Kejar Ekonomi Tumbuh 6% pada 2027, Airlangga Ungkap 3 Syaratnya

Ekonomi Indonesia dinilai tetap solid di tengah dinamika global.

oleh Agustina MelaniDiterbitkan 29 September 2026, 16:35 WIB
Menko Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto saat acara HSBC Summit 2026: Mobilising Growth In a New Global Order, Selasa (29/9/2026). (Foto: ekon.go.id)

Liputan6.com, Jakarta - Indonesia menargetkan pertumbuhan ekonomi 6,0% dan inflasi 2,5% pada 2027. Untuk mencapai pertumbuhan ekonomi itu, Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menuturkan, tiga kondisi harus terpenuhi.

Tiga kondisi itu antara lain pertumbuhan investasi, produktivitas pekerja, hingga ekspor yang bernilai tambah tinggi.

"Untuk tahun 2027, kami menargetkan pertumbuhan sebesar 6,0%, inflasi 2,5%. Tiga kondisi harus terpenuhi yakni pertumbuhan investasi yang melampaui pertumbuhan PDB, produktivitas per pekerja yang lebih tinggi, dan ekspor bernilai tambah lebih tinggi dengan dukungan logistik yang efisien,” ujar Airlangga dalam acara HSBC Summit 2026: Mobilising Growth In a New Global Order, dikutip dari laman ekon.go.id, Selasa (29/9/2026).

Adapun perekonomian global masih menghadapi ketidakpastian yang tinggi, terutama melalui tiga kanal risiko utama, yakni energi dan logistik, perdagangan dan investasi, serta pasar keuangan.

Di tengah kondisi tersebut, sejumlah lembaga internasional juga memprediksi pertumbuhan ekonomi global dapat mengalami keterlambatan seiring dengan tantangan yang belum kunjung usai. Kondisi tersebut menunjukkan penguatan fundamental domestik dan pengelolaan risiko tetap menjadi kunci dalam menjaga ketahanan perekonomian nasional.

Di tengah dinamika global tersebut, perekonomian Indonesia tetap menunjukkan kinerja yang solid. Pertumbuhan ekonomi pada semester I 2026 mencapai 5,45% (yoy), yang termasuk salah satu yang tertinggi di antara negara-negara G20, sementara inflasi pada Agustus 2026 tercatat sebesar 3,19%. Tingkat kemiskinan berada pada 8,07%, rasio Gini sebesar 0,368, dan tingkat pengangguran sebesar 4,65%.

Dari sisi investasi, sebanyak 50,2% realisasi investasi pada semester I 2026 telah berada di luar Jawa, menunjukkan semakin luasnya penyebaran aktivitas ekonomi nasional. Di tengah berbagai tantangan eksternal, Indonesia juga mampu mempertahankan peringkat kredit BBB dengan outlook stabil dari S&P.

Untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi sebesar 8% pada 2029, Pemerintah mengoptimalkan bauran kebijakan dengan kebijakan fiskal sebagai katalis, kebijakan moneter untuk menjaga stabilitas sekaligus mendorong pembiayaan perbankan, serta peran Danantara bersama sektor swasta dalam mempercepat investasi.

 

 

Penguatan Mesin Pertumbuhan

Menko Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto saat acara HSBC Summit 2026: Mobilising Growth In a New Global Order, Selasa (29/9/2026). (Foto: ekon.go.id)

Penguatan mesin pertumbuhan diarahkan pada sektor kendaraan listrik, digitalisasi, semikonduktor, Artificial Intelligent (AI), pertanian, dan energi.

Untuk menopang target tersebut, Pemerintah telah menyiapkan empat strategi utama melalui deregulasi dan debottlenecking berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 4 Tahun 2026, penguatan investasi dan pembiayaan, peningkatan produktivitas dan keterampilan tenaga kerja melalui program magang bagi 150.000 peserta dan 220.000 lulusan vokasi, serta perluasan akses pasar dan diplomasi ekonomi dengan 25 perjanjian perdagangan yang telah diimplementasikan dan 13 perjanjian lainnya dalam tahap negosiasi.

Airlangga menuturkan, ketahanan energi dan transformasi digital menjadi dua fondasi penting dalam memperkuat perekonomian nasional.

Di sisi digital, QRIS telah digunakan oleh 61 juta pengguna dan 44 juta merchant, sementara nilai ekonomi digital Indonesia mendekati US$ 100 miliar atau Rp 1.769 triliun (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 17.970). Pengembangan ekosistem digital juga diarahkan untuk membangun rantai nilai yang terintegrasi, mulai dari data center, AI, semikonduktor, hingga pengembangan talenta digital. Indonesia membutuhkan sekitar 9 juta tenaga digital hingga 2030 atau sekitar 600 ribu tenaga profesional setiap tahunnya, sementara kawasan Nongsa ditargetkan mampu menciptakan lebih dari 8.000 lapangan kerja di bidang teknologi.

Momentum investasi nasional juga terus berlanjut dengan realisasi investasi pada semester I 2026 mencapai sekitar setara Rp 1.010 triliun, tumbuh 7,2% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Realisasi tersebut berhasil menciptakan 1,4 juta lapangan kerja, dengan Penanaman Modal Asing (PMA) sebesar 50,2% dan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) sebesar 49,8%.

Pemerintah terus memperkuat iklim investasi melalui penyederhanaan regulasi dan peningkatan kepastian layanan, termasuk penerapan Service Level Agreement (SLA) untuk mendorong proses persetujuan dan perizinan berbasis risiko yang lebih efisien. Upaya debottlenecking juga diperkuat melalui Satuan Tugas Deregulasi yang berada di bawah koordinasi pemerintah, yang hingga saat ini telah menyelesaikan 135 dari 177 pengaduan terkait berbagai kendala regulasi dan investasi.

 

Pemerintah Memperkuat KEK

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto selaku Ketua Komite Kebijakan Pembiayaan bagi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). (Dok Kemenko Perekonomian)

Selain itu, Pemerintah terus memperkuat Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) sebagai pusat investasi dan pertumbuhan ekonomi baru. Hingga saat ini, terdapat 25 KEK dengan luas hampir 24.000 hektare yang mencakup sektor industri, pariwisata, kesehatan, pendidikan, teknologi, digital, dan jasa.

Pengembangan KEK juga diarahkan untuk memperkuat talenta digital, termasuk melalui KEK pendidikan di Malang yang telah menjadi lokasi operasional King’s College dan akan segera membuka India Institute of Management Bangalore.

Pemerintah juga terus memperkuat industri padat karya dan membuka akses pasar global. Industri tekstil dan alas kaki berkontribusi sekitar 4 juta lapangan kerja dengan nilai ekspor sekitar US$ 12 miliar.

Dari sisi perdagangan internasional, Indonesia terus memperkuat posisi melalui G20 dan proses aksesi OECD yang telah mencapai hampir 80%, serta mengupayakan keanggotaan CPTPP. Langkah tersebut dilengkapi dengan implementasi berbagai kerja sama perdagangan untuk memperluas akses pasar dan meningkatkan daya saing produk nasional.

“Angka semata tidak menciptakan kemakmuran, yang terpenting adalah mengubah investasi, teknologi, dan reformasi menjadi lapangan kerja, produktivitas, dan kehidupan yang lebih baik bagi masyarakat kita,” ujar Menko Airlangga.

Turut hadir dalam kesempatan tersebut di antaranya yakni Deputi Bidang Koordinasi Pengembangan dan Pengelolaan BUMN Kemenko Perekonomian, Deputi Komisioner Stabilitas Sistem Keuangan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), serta President Director HSBC Indonesia beserta jajaran.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya