Liputan6.com, Jakarta - Kemacetan arus lalu lintas di jalur Pantura Banyuwangi yang membentang dari kawasan Wisata Watudodol hingga Pelabuhan Ketapang menimbulkan kerugian bagi masyarakat.
Kondisi ini tidak hanya menghambat mobilitas, tetapi juga membuat biaya logistik para sopir truk membengkak. Pasalnya, mereka terpaksa menghabiskan waktu berjam-jam di jalan sehingga terjadi pemborosan konsumsi bahan bakar.
Advertisement
Roni (30), sopir truk tronton logistik, mengaku sudah tertahan sejak pukul 07.00 WIB di kawasan Watudodol dan belum juga mencapai Pelabuhan Ketapang setelah empat jam berlalu. Dalam dua pekan terakhir, Roni mencatat dirinya sudah tiga kali terjebak dalam kemacetan serupa di jalur penyeberangan vital tersebut.
"Kami pengemudi dibuat frustrasi karena harus menunggu dalam antrean tanpa kejelasan kapan kendaraan bisa bergerak menuju pelabuhan atau kantong parkir," ujarnya, Rabu (30/9/2026).
Keluhan senada diungkapkan Dwiyanto, sopir truk pengangkut ayam potong yang berniat kembali mengambil muatan ayam dari Malang. Kemacetan horor ini mengancam jadwal pengiriman sekaligus keselamatan muatan hidup.
"Kalau masih macet, bisa-bisa nggak muat saya ini. Daripada mati semua nanti," tegas Dwiyanto, menyoroti tingginya risiko kematian pada ayam potong akibat terlalu lama tertahan di jalan.
Hingga kini, para pengemudi mengaku belum mengetahui pasti pemicu antrean panjang yang juga meluas hingga kawasan Watudodol.
Pemulihan Dipercepat
Sementara itu, PT ASDP Indonesia Ferry mempercepat proses pemulihan penyeberangan lintas Ketapang-Gilimanuk. Sebanyak 26 kapal dikerahkan secara masif dengan pola operasi dinamis untuk menuntaskan sisa antrean kendaraan logistik yang masih mengekor di sisi Ketapang.
Direktur Utama ASDP, Heru Widodo, menyampaikan permohonan maaf secara terbuka kepada para pengguna jasa atas ketidaknyamanan serta waktu tunggu yang sempat dialami selama proses pemulihan berlangsung.
"Fokus kami saat ini adalah mempercepat penguraian. Antrean secara terukur, dengan mengoptimalkan seluruh kapasitas yang tersedia tanpa mengurangi aspek keselamatan," jelas Heru.
Berdasarkan data pantauan per pukul 06.00 WIB, panjang antrean di sisi Ketapang tercatat 8,5 kilometer dengan titik ekor mencapai kawasan Pantai Sangkong dan Parasputih serta estimasi waktu tunggu sekitar 34 menit. Sementara itu, kondisi di seberang, yakni sisi Gilimanuk, Bali, terpantau nihil.
Demi mempercepat normalisasi, ASDP menerapkan strategi taktis dengan memobilisasi total 27 armada.