Bank Dunia Ungkap Dampak Kecerdasan Buatan ke Pekerjaan di Asia Pasifik

Bank Dunia melihat kecerdasan buatan belum banyak menggantikan pekerjaan di Asia Pasifik, tetapi mulai mengubah keterampilan yang dicari perusahaan.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 06 Oktober 2026, 15:40 WIB
Wakil Presiden Bank Dunia untuk Asia Timur dan Pasifik Carlos Felipe Jaramillo. (Dok World Bank)

Liputan6.com, Jakarta - Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) mulai mengubah dunia kerja di Asia Timur dan Pasifik. Namun, perubahan tersebut belum terlihat dalam bentuk penghilangan pekerjaan secara besar-besaran.

Laporan Pembaruan Ekonomi Bank Dunia untuk kawasan Asia Timur dan Pasifik (EAP) menyebut AI sejauh ini belum memberikan dampak signifikan terhadap pekerjaan yang dapat diotomatisasi. Meski demikian, teknologi ini mulai mengubah pola keterampilan yang dibutuhkan perusahaan.

Perusahaan kini semakin mencari pekerja yang memiliki kemampuan di bidang AI, sekaligus menguasai kemampuan analitis dan keterampilan sosial.

Perubahan tersebut terjadi ketika adopsi AI terus meluas di kawasan. Bank Dunia memproyeksikan ekonomi Asia Timur dan Pasifik tumbuh 4,5% pada 2026.

Namun, kemampuan pekerja di kawasan untuk menjalankan pekerjaan yang membutuhkan pemikiran dan penilaian kompleks masih relatif terbatas.

Hanya 13% pekerjaan di kawasan Asia Timur dan Pasifik yang masuk kategori pekerjaan yang membutuhkan kemampuan tersebut. Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan negara-negara maju yang mencapai 39%.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa tantangan AI bagi kawasan bukan hanya soal apakah teknologi akan menggantikan manusia, tetapi juga bagaimana pekerja dapat beradaptasi dengan perubahan kebutuhan perusahaan.

 

 

Pekerja Harus Beradaptasi dengan Era AI

Wakil Presiden Bank Dunia untuk Asia Timur dan Pasifik Carlos Felipe Jaramillo mengatakan kawasan tersebut sebenarnya memiliki modal penting untuk mendapatkan manfaat dari perkembangan AI.

“Integrasi mendalam kawasan Asia Timur dan Pasifik pada rantai nilai global serta dinamika ekonominya telah menempatkan kawasan ini pada posisi yang tepat untuk memperoleh manfaat dari lonjakan aktivitas global terkait AI,” kata Carlos Felipe Jaramillo, Selasa (6/10/2026).

Menurutnya, tantangan berikutnya adalah memastikan keunggulan kawasan dalam memproduksi barang terkait AI juga diikuti penggunaan teknologi tersebut secara luas.

“Tantangannya saat ini adalah mengubah keunggulan kawasan ini dalam memproduksi barang-barang terkait AI menjadi adopsi AI yang luas, yang dapat meningkatkan produktivitas dan menciptakan lapangan kerja yang lebih banyak dan lebih baik bagi jutaan orang. Jika negara-negara EAP bertindak berani sekarang, AI dapat menjadi mesin yang kuat untuk membuka peluang, meningkatkan pendapatan, dan mewujudkan masa depan yang lebih sejahtera bagi semua.”

Bank Dunia menilai negara-negara di kawasan tidak harus langsung menciptakan teknologi AI sendiri. Dalam jangka pendek, manfaat terbesar justru dapat diperoleh melalui “AI Kecil”, yakni mengadopsi dan menyesuaikan teknologi yang sudah tersedia.

Penggunaan AI yang lebih terjangkau dan berbasis bahasa lokal dapat dikembangkan di sektor seperti pariwisata dan agribisnis yang mampu menyerap banyak tenaga kerja.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya