Korsel Investasi Rp 3.571 Triliun di AS, Trump Pamer Proyek Energi Raksasa

Trump umumkan investasi megah Korsel Rp 3.571 triliun di sektor energi AS demi pangkas tarif impor.

oleh Rachel AuliaDiterbitkan 03 Oktober 2026, 19:30 WIB
Calon presiden partai Republik Donald Trump (Wikipedia)

 

Liputan6.com, Jakarta - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan komitmen investasi energi bernilai fantastis dari Korea Selatan (Korsel) senilai US$ 200 miliar atau sekitar Rp 3.571 triliun (kurs Rp 17.890 per US$).

Melansir Yahoo Finance, Sabtu (3/10/2026), paket investasi megah ini mencakup pembangunan fasilitas Pembangkit Listrik Tenaga Gas Alam (PLTG) berkapasitas 6,4 gigawatt (GW) di Texas, delapan reaktor nuklir baru, serta proyek pipa Gas Alam Cair (LNG) di Alaska. 

Trump mengklaim agenda ini sebagai salah satu investasi infrastruktur energi terbesar dalam sejarah Negeri Paman Sam.

"Mereka (Korea Selatan) akan berinvestasi hingga US$ 200 miliar," ujar Trump dalam konferensi pers di Gedung Putih.

Salah satu sorotan utama dalam kesepakatan ini adalah fasilitas PLTG di Texas yang dinamai Project Star. Proyek bernilai US$ 22,3 miliar (sekitar Rp 398,9 triliun) tersebut digadang-gadang bakal menjadi salah satu PLTG terbesar di dunia dan ditargetkan beroperasi penuh pada 2032.

Penanaman modal jumbo ini merupakan bagian dari implementasi kerangka perjanjian perdagangan antara Washington dan Seoul yang dirancang sejak akhir 2025 dengan nilai total kesepakatan mencapai US$ 350 miliar (sekitar Rp 6.249 triliun).

Sesuai kesepakatan, Korsel berkomitmen menanamkan modal di sektor-sektor strategis AS. Sebagai imbal baliknya, pemerintah AS bersedia memangkas tarif impor untuk produk-produk asal Korea Selatan menjadi 15%

Korsel Buka Suara soal Proyek Pipa Gas Alaska

Kendati Trump memasukkan proyek pipa LNG Alaska ke dalam jajaran investasi Korsel, pemerintah Korea Selatan menegaskan bahwa keterlibatan mereka dalam proyek tersebut belum sepenuhnya final. 

Menteri Perdagangan Korea Selatan menjelaskan bahwa pihaknya masih meninjau ulang proyek LNG Alaska guna menguji kelayakan komersial serta kepatuhannya terhadap prosedur hukum yang berlaku. 

"Belum ada keputusan yang diambil mengenai apakah akan berinvestasi atau mengenai besaran investasinya," tegas sang Menteri.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya