Selamat dari 2 Kali Suntik Mati, Terpidana AS Kritis di Rumah Sakit

Terpidana mati Christa Pike selamat dari dua kali suntikan mematikan di Tennessee, AS, kini kritis di rumah sakit.

oleh Septian DenyDiterbitkan 02 Oktober 2026, 17:00 WIB
Christa Pike, terpidana mati di Tennessee, Amerika Serikat, berada dalam kondisi kritis dan menjalani perawatan untuk menyelamatkan nyawanya di rumah sakit setelah selamat dari dua kali upaya eksekusi melalui suntikan mematikan. (AFP)

Liputan6.com, Washington, DC - Christa Pike, terpidana mati di Tennessee, Amerika Serikat, berada dalam kondisi kritis dan menjalani perawatan untuk menyelamatkan nyawanya di rumah sakit setelah selamat dari dua kali upaya eksekusi melalui suntikan mematikan.

Dikutip dari BBC, Jumat (2/10/2026), insiden tersebut mendorong Gubernur Tennessee menghentikan seluruh pelaksanaan hukuman mati di negara bagian itu sepanjang tahun ini.

“Kami belum mengetahui prognosisnya atau memiliki banyak informasi terbaru mengenai kondisi kesehatannya saat ini,” kata pengacara Pike, Randy Spivey, kepada wartawan pada Kamis.

“Namun, kami tahu bahwa dia masih hidup saat ini," lanjut dia.

Tim pengacara Pike kini meminta agar hukuman mati terhadap klien mereka diubah menjadi hukuman yang lebih ringan. Pike, 50 tahun, dijatuhi hukuman mati pada 1996 atas pembunuhan Colleen Slemmer.

Menurut pengacaranya, Pike menerima dua dosis mematikan pentobarbital pada Rabu, tetapi tetap hidup. Setelah upaya eksekusi tersebut gagal, ia dibawa ke rumah sakit menggunakan ambulans.

Pike berusia 18 tahun ketika ia bersama pacarnya saat itu, Tadaryl Shipp, memukuli, menyiksa, dan membunuh Slemmer yang berusia 19 tahun.

Upaya eksekusi terhadap Pike pada Rabu diwarnai pertarungan hukum hingga menit-menit terakhir. Perselisihan tersebut berakhir setelah Mahkamah Agung Amerika Serikat mengizinkan penyuntikan zat mematikan tetap dilaksanakan.

Ibu Slemmer, May Martinez, termasuk di antara pihak yang menginginkan eksekusi tersebut berlangsung. Ia datang ke Tennessee untuk menyaksikannya. Setelah upaya eksekusi gagal, Martinez mengatakan kepada NBC News bahwa kejadian tersebut “berantakan”.

Pengacara Ungkap Kesulitan Pemasangan Infus

Pada Kamis sore, pengacara Pike mengungkapkan lebih banyak detail mengenai proses eksekusi yang gagal tersebut. Mereka menggambarkan situasi yang mengkhawatirkan dan berlangsung dalam kondisi tertutup.

“Tim eksekusi berupaya memasang jalur infus selama satu jam tadi malam,” kata Spivey.

“Saya menghitung setidaknya tujuh jarum yang digunakan hanya pada lengan kirinya. Salah satunya tampak bengkok ketika dicabut dari lengannya setelah upaya yang tidak berhasil,” lanjutnya.

Spivey mengatakan para pengamat ditempatkan di sebuah ruangan gelap di balik tirai tertutup setelah dosis kedua zat mematikan diberikan. Beberapa menit kemudian, Pike masih terlihat bernapas.

“Tidak seorang pun tahu apa yang sedang terjadi di balik tirai itu,” kata Spivey. “Saya tidak tahu kapan, atau apakah, tenaga medis mulai memberikan bantuan.”

Spivey mengatakan gubernur negara bagian harus mengubah hukuman mati Pike menjadi hukuman yang lebih ringan. Permintaan serupa sebelumnya telah ditolak.

Pengacara Pike lainnya, Stephen Ferrell, mengatakan mereka juga sedang mempertimbangkan pilihan hukum lainnya.

“Kami ingin memikirkan hal ini secara matang dan memastikan Christa pulih serta memiliki kesempatan untuk menyampaikan keinginannya,” ujarnya.

 

Gubernur Perintahkan Penyelidikan Independen

Gubernur Tennessee, Bill Lee, telah memerintahkan peninjauan independen atas kegagalan eksekusi tersebut. Pada Kamis, ia mengatakan penyelidikan akan dilakukan secara menyeluruh, tetapi membutuhkan waktu.

“Ada banyak pertanyaan,” kata Lee.

“Rakyat negara bagian kami berhak mendapatkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut, dan itulah tujuan penyelidikan ini," jelas dia.

Lee belum menjelaskan siapa yang akan melakukan peninjauan independen terhadap prosedur pelaksanaan hukuman mati di negara bagian tersebut.

Keputusan Lee untuk menghentikan seluruh eksekusi akan berdampak pada jadwal eksekusi Gary Sutton, terpidana pembunuhan yang sebelumnya direncanakan berlangsung pada 3 Desember.

Departemen Pemasyarakatan Tennessee, yang menangani pelaksanaan eksekusi, mengeluarkan pernyataan untuk membela penanganan kasus tersebut.

Pihaknya menyatakan telah mengikuti setiap tahapan protokol eksekusi yang sah dan berlaku di negara bagian, yang telah disetujui oleh kantor kejaksaan agung.

“Bahan kimia suntikan mematikan yang tercantum dalam protokol tersebut secara konsisten efektif, dan protokol itu tidak mengizinkan prosedur tambahan di luar yang telah dilakukan malam ini,” demikian pernyataan departemen tersebut.

Berdasarkan dokumen pengadilan yang diajukan pengacara Pike, ia menerima dua dosis pentobarbital sesuai protokol negara bagian yang mengatur tindakan apabila upaya pertama gagal. Namun, ia tetap hidup setelah penyuntikan tersebut.

“Eksekusi ini menyebabkan penderitaan yang tidak perlu bagi Ms. Pike dan berlangsung dengan melanggar haknya untuk menjalani eksekusi tanpa hukuman yang kejam dan tidak biasa,” kata pengacaranya.

Kantor Kejaksaan Agung Tennessee menyatakan mendukung keputusan untuk melakukan penyelidikan.

“Kita perlu mengetahui apa yang terjadi,” demikian pernyataan kantor tersebut.

 

Senator AS Usulkan Kursi Listrik

Senator Partai Republik AS Marsha Blackburn, yang sedang mencalonkan diri sebagai gubernur Tennessee, menyebut kejadian tersebut sebagai sesuatu yang “tragis”.

Blackburn mengatakan penyelidikan menyeluruh tetap diperlukan untuk mengetahui apa yang terjadi dan mengapa prosedur tersebut gagal. Namun, ia juga mengusulkan agar penggunaan kursi listrik kembali diberlakukan.

“Jawabannya sederhana: hidupkan kembali kursi listrik,” kata Blackburn.

Sementara itu, Jerri Green dari Partai Demokrat, yang menjadi lawan Blackburn dalam pemilihan gubernur, mengkritik usulan tersebut. Ia menilai Blackburn ingin menghidupkan kembali salah satu bentuk hukuman mati yang paling kejam.

“Jika menjadi gubernur, saya akan memberlakukan moratorium terhadap seluruh eksekusi di masa mendatang,” kata Green melalui platform X.

Kegagalan eksekusi Pike menjadi insiden kedua pada 2026 ketika otoritas Tennessee berupaya mengeksekusi seorang terpidana, tetapi tidak berhasil.

Pada Mei lalu, eksekusi Tony Carruthers dibatalkan setelah petugas tidak dapat menemukan pembuluh darah untuk menyuntikkan obat mematikan. Carruthers kemudian mendapat penangguhan eksekusi selama satu tahun.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya