8 Aki Alat Pemantau Anak Krakatau Raib Digondol Pencuri

Sebanyak 8 aki di alat pemantau Gunung Anak Krakatau raib digondol orang tidak bertanggung jawab.

oleh Ardi MuntheDiterbitkan 29 September 2026, 14:12 WIB
Sebanyak 8 aki milik Badan Geologi yang digunakan untuk mendukung pemantauan aktivitas Gunung Anak Krakatau (GAK) hilang diduga dicuri. (Liputan6.com/ Dok Istimewa).

Liputan6.com, Lampung - Aki milik Badan Geologi yang digunakan untuk memantau aktivitas Gunung Anak Krakatau (GAK) dicuri orang tidak bertanggung jawab. Aksi pencurian itu terungkap saat petugas melakukan perbaikan peralatan pada  pemantauan, Minggu (27/9/2026).

Usai aksi pencurian itu, sebanyak delapan aki yang menjadi sumber daya peralatan pemantauan dilaporkan hilang.

Deny Mardiono dari Badan Geologi menduga, pencurian tersebut dilakukan lebih dari satu orang. Deny mengatakan, awalnya petugas mengira peralatan pemantauan di Stasiun LV93, yang berada di sisi utara tubuh Anak Krakatau, mengalami kerusakan akibat erupsi sebelumnya.

Namun, setelah dilakukan pemeriksaan langsung, petugas justru menemukan dua kotak penyimpanan aki telah dibongkar.

"Ketika kita sampai di peralatan di stasiun tersebut, awalnya kami berpikir alat ini mati karena erupsi kemarin. Ternyata setelah di lapangan, berbeda dengan dugaan kami. Dua boks aki sudah dibongkar," kata Deny, Selasa (29/9/2026).

Dia menjelaskan, satu kotak berisi enam aki, sedangkan kotak lainnya berisi dua aki. Dengan demikian, total delapan aki yang digunakan untuk menyuplai daya peralatan pemantauan hilang.

 

Jejak Kaki Diduga Mengarah ke Pantai Utara

Deny mengungkapkan, dugaan pencurian tersebut baru diketahui ketika tim melakukan perbaikan peralatan.

Sebelum menuju Stasiun LV93, petugas terlebih dahulu menyelesaikan perbaikan peralatan di Stasiun Sertung.

"Setelah pekerjaan di Sertung rampung, tim melanjutkan perjalanan menuju stasiun pemantauan yang berada di tubuh Anak Krakatau. Di lokasi tersebut, kami menemukan kondisi kotak aki telah dibongkar dan seluruh baterai di dalamnya hilang," terang dia.

Berdasarkan kondisi jejak kaki yang ditemukan di sekitar lokasi, Deny menduga aksi pencurian itu baru saja terjadi.

"Kami menduga baru saja. Jejak kakinya pun masih kelihatan. Kemarin sempat kami mengikuti jejak-jejak kaki itu, barangkali pelakunya bersembunyi di pinggir pantai atau bagaimana, tetapi ternyata tidak ada," bebernya.

Menurut Deny, jejak kaki tersebut terlihat mengarah ke pantai di sisi utara peralatan pemantauan.

Meski demikian, pihaknya belum mengetahui secara pasti arah pelarian maupun identitas orang yang diduga mengambil aki tersebut.

Dia juga belum dapat memastikan jumlah pelaku. Namun, berdasarkan bobot aki yang hilang, pencurian itu diduga melibatkan lebih dari satu orang.

Setiap aki memiliki berat sekitar 20 hingga 30 kilogram. Dengan delapan unit yang hilang, total beban aki yang diangkut mencapai sekitar 160 hingga 240 kilogram.

"Kalau melihat dari baterai yang kami pasang, satu aki itu beratnya sekitar 20 sampai 30 kilogram. Kalau harus mengangkat semuanya, kemungkinan lebih dari satu orang," jelasnya.

 

Kerugian Ditaksir Rp 24 Juta

Deny menyebut, aki yang hilang merupakan baterai merek Panasonic berwarna hitam dengan kapasitas sekitar 75 ampere.

Berdasarkan perkiraan harga, satu unit aki tersebut bernilai sekitar Rp 3 juta.

Dengan delapan aki yang dilaporkan hilang, kerugian akibat pencurian itu diperkirakan mencapai Rp 24 juta.

Namun, dampak pencurian tersebut bukan hanya kerugian materiil. Hilangnya aki turut mengganggu fungsi peralatan pemantauan Gunung Anak Krakatau.

Deny menjelaskan, aki merupakan sumber daya listrik arus searah (DC) yang menyuplai sensor dan perangkat pemantauan. Daya tersebut berasal dari sistem panel surya yang kemudian disimpan dalam aki.

Tanpa pasokan listrik, perangkat tidak dapat beroperasi dan mengirimkan data ke pos pantau.

"Ini sangat memengaruhi karena aki merupakan daya dari peralatan tersebut. Daya itu untuk menghidupkan peralatan sehingga bisa mengirimkan data ke pos pantau dan datanya bisa dinikmati masyarakat," imbuhnya.

Dia mengungkapkan, peralatan di Stasiun LV 93 sebenarnya sudah mengalami kendala pengiriman data sejak 16 September 2026, setelah aktivitas erupsi sebelumnya.

Saat itu, petugas menduga gangguan disebabkan lontaran material vulkanik atau abu yang menutupi peralatan.

Namun, pemeriksaan langsung pada 27 September justru menemukan dugaan pencurian aki.

Hanya Seismik dan CCTV yang Kembali Dihidupkan

Setelah menemukan delapan aki hilang, tim Badan Geologi melakukan pembahasan di lokasi untuk menentukan langkah pemulihan peralatan.

Deny mengatakan, pihaknya memiliki aki cadangan yang kemudian dipasang untuk menghidupkan perangkat yang dinilai paling penting dalam pemantauan aktivitas Gunung Anak Krakatau.

Untuk sementara, hanya peralatan seismik dan CCTV yang berhasil kembali dioperasikan.

"Yang kami hidupkan adalah seismik dan CCTV karena itu sangat urgen untuk pemantauan Anak Krakatau. Padahal, di sana banyak peralatan kami yang terpasang," ungkapnya.

Deny menyebut, pihaknya belum berani memasang kembali seluruh aki dengan jumlah yang sama karena khawatir pencurian kembali terjadi.

Menurut dia, kotak penyimpanan aki yang berada di lokasi dapat dibongkar karena bagian engselnya dirusak.

"Kalau kami pasang lagi dengan jumlah baterai yang sama, kemungkinan besar akan diambil lagi," ujarnya.

 

Bukan yang Pertama

Deny mengungkapkan, pencurian peralatan pemantauan Gunung Anak Krakatau bukan pertama kali terjadi.

Pada Februari 2026, peralatan milik Badan Geologi yang dipasang di Pulau Rakata juga dilaporkan menjadi sasaran pencurian.

Saat itu, informasi kehilangan diperoleh dari seorang pemandu wisata yang berada di sekitar kawasan tersebut.

Setelah menerima laporan, petugas kemudian melakukan optimalisasi dan perawatan peralatan pada bulan berikutnya, termasuk memasang kembali perangkat agar pengiriman data pemantauan tetap berjalan.

Untuk mengantisipasi kejadian serupa, Badan Geologi telah memasang stiker peringatan yang menjelaskan bahwa peralatan tersebut merupakan barang milik negara dan digunakan untuk memantau aktivitas Gunung Anak Krakatau.

Petugas juga telah memasang CCTV. Namun, menurut Deny, perangkat CCTV sebelumnya mengalami kendala sehingga tidak dapat merekam aksi pencurian yang diduga terjadi.

Deny meminta masyarakat dan nelayan yang beraktivitas di sekitar Selat Sunda, khususnya kawasan Anak Krakatau, turut membantu menjaga peralatan pemantauan tersebut.

Dia menegaskan, perangkat itu tidak hanya berguna bagi Badan Geologi, tetapi juga untuk menyediakan informasi aktivitas gunung api bagi masyarakat.

"Kami mohon bantuan masyarakat dan nelayan untuk menjaga bersama-sama supaya peralatan ini tetap bisa menyala, sehingga data bisa kembali ke masyarakat, bukan hanya untuk kami dari Badan Geologi," tandasnya.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya