Review Film Lobang Buaya: Selintas Sejarah Kelam Bangsa dalam Bungkus Genre Horor-Misteri

Film ini mengisahkan tentang Letnan Soegeng (Baskara Mahendra) yang ditugaskan untuk menyelidiki peristiwa pembunuhan beruntun di Desa Lobang Buaya.

oleh Ratnaning AsihDiterbitkan 01 Oktober 2026, 17:14 WIB
Poster film Lobang Buaya. (Instagram/ dapurfilm)

Liputan6.com, Jakarta - Film terbaru Hanung Bramantyo, Lobang Buaya, rilis bertepatan dengan Hari Kesaktian Pancasila yang jatuh hari ini, Kamis (1/10/2026). Menariknya lagi, film tersebut memang menyinggung sejarah 30 September 1965, tapi dibungkus dalam kemasan genre horor dan misteri.

Kisah dibuka dengan Letnan Soegeng (Baskara Mahendra) seorang tentara yang ditugaskan untuk ikut menyelidiki peristiwa pembunuhan yang terjadi beruntun di Desa Lobang Buaya sepanjang 1964—sekitar setahun sebelum G30S. Para korban dalam cerita ditemukan tewas dengan punggung berlubang plus sayatan yang membentuk kata sindiran di tubuh mereka.

Goroh (pembohong), cengkiling (sifat keji dan penuh amarah), dan tamak, adalah beberapa kata yang ditorehkan pelaku di atas tubuh para korban, yang dikenal punya pengaruh. Mulai dari pejabat dan petugas keamanan desa, hingga kyai pemimpin pondok.

Suasana makin seram dengan kemunculan rumor sosok "Hantu Bolong", wanita dengan punggung berlubang mengiringi kejadian itu. 

Sebagian warga desa meyakini bahwa PKI, berada di balik peristiwa berdarah ini. Apalagi parpol itu punya gerakan menumpas 7 setan desa, yakni sosok yang dinilai sebagai penindas masyarakat. Tak ayal, tensi sosial desa yang kian memanas.


Teror yang Dihadapi Arum

Film Lobang Buaya. (Youtube CGV)

Di sisi lain, Letnan Soegeng tak datang ke Lobang Buaya sendirian. Bersama istri sekaligus adik angkatnya, Arum Wangi (Carissa Perusset), keduanya hendak menjemput ayah mereka yang kini tengah sakit-sakitan (Mathias Muchus).

Sang ayah, yang merupakan sosok yang disegani di desanya, begitu disayang Soegeng. Karenanya, ia bahkan tak banyak membantah ketika diminta untuk menikahi Arum, yang dibesarkan bersamanya sejak kecil. 

Namun setibanya di sana, Arum justru dihantui mendapat teror gaib dari sesosok wanita misterius. Soegeng menampik hal-hal yang bersifat mistis, tapi korban terus berjatuhan

Apakah ada hubungan antara teror ini dengan sosok Hantu Bolong di balik pembunuhan berantai Lobang Buaya?


Antara Misteri dan Horor

Film Lobang Buaya. (YouTube/ CGV)

Plot dalam Lobang Buaya bisa dibilang dipecah dalam dua fokus dan nuansa berbeda. Letnan Soegeng diarahkan untuk menghadirkan genre misteri - whodunnit.

Sang Letnan menghadirkan pendekatan prosedural dalam penyelidikan kriminal, untuk mengungkap siapa pelaku kejahatan. Menarik melihat gaya penelusuran ala detektif dibawa ke pedesaan Indonesia era 60-an, meski sebagian kesimpulan yang ia ambil terasa begitu instan--tampaknya untuk menjaga agar cerita tak kepanjangan.

Lanjut Baca:

Sementara di sisi lain, Arum menghadirkan teror mistis dalam Lobang Buaya. Formulanya cukup banyak mengandalkan jumpscare yang mengagetkan. Sementara soal level seram, tentu berbeda bagi masing-masing penonton. Kejutan besar ditampilkan Hanung ketika simpul elemen misteri dan horor bersatu. Saat kepingan puzzle mulai terbentuk, hadir sosok seorang penari bernama Ningsih (Anya Zen ) dan penabuh gendang Suraji (Khiva Iskak) yang kemudian alih profesi. Tema female rage, sesuatu yang sudah sering diangkat dalam film horor Indonesia, kembali dihadirkan. Namun di film ini, topik ini terasa begitu berdampak. Adegan Mathias Muchus dan Anya Zen dalam nuansa merah, efektif mewakili kemarahan di hati seorang wanita yang kehilangan kuasa terhadap dirinya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya