Jamaah.
Selain itu, pesan-pesan positif mengenai ISNU, Nahdlatul Ulama, dan pesantren perlu diperbanyak dalam ruang digital, termasuk melalui pemanfaatan AI untuk produktivitas.
"Upaya tersebut diharapkan dapat mencegah munculnya narasi negatif atau keliru tentang NU dan pesantren, sekaligus memperkenalkan kontribusi keduanya kepada masyarakat luas di Indonesia maupun dunia," ujar Hindun.
Pemateri utama dalam kegiatan kali ini adalah Sekretaris Umum ISNU, Wardi Taufik, bersama pegiat digital Fakhry Rofiqi.
Keduanya memberikan perspektif mengenai pemanfaatan AI secara produktif, termasuk bagaimana teknologi tersebut dapat menjadi alat bantu dalam pekerjaan, pengembangan pengetahuan, komunikasi, maupun aktivitas organisasi.
Melalui Literasi Digital Seri 2 ini, PP ISNU berharap kader dan anggotanya semakin siap menghadapi transformasi digital tanpa kehilangan akar tradisi intelektualnya. Selain itu, kader ISNU diharapkan bisa terus bersaing di era digitalisasi saat ini.
"Untuk urusan AI, Indonesia saat ini punya PR mengejar Malaysia, Singapura, dan Vietnam. Untuk itu SDM Indonesia bisa mengejarnya dengan konversi agar mengejar STEM," Wardi menandaskan.