Harga Emas Dunia Jatuh ke US$ 4.131, Pasar Antisipasi Kenaikan Bunga The Fed

Harga emas turun 3,8% ke US$ 4.131 per ounce akibat kenaikan imbal hasil US Treasury dan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 29 September 2026, 07:20 WIB
Harga emas dunia di pasar spot berada di sekitar US$ 4.131 per ounce, turun sekitar 3,8% dalam sehari. (Ilustrasi by AI)

Liputan6.com, Jakarta - Harga emas dunia turun tajam pada perdagangan Amerika Serikat (AS) Senin. Harga emas spot berada di sekitar US$ 4.131 per ounce, turun sekitar 3,8% dalam sehari.

Mengutip Kitco, Selasa (29/9/2026), tekanan terhadap harga emas terjadi setelah meningkatnya risiko di Selat Hormuz mendorong harga minyak, sekaligus mengangkat imbal hasil US Treasury. Kondisi tersebut memperkuat ekspektasi pasar bahwa Federal Reserve atau The Fed kembali menaikkan suku bunga.

Pasar kini memperkirakan peluang sekitar 70% untuk kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada Oktober.

Imbal hasil US Treasury 10 tahun juga naik ke kisaran 5,23%, level tertinggi sejak 2007. Sementara itu, indeks dolar AS bertahan di sekitar 101,16.

Kenaikan imbal hasil obligasi AS menjadi tekanan bagi emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil. Ketika imbal hasil aset berbasis dolar meningkat, biaya peluang memegang emas ikut naik.

Pergerakan harga emas selanjutnya akan dipengaruhi sejumlah data ekonomi AS, termasuk data lowongan pekerjaan, inflasi PCE, penggajian swasta, aktivitas manufaktur, dan laporan ketenagakerjaan.

 

Target Kenaikan Harga Emas

Harga emas spot berada di sekitar US$ 4.131 per ounce, turun sekitar 3,8% dalam sehari. (Foto By AI)

Situasi di Selat Hormuz dan hubungan AS-Iran menjadi salah satu faktor geopolitik utama yang memengaruhi harga minyak dan secara tidak langsung menekan harga emas.

Harga minyak Brent sempat melonjak lebih dari US$ 4 per barel setelah Presiden AS Donald Trump menolak proposal Iran yang akan membuka kembali Selat Hormuz. Kenaikan harga minyak meningkatkan kekhawatiran inflasi dan mendorong imbal hasil US Treasury lebih tinggi.

Bagi emas, tekanan tersebut lebih dominan dibandingkan permintaan aset safe haven akibat ketegangan geopolitik. Harga minyak yang lebih tinggi berpotensi memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed, sehingga meningkatkan biaya peluang memegang emas.

Secara teknikal, target kenaikan harga emas berikutnya berada di area US$ 4.199 hingga US$ 4.223 per ounce. Jika mampu menembus zona tersebut secara berkelanjutan, emas berpeluang menguji US$ 4.244 dan kemudian US$ 4.257.

Sebaliknya, target penurunan berikutnya berada di US$ 4.162, dengan support lebih dalam di US$ 4.152 dan US$ 4.128 per ounce.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya