Liputan6.com, Jakarta - Jakarta Running Festival 2026 menghadirkan inovasi baru di lintasan melalui Blue Line atau Blue SPR (Shortest Possible Route). Garis biru tersebut merupakan penanda jalur terpendek yang dapat diikuti pelari selama perlombaan.
Blue Line dibuat sebagai panduan bagi pelari, khususnya mereka yang mengejar personal best (PB). Jalur tersebut telah diperhitungkan agar menjadi rute yang paling mendekati jalur resmi sehingga pelari tidak perlu banyak bergerak ke sisi kiri atau kanan untuk mencari jalur terpendek.
Advertisement
Direktur Utama PT Kelompok Lari Anak Bangsa (KLAB), Dickie Widjaja, mengatakan keberadaan Blue Line menjadi salah satu hal yang bisa langsung dirasakan para peserta. Menurutnya, pelari cukup mengikuti garis tersebut selama berada di lintasan.
"Jadi dengan shortest possible route ini, para pelari yang mengejar PB, mereka bisa menggunakan line ini sebagai guidance ketika mereka lari," ujar Dickie dalam konferensi pers Jakarta Running Festival 2026.
Blue Line Tunjukkan Jalur Terpendek
Dickie menjelaskan pelari biasanya bisa bergerak ke sisi kiri dan kanan ketika mencari jalur yang paling efisien. Dengan adanya Blue Line, peserta dapat mengikuti garis tersebut karena jalurnya sudah dihitung untuk mendekati rute resmi.
Kehadiran Blue Line menjadi bagian dari peningkatan standar Jakarta Running Festival 2026. Bagi pelari yang mengejar catatan waktu, garis tersebut dapat menjadi panduan agar tetap berada di jalur terpendek selama perlombaan.
Status Gold Label Harus Diajukan Lagi
Status Gold Label tidak berhenti setelah berhasil didapatkan pada satu penyelenggaraan. Dickie mengatakan status tersebut harus diajukan kembali setiap tahun dan laporan penyelenggaraan sebelumnya akan menjadi bahan penilaian.
"Tahun depan dia akan melihat rapornya kita. Apakah boleh, stay, atau harus turun, atau harus bisa naik," kata Dickie. Hasil penilaian tersebut nantinya menentukan status Gold Label pada penyelenggaraan berikutnya.
Selain standar penyelenggaraan, Jakarta Running Festival 2026 juga berpotensi menghadirkan persaingan ketat di nomor Half Marathon. Dickie menyebut pihaknya menduga ajang tahun ini bisa menjadi half marathon tercepat di Indonesia berdasarkan catatan waktu atlet elite yang diundang.
Pelari Elite Jadi Tantangan
Dickie mengungkapkan salah satu pelari elite yang diundang memiliki catatan waktu sekitar 58 menit untuk half marathon. Kecepatan tersebut membuat penyelenggara memperkirakan persaingan di nomor tersebut akan berlangsung ketat.
Kehadiran atlet elite juga memberi kesempatan bagi peserta lain untuk melihat langsung kemampuan pelari di level tersebut. Menurut Dickie, standar yang dibawa JRF 2026 bukan hanya dirasakan penyelenggara, tetapi juga para pelari yang ikut berlomba.