Potensi Energi Terbarukan Indonesia 3.700 GW, Tapi Baru Tergarap 15,4 GW

Menteri Investasi Rosan Roeslani mengungkapkan potensi energi terbarukan Indonesia mencapai 3.700 GW, namun baru dimanfaatkan sekitar 15,4 GW.

oleh Immanuel ChristianDiterbitkan 06 Oktober 2026, 14:15 WIB
Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Rosan Roeslani. (Foto: Liputan6.com/Arief RH)

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Roeslani mengungkap potensi energi terbarukan Indonesia mencapai sekitar 3.700 GW. Namun, baru sebagian kecil yang dimanfaatkan untuk pembangkit listrik.

Rosan mengatakan kapasitas energi terbarukan yang telah digunakan Indonesia baru sekitar 15,4 GW dari total potensi tersebut. Kondisi ini menunjukkan masih terbukanya ruang investasi yang sangat besar di sektor energi bersih.

“Potensi energi terbarukan kita kurang lebih 3.700 GW, yang baru kita gunakan sekitar 15,4 GW,” ujar Rosan Roeslani dalam wawancara di Indonesia Sustainability Forum (ISF) 2026 di Jakarta, Selasa (6/10/2026).

Rosan menjelaskan pemerintah kini memprioritaskan pengembangan energi surya dengan target kapasitas mencapai 100 GW. Pemerintah juga akan mengandalkan energi surya untuk menggantikan pembangkit listrik tenaga diesel yang tidak efisien.

Pemerintah menargetkan penggantian pembangkit diesel dengan kapasitas sekitar 13 GW secara bertahap melalui pengembangan pembangkit tenaga surya. Langkah tersebut sekaligus membuka peluang investasi baru dalam pengembangan energi bersih.

 

Butuh Koordinasi Kuat

Rosan menambahkan, percepatan pemanfaatan energi terbarukan membutuhkan koordinasi yang lebih kuat setelah pemerintah membentuk kementerian koordinator baru yang menangani hilirisasi dan transisi energi.

“Dengan adanya kementerian koordinator baru untuk hilirisasi dan transisi energi, saya rasa ini akan membuat pekerjaan kita lebih komprehensif dan implementasinya bisa lebih cepat,” kata Rosan.

Pengembangan energi terbarukan dinilai menjadi bagian penting dari strategi hilirisasi karena industri membutuhkan sumber energi yang lebih bersih untuk menghasilkan nilai tambah secara berkelanjutan.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya