Liputan6.com, Jakarta - Tinggal menghitung hari, film animasi terbaru dari DreamWorks Animation bertajuk Forgotten Island akan tayang di bioskop Tanah Air. Film garapan sutradara Joel Crawford (Puss in Boots: The Last Wish, The Croods: A New Age) ini akan tayang di Indonesia pada Jumat 2 Oktober 2026 mendatang, menyusul penayangan di Amerika Serikat dan Filipina pekan lalu.
Menariknya, film ini mendapat skor yang sangat tinggi di situs agregat Rotten Tomatoes. Saat artikel ini ditulis pada Rabu (30/9/2026), Forgotten Island mendapat skor 95 persen dari 100 review kritikus dan 96 persen dari penonton umum.
Advertisement
Seperti apa sinopsis filmnya?
Forgotten Island mengikuti perjalanan Jo (H.E.R) dan Raissa (Liza Soberano), dua sahabat yang hidup pada era 1990-an, sebelum ponsel dan media sosial menjadi bagian tak terpisahkan dalam keseharian. Keduanya telah berteman sejak kecil dan kini bersiap menjalani jalan hidup yang berbeda setelah lulus sekolah.
Pada malam terakhir mereka bersama, keduanya secara tidak sengaja menemukan sebuah portal misterius yang membawa mereka ke Nakali, lokasi yang selama ini hanya mereka kenal lewat budaya dan mitologi Filipina.
Ancaman yang Mengancam Memori Persahabatan Jo dan Raissa
Pulau Nakali yang penuh makhluk ajaib dan legenda ini, mereka bertemu dengan Raww, (Dave Franco) seekor weredog yang kikuk namun berhati baik, serta sejumlah karakter unik lainnya.
Di sini, Jo dan Raissa menyadari bahwa jalan untuk kembali ke rumah kemungkinan memiliki harga yang tidak mereka duga: kenangan tentang persahabatan mereka.
Keduanya kemudian berusaha menemukan jalan pulang sebelum kenangan yang telah membentuk persahabatan mereka hilang untuk selamanya.
Film yang Terasa Personal, dengan Sentuhan Budaya Filipina
Forgotten Island disutradarai dan ditulis oleh Joel Crawford dan Januel P. Mercado, yang sebelumnya dikenal sebagai duo kreatif di balik Puss in Boots: The Last Wish. Film mereka kali ini bersifat jauh lebih personal, karena hubungan persahabatan keduanya yang telah terjalin selama hampir dua dekade turut menjadi inspirasi bagi kisah Jo dan Raissa.
Dalam keterangan tertulisnya, Crawford dan Mercado menyebut film ini merupakan proyek yang sangat personal, sebuah cerita mengenai persahabatan, keluarga, serta perempuan-perempuan penting dalam kehidupan mereka, sekaligus bentuk perayaan terhadap budaya Filipina.