Liputan6.com, Jakarta - Gaji masuk tepat waktu, tetapi uang sudah habis sebelum tanggal 20. Anda merasa sudah berusaha berhemat, namun cicilan paylater, kartu kredit, hingga utang kepada teman atau saudara terus datang silih berganti.
Keinginan untuk melunasi semua utang justru berujung pada pinjaman baru demi menutup tagihan lama. Jika pola “gali lubang, tutup lubang” ini terasa familiar, perencana keuangan memberikan sejumlah strategi untuk membantu memutus siklus tersebut.
Advertisement
Berikut tips cara melunasi utang menumpuk tanpa terjerat pinjol, seperti dipaparkan Perencana keuangan Safir Senduk dan Perencana keuangan Andy Nugroho kepada Liputan6.com, ditulis Selasa (29/9/2026):
Tip 1: Kurangi Jumlah Pos Utang dengan Metode Snowball
Perencana keuangan Safir Senduk membagikan sejumlah strategi untuk mengurangi beban utang. Langkah pertama yang perlu dilakukan adalah menghitung seluruh pos utang yang dimiliki, mulai dari pinjaman bank, utang kepada teman, hingga tagihan kartu kredit.
Kemudian, Menurut Safir, jumlah pos utang sebaiknya dikurangi terlebih dahulu. Dengan semakin sedikit pos utang yang harus dibayar, jumlah kewajiban atau outstanding juga akan ikut berkurang. “Fokusnya sebetulnya adalah mengurangi jumlah posnya dulu,” ujar Safir.
Langkah kedua, kata dia, bayar semua pos sesuai cicilan minimal. Sebagai contoh, ada 10 pos utang dengan total cicilan Rp 5 juta per bulan. Maka sebagai langkah ketiga melebihkan nilai anggaran pelunasan. "Jangan Rp 5 juta, budget-kan Rp 7 juta misalnya," kata Safir.
Langkah keempat, arahkan sisa anggaran pelunasan sebesar Rp 2 juta tersebut ke pos dengan saldo terkecil. "Bukan bunganya yang paling besar, tapi sisa saldo kewajiban paling kecil," tegasnya, sehingga saat pos cepat habis dan bisa dilanjut ke pos berikutnya. Metode ini dikenal sebagai snowball.
Perencana keuangan Andy Nugroho menambahkan prinsip dasarnya, yakni utang dicicil sedikit-sedikit sesuai kemampuan.
Andy juga mengingatkan agar menahan diri. "Jangan membuat utang baru lagi dulu sampai lunas atau maksimal 30 persen dari total utang," ujarnya.
Tip 2: Pertimbangkan Jalan Pintas, tapi dengan Syarat
Namun jika butuh melunasi utang dengan lebih cepat, Andy menyebut ada dua opsi bisa jadi pilihan. Pertama dengan menggadaikan aset atau menjualnya.
"Gadaikan atau jual aset untuk menutup utang dengan cepat," ungkap dia.
Adapun opsi kedua, meminjam uang dari saudara atau teman dengan komitmen untuk mencicil dan melunasi.
Tip 3: Pahami Bedanya
Safir mengingatkan bahwa bunga tinggi biasanya melekat pada utang tanpa jaminan. "Pikir-pikir ulang kalau mengambil utang pada satu dari tiga produk berikut ini: KTA, paylater, sama pinjaman daring," ujarnya.
Ia juga meluruskan istilah yang sering tertukar. "Kalau legal namanya pindar, kalau yang ilegal tidak terdaftar di OJK, dia namanya pinjol," jelas Safir.
Tip 4: Pahami Arti Utang, lalu Bedakan Sesuai Jenis
Merujuk KBBI, Andy menyebut utang sebagai kewajiban membayar kembali apa yang sudah diterima. Safir memaknainya sebagai tindakan meminjam sumber daya dari pihak lain, biasanya uang, yang harus dikembalikan dan umumnya berbunga.
Menurut Andy, utang produktif dilakukan agar mendapatkan income yang lebih besar lagi, misalnya KPR untuk rumah yang disewakan. Sementara, utang konsumtif mengeluarkan uang lebih banyak tanpa memberikan income.
Safir memakai batasan lebih ketat. Utang produktif baginya langsung menghasilkan uang dari penggunaan barang dan jasa tersebut, seperti kendaraan untuk ojek online.
Bagaimana kalau kendaraan dibeli untuk pergi ke meeting? "Itu tetap konsumtif juga," kata Safir, meski masih bisa diterima.