Israel Disebut Lakukan 5.147 Pelanggaran Gencatan Senjata

Kantor Media Pemerintah Gaza melaporkan Israel melakukan 5.147 pelanggaran gencatan senjata sejak 10 Oktober 2025.

oleh Septian DenyDiterbitkan 01 Oktober 2026, 16:00 WIB
Interior bangunan tempat tinggal yang rusak terlihat setelah serangan Israel di Kota Gaza. (Omar AL-QATTAA/AFP)

Liputan6.com, Tel Aviv - Israel disebut telah melakukan 5.147 pelanggaran terhadap kesepakatan gencatan senjata di Gaza yang berlaku sejak 10 Oktober 2025. Menurut Kantor Media Pemerintah Gaza, pelanggaran tersebut menyebabkan 1.421 warga Palestina tewas.

Dikutip dari Anadolu, Kamis (1/10/2026), kantor tersebut memperingatkan kondisi kemanusiaan di Gaza semakin mengkhawatirkan, terutama menjelang musim dingin.

“Kondisi kemanusiaan dan bantuan di Jalur Gaza telah menjadi berbahaya dan sangat buruk, yang membuat ratusan ribu warga Palestina yang mengungsi menghadapi konsekuensi mematikan,” kata Kantor Media Pemerintah Gaza dalam sebuah pernyataan.

Kantor tersebut juga membantah klaim Israel bahwa pasokan dalam jumlah memadai telah diizinkan masuk ke Gaza. Klaim itu disebut “menyesatkan”.

“Israel hanya mengizinkan 35% dari jumlah truk yang disepakati untuk membawa bantuan kemanusiaan dan bantuan darurat serta material rekonstruksi memasuki wilayah tersebut,” kata kantor itu.

Menurutnya, hanya 72.826 truk yang diizinkan masuk dari total 210.600 truk yang seharusnya membawa bantuan kemanusiaan, bantuan darurat, dan material rekonstruksi berdasarkan kesepakatan.

Selain itu, hanya 13.785 orang yang dapat keluar atau masuk Gaza dari sekitar 35.000 orang yang diperkirakan akan melakukan perjalanan. Angka tersebut menunjukkan tingkat kepatuhan tidak lebih dari 39%, menurut Kantor Media Pemerintah Gaza.

Kerusakan Meluas

Pada Senin, citra terbaru di Google Maps memperlihatkan perubahan drastis pada lanskap perkotaan Gaza. Kerusakan tidak hanya terlihat pada bangunan-bangunan individual, tetapi juga meluas ke seluruh blok permukiman.

Kawasan yang sebelumnya merupakan lingkungan padat penduduk kini berubah menjadi area kosong yang luas.

Penilaian satelit terbaru dari Pusat Satelit Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNOSAT) menemukan lebih dari 201.000 bangunan mengalami kerusakan. Jumlah tersebut setara dengan 82% dari seluruh bangunan di Jalur Gaza.

Dalam kondisi tersebut, banyak warga Palestina masih tinggal di tenda, tempat penampungan sementara, atau bangunan yang rusak. Situasi itu diperburuk oleh keterbatasan material untuk tempat tinggal serta kesulitan memperbaiki rumah menjelang musim hujan.

PBB memperkirakan 1,98 juta warga Palestina di Gaza membutuhkan bantuan terkait tempat tinggal, dari total populasi sekitar 2,1 juta orang.

Layanan dasar juga masih menghadapi tekanan berat. PBB memperkirakan 91% rumah tangga yang masuk dalam penilaian terbaru mengalami tingkat kerawanan air sedang hingga parah.

Sementara itu, sektor kesehatan masih beroperasi dengan kapasitas terbatas akibat kerusakan rumah sakit serta kekurangan peralatan dan pasokan medis.

Upaya Pemulihan Berlanjut

Warga bersama anggota Komite Internasional Palang Merah (ICRC) berkumpul di lokasi di mana orang-orang sedang menggali dengan ekskavator untuk mencari korban serangan Israel di antara reruntuhan bangunan di Khan Yunis, bagian selatan Jalur Gaza. (Omar AL-QATTAA/AFP)

Upaya pemulihan tetap berjalan meski dampak perang masih terasa dan korban jiwa terus dilaporkan setelah gencatan senjata mulai berlaku pada 10 Oktober 2025.

Sejak Oktober 2023, tentara Israel telah menewaskan lebih dari 74.000 orang dan melukai lebih dari 175.000 orang dalam perang yang disebut sebagai genosida tersebut, yang juga menyebabkan seluruh Jalur Gaza mengalami kehancuran.

Pada Agustus, sebuah komite Palestina independen yang ditugaskan mengelola urusan Gaza menggelar pertemuan dengan sejumlah badan PBB. Pertemuan itu dilakukan untuk mengoordinasikan rencana pemulihan awal dan mengidentifikasi langkah-langkah prioritas.

Upaya tersebut merupakan bagian dari proses untuk beralih dari respons kemanusiaan darurat menuju pemulihan layanan dan pembangunan kembali Gaza.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya