Sempat PHK dan Terlilit Utang, Pria Ini Bangkit Cetak Kekayaan Rp 23 Triliun

Sempat kena PHK dan rugi di usia 44 tahun, Ren Zhengfei nekat bangun Huawei dan kini jadi salah satu orang kaya dunia.

oleh Idris Rusadi PutraDiterbitkan 30 September 2026, 07:00 WIB
Ren Zhengfei. (Dok huawei.com)

Liputan6.com, Jakarta - Di usia 44 tahun, saat kebanyakan orang menikmati puncak karier, Ren Zhengfei justru berada di titik terendah hidupnya. Ia menganggur, terlilit utang akibat transaksi bisnis yang gagal, dan tak punya jaminan masa depan. Namun, keterpurukan itu tak menghentikan langkahnya.

Pria yang lahir dari keluarga guru miskin di pegunungan Guizhou, China ini bangkit dan nekat membuka usaha dengan modal 21.000 yuan (sekitar US$ 5.000). Usaha yang dirintis kini dikenal dunia sebagai Huawei.

Dikutip dari Global CEO Magazine, Rabu (30/9/2026), masa muda Ren dipenuhi perjuangan berat. Ia sempat mengenyam pendidikan teknik sipil sebelum bergabung sebagai insinyur riset di Korps Teknik Militer Tentara Pembebasan Rakyat (PLA). Momen ketidakpastian pertama menghampirinya pada 1983 ketika terjadi pengurangan personel militer secara massal. Ren terpaksa mengakhiri kariernya di militer tanpa modal besar maupun jaminan pekerjaan.

Setelah keluar dari militer, Ren sempat bekerja di BUMN pengolahan minyak di Shenzhen. Fase ini kembali mengujinya lewat gelombang PHK dan kerugian materiil akibat kegagalan bisnis. Di tengah situasi mendesak itulah, ia nekat menggalang modal bersama rekan-rekannya untuk memulai bisnis sendiri.

Dilansir dari Tech in Asia, usaha awal Ren berfokus menjadi agen perantara yang mengimpor sakelar telepon (telephone switching equipment) dari Hong Kong. Namun, Ren sadar betul bahwa sekadar menjadi calo tak akan bertahan lama. Dorongan untuk menguasai teknologi mandiri memicu Ren dan timnya beralih dari pedagang perantara menjadi produsen teknologi lewat riset independen secara masif.

Kedaulatan Riset dan Filantropi Saham Karyawan

Pemimpin Huawei: Ren Zhengfei. Dok: Time

 

Mengutip laman resmi Huawei, fokus utama Ren bukanlah menimbun harta, melainkan membuktikan kapasitas riset dan kedaulatan teknologi. Filosofi kepemimpinannya menekankan alokasi anggaran superbesar untuk divisi riset dan pengembangan (R&D). Ren berkeyakinan bahwa sebuah produk baru benar-benar berdaulat jika dirancang sendiri dari nol tanpa bergantung pada pihak luar. 

Salah satu keunikan paling mencolok dari sosok Ren Zhengfei terletak pada struktur kepemilikan sahamnya. Kendati memimpin raksasa global berkantong tebal, Ren memilih membagikan hampir seluruh saham perusahaan kepada para karyawannya lewat employee stock ownership program. Ia sendiri hanya memegang sekitar 1% saham.

Dilansir dari Forbes, kekayaan bersih Ren Zhengfei diperkirakan sekitar US$ 1,4 miliar atau sekitar Rp 23,3 triliun (kurs Rp 17.955 per US$). Angka yang relatif terukur untuk pendiri industri sebesar itu membuktikan bahwa fokus utamanya senantiasa tertuju pada keberlanjutan organisasi dan kesejahteraan tim.

Resiliensi Kepemimpinan dan Transparansi Figur Publik

Lewat wawancara eksklusif CNBC, karakter kepemimpinan Ren diuji secara intensif ketika perusahaan dihadapkan pada tekanan geopolitik serta pembatasan akses teknologi internasional yang sangat ketat. Bukannya mundur, Ren menghadapi krisis tersebut dengan tenang, disiplin, dan terbuka. Ia bertransformasi dari pendiri yang tertutup menjadi figur publik yang rutin membagikan pandangannya mengenai masa depan teknologi. 

Bagi Ren, tekanan justru menjadi bahan bakar untuk mempercepat kemandirian teknologi. Sikapnya yang tetap rendah hati, sering terlihat mengantre taksi sendiri atau makan di kantin karyawan membuatnya sangat dihormati oleh para pekerja di seluruh dunia.

Kisah hidup Ren Zhengfei mengajarkan bahwa tidak ada kata terlambat untuk memulai perjalanan besar. Ketahanan mental saat berada di titik terendah, keberanian mengambil risiko di usia matang, kepemimpinan yang murah hati, serta komitmen pada riset mandiri adalah kunci mengubah keterbatasan menjadi warisan kelas dunia.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya