Liputan6.com, Jakarta - Ledakan investasi kecerdasan buatan (AI) global ternyata memberikan keuntungan bagi sejumlah negara di Asia Timur dan Pasifik. Namun, manfaat tersebut belum sepenuhnya berasal dari penggunaan AI di dalam negeri.
Bank Dunia mencatat beberapa negara di kawasan mendapatkan keuntungan dari meningkatnya produksi dan ekspor barang berteknologi tinggi yang menopang perkembangan AI secara global.
Advertisement
Kondisi ini menjadi peluang bagi Indonesia. Dengan posisi sebagai salah satu ekonomi besar di kawasan, Indonesia tidak hanya berpeluang masuk dalam rantai pasok barang yang berkaitan dengan AI, tetapi juga perlu memperluas penggunaan teknologi tersebut di dalam negeri.
Laporan Pembaruan Ekonomi Bank Dunia menyebut adopsi AI oleh individu dan perusahaan di kawasan memang terus meningkat. Namun, tingkat penggunaannya masih tertinggal dibandingkan negara-negara maju.
Sejumlah kendala masih menjadi penghambat, mulai dari biaya yang tinggi, keterbatasan keahlian, hingga persoalan keamanan dan privasi.
Wakil Presiden Bank Dunia untuk Asia Timur dan Pasifik Carlos Felipe Jaramillo mengatakan integrasi kawasan dalam rantai nilai global membuat Asia Timur dan Pasifik berada dalam posisi strategis untuk mendapatkan manfaat dari perkembangan AI.
“Integrasi mendalam kawasan Asia Timur dan Pasifik pada rantai nilai global serta dinamika ekonominya telah menempatkan kawasan ini pada posisi yang tepat untuk memperoleh manfaat dari lonjakan aktivitas global terkait AI,” kata Carlos Felipe Jaramillo.
Tantangannya Bukan Sekadar Memproduksi Barang AI
Bank Dunia menilai tantangan berikutnya bagi kawasan adalah mengubah posisi sebagai produsen barang pendukung AI menjadi pengguna teknologi yang lebih luas.
Dengan cara tersebut, AI tidak hanya meningkatkan ekspor dan investasi, tetapi juga produktivitas perusahaan dan kualitas pekerjaan.
“Tantangannya saat ini adalah mengubah keunggulan kawasan ini dalam memproduksi barang-barang terkait AI menjadi adopsi AI yang luas, yang dapat meningkatkan produktivitas dan menciptakan lapangan kerja yang lebih banyak dan lebih baik bagi jutaan orang. Jika negara-negara EAP bertindak berani sekarang, AI dapat menjadi mesin yang kuat untuk membuka peluang, meningkatkan pendapatan, dan mewujudkan masa depan yang lebih sejahtera bagi semua.”
Bank Dunia menyebut sebagian besar negara di kawasan dapat memperoleh manfaat terbesar dalam jangka pendek melalui “AI Kecil”. Konsep ini berarti mengadopsi dan menyesuaikan teknologi AI yang sudah tersedia agar sesuai dengan kebutuhan lokal.
Teknologi tersebut dapat diterapkan pada berbagai sektor, termasuk pariwisata dan agribisnis.
Untuk mempercepat adopsi, negara perlu memperkuat infrastruktur digital dan energi, menyediakan pembiayaan, serta meningkatkan keterampilan tenaga kerja.
Indonesia juga memiliki peluang dari perkembangan ekonomi digital ASEAN. Melalui kerja sama Digital Economic Framework Agreement (DEFA), ekonomi digital kawasan diperkirakan meningkat dari sekitar US$1 triliun menjadi US$2 triliun.
Dengan porsi sekitar 40% ekonomi ASEAN, Indonesia dinilai memiliki posisi strategis untuk menjadi salah satu penggerak pertumbuhan ekonomi digital kawasan.