Ini Satu Pertanyaan yang Tidak Harus Dijawab Saat Wawancara Kerja

Perekrut kini didorong untuk tidak menanyakan hal ini pada saat melakukan wawancara kerja.

oleh Cahya Alena FauzaDiterbitkan 05 Oktober 2026, 18:00 WIB
Ilustrasi wawancara kerja (Dok.Unsplash)

Liputan6.com, Jakarta - Ada satu pertanyaan yang tidak wajib dijawab pada saat wawancara kerja, yakni riwayat gaji di pekerjaan sebelumnya. Pertanyaan ini dinilai membatasi gaji seseorang dari keterampilan negosiasi dan persepsi awal mereka. Sehingga, Uni Eropa melarang perusahaan untuk bertanya tentang riwayat gaji seseorang.

Melansir BBC News, Senin (5/10/2026), beberapa tahun lalu ada kampanye yang dilangsungkan untuk menghilangkan pertanyaan tentang riwayat gaji. Kampanye ini memiliki tagarnya sendiri, yakni #EndSalaryHistory (atau #HentikanRiwayatGaji).

The Fawcett Society, yang mendukung kesetaraan wanita dan gender, mengatakan pertanyaan ini berpotensi terus melanjutkan kesenjangan gaji berdasarkan gender, ras, dan disabilitas.

Recruitment and Employment Confederation (Konfederasi Perekrutan dan Ketenagakerjaan) mendukung gerakan tersebut, serta mendorong perekrut untuk berhenti menanyakan riwayat gaji seseorang. Pertanyaan ini akan dilarang di Uni Eropa seiring dengan peraturan baru yang diberlakukan di blok tersebut.

Namun, peraturan baru ini belum dilangsungkan di Inggris, yang berfokus mengarahkan perekrut untuk mencantumkan informasi gaji di lowongan pekerjaan.

Maka, bagaimana cara perekrut dan pelamar menanggapinya?

Ini yang Boleh Ditanyakan oleh Perusahaan

Saat melakukan wawancara atau menentukan pekerja baru, perekrut tidak boleh mendiskriminasi atas karakteristik tertentu, termasuk usia, disabilitas, perubahan gender, pernikahan dan ikatan sipil, kehamilan dan persalinan, ras, kepercayaan, seks, dan orientasi seksual.

Terkadang, perekrut dan pelamar cenderung menghindari topik uang.

Namun, seorang penasihat senior di Layanan Konsultasi dan Mediasi di Tempat Kerja (Acas), Louise Rudd, mengatakan tidak ada regulasi yang melarang perekrut bertanya tentang gaji saat ini atau ekspektasi gaji.

Dia mengatakan, perekrut boleh menanyakan setiap pelamar pertanyaan tersebut ke semua orang agar semuanya diperlakukan dengan adil.

Bagaimana Cara Terbaik untuk Menjawab?

Perekrut kini didorong untuk tidak menanyakan hal ini pada saat melakukan wawancara kerja. Credit: unsplash.com/Christina

Saat melamar pekerjaan baru, siapapun boleh mengungkap gajinya saat ini jika mau.

Beberapa orang yang diwawancara BBC News di London mengatakan mereka akan menjawab dengan gaji yang lebih besar agar diberi gaji lebih di pekerjaan barunya. Namun, risiko berbohong saat wawancara lebih besar dari kemungkinan mendapat untung.

Di sisi lain, tidak ada kewajiban untuk mengungkap gaji jika tidak ingin.

Rudd mengatakan beberapa orang mungkin lebih suka memberi tahu ekspektasi gaji, atau menjelaskan pemahaman mereka mengenai kisaran gaji untuk posisi tersebut.

Perusahaan rekrutmen seringkali mengatakan pelamar semestinya lebih fokus kepada keterampilan dan pengalaman mereka, agar itu yang dijadikan acuan gajinya, bukan riwayat gaji mereka.

Direktur kampanye di Recruitment and Employment Confederation, Shazia Ejaz, mengatakan pelamar harus menanggapi pertanyaan tentang gaji secara realistis namun percaya diri.

“Kandidat bisa berfokus untuk menunjukkan nilai yang bisa mereka berikan, keuntungan yang paling penting, dan melakukan wawancara setelah mengetahui kisaran gaji untuk posisi yang dilamar,” ujarnya.

Dia menambahkan, pelamar yang tahu kisaran gaji dan tahu kontribusinya adalah yang paling memungkinkan untuk dapat pekerjaan yang tepat.

“Pelamar yang sudah mencari tahu tentang gaji, dan bisa menjelaskan kontribusi yang bisa mereka berikan adalah kandidat terkuat untuk mendapatkan kesepakatan yang tepat,” tutur Ejaz.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya