Film Hasut Angkat Dua Wajah Manusia, Skenario 15 Tahun Tanpa Hantu

Debut Ilya Sigma hadirkan horor tanpa hantu. Film Hasut menekan lewat desain suara dan ajakan refleksi diri, berangkat dari naskah yang ditulis 15 tahun.

oleh Umar Syarifuddien SjadjaahDiterbitkan 04 Oktober 2026, 17:28 WIB
Film HASUT - Credit: © KapanLagi.com/Kinanti Kayla Putiku

Liputan6.com, Jakarta - Film Hasut menawarkan sudut pandang berbeda dalam genre horor: tanpa sosok hantu. Proyek debut penyutradaraan Ilya Sigma ini menempatkan perilaku manusia dan hasutan sebagai sumber teror, dengan empat bintang utama di lini depan cerita.

Produser Putrama Tuta menegaskan, teror di Film Hasut tidak semata mengandalkan efek kejut. Ia menyebut pengalaman menonton juga diarahkan menjadi ruang untuk mengaca diri.

"Kalau teman-teman nonton, semoga teman-teman bisa mulai bercermin juga sama diri sendiri gitu. Apakah kata-kata kita menyakiti orang lain, apakah tujuan ini kita keluarkan dapat merugikan untuk orang lain, apakah menguntungkan hanya untuk diri kita sendiri," kata Putrama.

Di balik layar, pengembangan cerita Film Hasut berangkat dari pengalaman pribadi dan proses kreatif yang panjang. Penulisan naskahnya memakan waktu hingga belasan tahun sebelum menemukan bentuk akhir yang lebih berkarakter dan relevan.


Tanpa Sosok Hantu, Ajak Refleksi Diri

Film Hasut memilih jalur horor psikologis tanpa menghadirkan penampakan makhluk gaib. Ilya Sigma, yang melakoni debut sebagai sutradara, mengarahkan cerita pada dinamika hasut-menghasut di antara manusia sebagai sumber ketegangan utama.

Putrama Tuta menyebut tim menggarap desain suara yang luar biasa untuk membangun atmosfer ngeri, namun tetap menjaga tujuan besar film sebagai pengingat untuk berkaca pada diri sendiri. Bukan sekadar menakut-nakuti, melainkan mengajak penonton mempertanyakan dampak dari kata-kata dan tindakan mereka.

Pernyataan Putrama berkelindan dengan gagasan cerita yang menempatkan pilihan manusia sebagai pemicu konflik. Dorongan untuk bertanya apakah ucapan menyakiti orang lain, apakah tujuan hanya menguntungkan diri sendiri, menjadi benang merah yang ditanamkan ke dalam pengalaman menonton.


Proses Kreatif Film Hasut: Naskah 15 Tahun

Salah satu catatan menarik dari Film Hasut adalah proses penulisan skenario yang berlangsung sekitar 15 tahun. Naskah ditulis oleh Priesnanda Dwisatria bersama Ilya Sigma, terinspirasi pengalaman pribadi Priesnanda saat mendaki gunung semasa kuliah menggunakan HT.

Priesnanda mengungkap ide awalnya masih berada di wilayah horor konvensional yang mengandalkan jumpscare.

"Kita bercerita nulis sampai sekitar 15 tahun karena waktu awalnya itu ceritanya itu sebuah horor biasa, jumpscare gitu," ujar Priesnanda.

Lanjut Baca:

Seiring waktu, draf cerita tersebut mengalami pergeseran fokus. Alih-alih bertahan pada pola lama, mereka merumuskan pendekatan yang menekankan pendalaman karakter dan keterhubungan dengan situasi masa kini. "Terus kita ini butuh sesuatu yang baru nih, sesuatu yang butuh karakter, kita butuh relevansi," tambahnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya