Harga Perak Antam Hari Ini 30 September 2026 Naik Rp 500

Berikut harga perak PT Aneka Tambang Tbk (Antam) saat harga perak dunia melemah pada Rabu, (30/9/2026).

oleh Agustina MelaniDiterbitkan 30 September 2026, 11:38 WIB
(Ilustrasi perak-silver by AI)

Liputan6.com, Jakarta - Harga perak PT Aneka Tambang Tbk (Antam) menguat pada perdagangan Rabu, (30/9/2026). Harga perak Antam hari ini naik mengikuti harga emas Antam dan berlawanan arah dengan harga perak dunia.

Mengutip laman logammulia.com, harga perak Antam hari ini naik Rp 500 menjadi Rp 41.300 dari perdagangan sebelumnya Rp 40.800. Antam menawarkan perak batangan 250 gram, 500 gram dan perak butiran murni 99,95%. Adapun harga perak batangan 250 gram sebesar Rp 10.850.000 dan perak batangan 500 gram ditetapkan Rp 20.775.000.

Lalu bagaimana harga perak dunia?

Mengutip laman tradingeconomics.com, harga perak dunia merosot 0,67% menjadi US$ 61,04.

Harga perak berada di kisaran US$ 61 per ons pada Rabu pekan ini menghentikan penurunan baru-baru ini berkat dukungan dari harga minyak yang turun, meski tekanan akibat imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat masih tinggi terus berlanjut.

Harga minyak merosot tajam di tengah tanda-tanda membaiknya aliran energi dari Timur Tengah dan menyusul pelepasan cadangan darurat dalam jumlah besar lainnya di AS. Sementara itu, logam mulia masih tertekan oleh kenaikan imbal hasil Treasury. Imbal hasil obligasi AS tenor 30 tahun sempat melonjak hingga 5,62%, mencapai level tertinggi sejak Juni 2002.

Kekhawatiran akan inflasi yang terus dipicu oleh harga energi, ditambah dengan pernyataan bernada hawkish dari para pejabat Federal Reserve, turut mendorong kenaikan imbal hasil tersebut.

Presiden Federal Reserve New York, John Williams, pada Selasa menyatakan, kenaikan suku bunga lanjutan pada "akhir tahun ini" mungkin tepat dilakukan, sembari mencatat konflik di Timur Tengah dan perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence) tetap menjadi faktor utama pendorong tingginya inflasi. Perak diperkirakan mencatat penurunan hampir 8% sepanjang September.

Harga Emas Dunia

Ilustrasi harga emas dunia. (Gambar by AI)

Sebelumnya, harga emas menguat 1% pada perdagangan Selasa, 29 September 2026 (Rabu pagi Jakarta). Akan tetapi, harapan kebijakan moneter lebih ketat oleh the Federal Reserve (the Fed) yang didorong kekhawatiran inflasi menahan harga emas tetap berada di dekat level terendah dalam lebih dari tujuh minggu yang dicapai pada sesi sebelumnya.

Mengutip CNBC, Rabu (30/9/2026), harga emas spot naik 1,1% menjadi US$ 4.157,39 per ons pada pukul 09.30 pagi waktu setempat (13.30 GMT). Level terendah pada perdagangan Selasa di posisi US$ 4.112,97, hanya sedikit di atas level terendah lebih dari tujuh bulan sebesar US$ 4.110,55, yang tercatat pada Senin pekan ini.

Sedangkan kontrak berjangka emas AS naik 0,5% menjadi US$ 4.189,60.

“Pergerakan hari ini hanyalah koreksi dari penurunan kemarin. Saya masih berpendapat ada hambatan yang cukup signifikan bagie mas saat ini,” ujar Vice President dan Senior Metals Strategist Zaner Metals, Peter Grant.

Emas turun hampir 4% pada sesi sebelumnya dan berada di level terendah sejak 5 Agustus, tertekan oleh penguatan dolar AS, kenaikan imbal hasil (yield) obligasi Treasury, harga energi, serta kekhawatiran inflasi yang memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga.

"Ekspektasi yang meningkat akan adanya lebih banyak kenaikan suku bunga The Fed menjaga dolar tetap kuat, sementara imbal hasil obligasi tetap tinggi. Menurut saya, potensi kenaikan harga mungkin agak terbatas hari ini, dan pasar akan tetap fokus pada data inflasi PCE besok serta data ketenagakerjaan pada Jumat," kata Grant.

 

 

Dolar AS Menguat

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus menguat, Jakarta, Kamis (23/10/2014) (Liputan6.com/Johan Tallo)

Nilai tukar dolar AS menguat dan menguji level tertinggi dalam beberapa bulan, didorong oleh volatilitas harga minyak dan kenaikan pesat imbal hasil obligasi Treasury baru-baru ini.

Dolar AS yang lebih kuat membuat emas yang diperdagangkan dalam mata uang AS menjadi lebih mahal bagi pembeli luar negeri, sementara imbal hasil obligasi Treasury yang lebih tinggi meningkatkan biaya peluang (opportunity cost) untuk memegang emas yang tidak memberikan imbal hasil (yield).

Di sisi lain, kenaikan harga energi dapat memicu inflasi dan memaksa bank sentral mempertahankan suku bunga tinggi guna meredam tekanan harga.

Emas secara tradisional dianggap sebagai lindung nilai terhadap inflasi, tetapi cenderung kehilangan daya tariknya dibandingkan aset-aset yang memberikan imbal hasil (seperti obligasi) di tengah lingkungan suku bunga tinggi. Menurut FedWatch Tool dari CME, pasar saat ini memperkirakan adanya probabilitas sebesar 70% untuk kenaikan suku bunga The Fed pada Oktober dan peluang sebesar 95% untuk kenaikan pada Desember.

Para investor menantikan data ekonomi penting, termasuk data ketenagakerjaan ADP dan data PCE yang dijadwalkan rilis pada Rabu, serta data nonfarm payrolls pada Jumat.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya