Liputan6.com, Jakarta - Presiden AS Donald Trump menandatangani keputusan eksekutif pada Senin (5/10/2026) untuk memperluas akses solar bebas pajak. Langkah ini sebelumnya sempat ia pamerkan saat berpidato di panggung kampanye Nebraska.
Langkah darurat ini diambil setelah harga solar meroket hingga menyentuh rekor USD 6,50 per galon bulan lalu. Kenaikan harga ini jadi sinyal bahaya bagi Trump menjelang pemilu sela AS pada 3 November mendatang, di mana dominasi Partai Republik di Senat dan DPR AS sedang dipertaruhkan.
Advertisement
Melambungnya harga solar, bahan bakar utama truk logistik terjadi akibat perang AS-Israel melawan Iran dan invasi Rusia ke Ukraina. Kedua konflik besar ini memicu gelombang serangan terhadap kilang-kilang minyak di kawasan Timur Tengah dan Rusia.
Lewat aturan baru ini, Trump menghapus syarat khusus penggunaan off-road untuk solar bebas pajak. Artinya, masyarakat umum kini diperbolehkan membeli solar berpewarna merah (dyed diesel), yang tadinya cuma boleh dipakai oleh sektor pertanian dan kendaraan non-jalan raya.
"Saya berharap kita tidak perlu menggunakan kebijakan ini terlalu lama," ujar Trump dikutip dari Yahoo Finance, Selasa (6/10/2026).
Perintah Trump untuk Jajaran Menteri
Gedung Putih memerintahkan Menteri Keuangan dan Kepala Pentagon untuk menangguhkan pajak cukai federal atas penggunaan solar berpewarna di jalan raya hingga akhir tahun, tanpa bunga maupun denda. Mereka juga diminta mencari celah hukum untuk menghapus tagihan pajak yang ditangguhkan tersebut.
Selain itu, Menteri Pertanian diminta menjaga pasokan solar berpewarna bagi para petani di daerah dengan permintaan tinggi. Di saat bersamaan, Menteri Perhubungan bertugas mengoordinasikan kelancaran distribusinya bersama pemerintah daerah, pimpinan industri, dan serikat buruh.
Dukungan G7 dan Anjloknya Popularitas Trump
Pekan lalu, negara-negara anggota G7 sepakat menggelontorkan 100 juta barel cadangan solar. Langkah ini diambil usai Trump menekan mereka dengan ancaman akan melarang ekspor solar dari AS. Namun, belum dipastikan berapa banyak pasokan yang benar-benar baru dari jumlah tersebut.
Kebijakan darurat ini diambil saat tingkat kepuasan publik (approval rating) terhadap Trump tertahan di angka terendah sepanjang sejarahnya, yakni 32%, menurut survei Reuters/Ipsos pada Senin. Warga AS makin tercekik oleh tingginya biaya hidup akibat lonjakan harga bensin dan solar di tengah perang dengan Iran.