Liputan6.com, Jakarta - Bagi Wem, perantau asal Palembang, naik KRL Jabodetabek pada sore hari menjadi pengalaman yang tidak terlupakan. Sebelum mencobanya, sang tante sebenarnya sudah mengingatkan agar ia menghindari perjalanan pada waktu tersebut.
Namun, rasa penasaran membuat Wem tetap mencoba.
Advertisement
“Onti (tante) saya pernah bilang, katanya nggak boleh naik sore, ya. Tapi kita anak muda ngeyel banget. Masa sih naik sore doang kagak boleh begitu. Soalnya kalau siang panas kan, males. Terus naiknya sore, wah dijepit banget, kayak pepes. Bener-bener kaya dihimpit," ujar Wem saat ditemui tim redaksi di Stasiun Manggarai, Senin (28/9/2026).
Pengalaman tersebut membuat Wem merasakan langsung padatnya KRL Jabodetabek pada jam sibuk. Tubuhnya harus berhimpitan dengan penumpang lain selama perjalanan.
Bagi Wem, kondisi itu cukup berbeda dengan pengalaman menggunakan transportasi umum di Palembang. Sebelum pindah ke Jakarta, ia pernah menggunakan Lintas Raya Terpadu (LRT) di kota asalnya.
“LRT palembang. Dan itu nggak separah di sini. Enggak seramai itu," ujarnya pada kesempatan yang sama.
Meski sempat terkejut dengan kepadatan KRL, pengalaman tersebut tidak membuat Wem sepenuhnya melihat transportasi umum Jakarta secara negatif.
Ia justru menemukan kemudahan lain yang membuat KRL tetap menjadi pilihan untuk menunjang aktivitasnya sebagai pendatang.
Padat, tapi Mudah dan Murah
Wem menilai salah satu keunggulan KRL Jakarta adalah aksesnya yang mudah. Menurut dia, keberadaan banyak stasiun membuat perjalanan menggunakan transportasi umum lebih praktis.
“Tapi kalau di sini lebih gampang. Cuma kaya naik Grab sekali terus udah nemu stasiun. Lebih gampang terus murah juga sih.”, ujarnya.
Dengan kondisi tersebut, Wem melihat ada perbedaan antara pengalaman menggunakan KRL Jakarta dan LRT di Palembang. Jika kepadatan menjadi pengalaman yang cukup mengejutkan baginya di Jakarta, kemudahan akses dan biaya yang murah menjadi alasan lain yang membuat KRL tetap membantu mobilitasnya.
Pengalaman Wem menunjukkan sisi lain dari perjalanan menggunakan KRL Jakarta. Di satu sisi, kepadatan penumpang pada sore hari bisa menjadi tantangan bagi pendatang yang belum terbiasa. Namun di sisi lain, kemudahan akses dan tarif yang murah membuat moda transportasi tersebut tetap memberikan manfaat bagi aktivitas sehari-hari.
Melihat Penumpang Disabilitas, Wem Berharap Ada Lebih Banyak Petugas
Selain merasakan langsung kepadatan KRL, Wem juga memperhatikan kebutuhan penumpang lain selama menggunakan transportasi umum di Jakarta.
Ia menyoroti pelayanan bagi penyandang disabilitas setelah melihat penumpang yang membutuhkan bantuan saat menggunakan KRL. Menurutnya, keberadaan lebih banyak petugas dapat membantu memastikan penumpang yang membutuhkan pertolongan mendapatkan layanan yang diperlukan.
“Mungkin kaya butuh lebih banyak orang aja deh kerja di sini. Biar hal-hal yang kayak begitu yang misal butuh bener-bener bantuan tuh bisa di-make sure (dipastikan). Bisa di-help (dibantu).”, tutupnya.
Bagi Wem, pengalaman naik KRL sore hari akhirnya bukan hanya soal harus berdesakan di tengah padatnya penumpang. Sebagai pendatang, ia juga merasakan kemudahan akses dan tarif yang murah. Di saat yang sama, ia melihat masih ada kebutuhan penumpang lain yang perlu mendapat perhatian dalam perjalanan menggunakan transportasi umum.