Liputan6.com, Jakarta - Malam Kamis Kliwon, 30 September 1965. Suasana Jakarta sebetulnya tenang-tenang saja, tak ada petunjuk bahwa beberapa jam lagi sebuah peristiwa kelam akan membalikkan sejarah bangsa ini. Enam jenderal dan seorang perwira muda gugur dalam pusaran konflik yang dipicu rumor rencana kudeta oleh Dewan Jenderal.
Selama berdekade-dekade, tuduhan utama sebagai dalang peristiwa itu mengarah pada Partai Komunis Indonesia (PKI) dan ketuanya, DIPA Nusantara Aidit. Namun jika ditarik ke belakang, di mana sebenarnya Aidit berada saat peristiwa berdarah itu mulai bergerak?
Advertisement
Dalam bukunya, Kematian D.N. Aidit dan Kehancuran PKI, sejarawan Peter Kasenda menggambarkan gambaran rinci suasana malam itu. Sekitar pukul sembilan malam lewat sedikit, Aidit sedang berada di rumahnya. Ia asyik berbincang serius dengan Hardoyo, Ketua CGMI—organisasi mahasiswa yang berafiliasi dengan PKI.
Obrolan mereka tampak tegang. Beberapa kali mereka terpaksa menahan napas karena anak Aidit, Ilham, terlihat mondar-mandir di ruang tamu. Tak lama kemudian, Hardoyo pamit. Aidit mengantarnya sampai ke teras, lalu kembali masuk, mengunci pintu depan, dan menuntun putranya ke kamar.
"Ham, larut malam begini kamu belum juga tidur," panggil Aidit hangat sambil menggandeng tangan anaknya.
Kebiasaannya, jika tak ada tamu, Aidit akan berganti pakaian santai lalu mengurung diri di ruang kerja. Di sana ia biasa membaca atau menulis sampai subuh diiringi alunan musik klasik. Tapi malam itu berbeda.
Sebuah mobil Jeep merapat di depan rumahnya. Dua orang berseragam militer turun dan mengetuk pintu. Istri Aidit, dr. Soetanti, menyambut mereka dengan wajah gusar.
"Ini sudah malam!" tegurnya keras.
"Maaf, Bu, tapi ini darurat. Kami harus pergi segera," sahut salah seorang tamu itu tegas.
Dengan perasaan jengkel, Soetanti masuk memanggil suaminya. Ketika Aidit keluar, kedua tamu itu langsung menyampaikan pesan singkat,
"Segeralah bersiap, Bung. Waktu kita terbatas!"
Aidit bergegas ke kamar, memasukkan beberapa potong pakaian dan buku ke dalam tas. Istrinya sempat berkali-kali menahan agar ia tak pergi, tetapi Aidit tetap melangkah keluar menembus kegelapan malam. Momen itu menjadi kali terakhir keluarganya melihat Aidit secara langsung. Sejak malam itu, ia hilang kontak.
Jejak Langkah di Jalur Rahasia
Keterangan yang diungkap Mayor Soejono di Mahkamah Militer Luar Biasa (Mahmilub) memberi sedikit titik terang. Soejono adalah perwira berseragam yang menjemput Aidit malam itu. Dari rumah tinggalnya, Aidit diboyong menuju Jalan Salemba Tengah, Jakarta Pusat, untuk menemui Syam Kamaruzaman—Kepala Biro Khusus (BC) PKI.
Biro Khusus ini adalah organ rahasia yang sengaja dibentuk Aidit untuk membina hubungan dengan para perwira militer tanpa sepengetahuan pengurus besar (Central Comittee) PKI lainnya. Pada pertengahan 1965, isu kesehatan Bung Karno yang memburuk memicu kabar angin bahwa Dewan Jenderal di tubuh Angkatan Darat akan mengambil alih kekuasaan. Bagi Aidit dan kelompok kecil di Biro Khusus, PKI harus bertindak lebih dulu sebelum didahului.
Syam Kamaruzaman sudah kerap menggelar pertemuan rahasia sejak awal September. Ia berkonsolidasi dengan Kolonel A. Latief, Letkol Untung, dan Mayor Udara Sudjono.
Dari sederet rapat itu, Syam menyimpulkan bahwa sekelompok perwira "progresif" siap mendukung aksi penindakan. Rapat terakhir digelar 29 September, dan sepakat menetapkan tanggal 30 September sebagai hari pelaksanaan gerakan.
Menurut sejarawan Antonie C.A. Dake dan Victor M. Fic, keberadaan Aidit di rumah Syam malam itu adalah untuk memeriksa kesiapan akhir.
Di sana pula, Aidit sempat berkomunikasi dengan Mayjen Pranoto Reksosamodro, perwira yang dekat dengan Soekarno, sembari menjanjikan posisi strategis menggantikan Jenderal Ahmad Yani. Aidit juga sudah menyiapkan draft Dekrit Dewan Revolusi yang rencananya disiarkan tak lama setelah aksi berjalan.
Skenario awalnya, Aidit berencana menemui Bung Karno di Halim Perdanakusuma untuk mendesak Presiden membersihan pucuk pimpinan Angkatan Darat. Namun pertemuan langsung itu gagal. Sebagai gantinya, Brigjen Soepardjo diutus untuk menyampaikan pesan kepada Presiden.
Dua Versi Malam yang Membingungkan
Ada pula versi lain mengenai rute perjalanan Aidit malam itu. Beberapa kesaksian menyebut Aidit awalnya dibawa ke rumah dinas Menteri/Panglima Angkatan Udara Laksdya Omar Dhani di Kebayoran Baru. Karena rumah itu kosong, rombongan beralih ke kediaman mertua Omar Dhani di kawasan Otista, Jakarta Timur. Namun, rumah itu pun terkunci rapat.
Akhirnya, Mayor Soejono membawa Aidit masuk ke Kompleks Perumahan AU di Pangkalan Halim Perdanakusuma.
Mereka beristirahat di sebuah rumah bintara yang belakangan dikenal dengan sebutan markas 'Cenko II'—tempat yang memang sudah disiapkan untuk mengendalikan Gerakan 30 September.
Keesokan harinya, kabar simpang siur menyebutkan bahwa Bung Karno memberi restu atas tindakan penyingkiran Dewan Jenderal, dan Aidit diminta segera bertolak ke Yogyakarta untuk mengondisikan evakuasi Presiden.
Hingga hari ini, perincian pasti dari mana Aidit melangkah di malam itu masih terus diperdebatkan para sejarawan.
Namun satu hal yang pasti, pada 2 Oktober 1965, Aidit sudah menginjakkan kaki di Yogyakarta menemui petinggi PKI lainnya, meninggalkan Jakarta yang mulai membara dan bersiap memasuki salah satu babak paling berdarah dalam sejarah Indonesia.