Banjir Thailand Picu Kerugian Sebesar Ini, PDB Diproyeksi Terpangkas

Bangkok merupakan salah satu dari 41 provinsi di Thailand yang dilanda banjir Thailand sejak 16 September 2026.

oleh NurmayantiDiterbitkan 28 September 2026, 17:00 WIB
Sejumlah pria mendorong sepeda motor sambil menerobos genangan banjir akibat hujan deras di Bangkok, Thailand, Sabtu (26/9/2026). (Dok. AP Photo/Sakchai Lalit)

Liputan6.com, Jakarta - Banjir Thailand diperkirakan berpotensi menimbulkan kerugian ekonomi sedikitnya 11 miliar baht (Rp 5,8 triliun). Kerugian diperkirakan masih akan bertambah jika kondisi tidak membaik di negara tersebut.

Ini diungkapkan Aat Pisanwanich dari Departemen Ekonomi Universitas Rangsit. “Banjir diperkirakan memangkas 0,3 poin persentase pertumbuhan ekonomi tahun ini, sehingga pertumbuhan turun menjadi 2,1%, serta memangkas pertumbuhan kuartal ketiga sekitar 0,5 poin persentase menjadi 1,7%,” kata dia melansir laman Yahoo.com, Senin (28/9/2026).

Perekonomian Thailand, yang merupakan ekonomi terbesar kedua di Asia Tenggara dan mengalami pertumbuhan lebih lambat dibandingkan negara-negara lain di kawasan sejak pandemi COVID-19, tumbuh 1,9% secara tahunan pada kuartal II tahun ini. Angka tersebut masih turun cukup tajam dibandingkan pertumbuhan 2,8% pada kuartal sebelumnya.

Bangkok dan wilayah timur Thailand diperkirakan akan menerima dampak paling besar, terutama sektor perdagangan grosir dan ritel. Sementara itu, sektor industri dan pertanian akan terdampak di wilayah lainnya, kata Aat.

Warga terpaksa berjalan menerobos genangan air setinggi pinggang di kawasan Bang Kapi, Bangkok, yang menjadi salah satu wilayah terdampak parah, untuk membeli kebutuhan sehari-hari dari para pedagang.

Sebagian pedagang mendirikan lapak menggunakan kotak plastik dan drum yang mengapung, tiga hari setelah hujan tanpa henti menyebabkan banjir. 

Bangkok berdiri di atas delta sungai dengan tanah liat lunak dan hanya sekitar 1,5 meter di atas permukaan laut. Kota yang telah padat bangunan tersebut mengalami penurunan tanah beberapa milimeter setiap tahun.

Dengan populasi lebih dari 8,4 juta jiwa, Bangkok juga kerap menghadapi banjir selama musim hujan yang berlangsung sekitar enam bulan.

Di wilayah yang lebih timur, Provinsi Rayong yang berada di kawasan pesisir dan berbatasan dengan kawasan industri utama, pemerintah setempat memerintahkan evakuasi pada Senin setelah volume air di dua waduk meningkat hingga melampaui kapasitas.

 

 

 

 

 

 

Ribuan Warga Mengungsi

Seorang pria menerobos banjir setelah hujan lebat mengguyur Bangkok, Thailand, Sabtu (26/9/2026). (Dok. AP Photo/Sakchai Lalit)

Bangkok merupakan salah satu dari 41 provinsi di Thailand yang dilanda banjir sejak 16 September. Bencana tersebut telah menewaskan sedikitnya delapan orang dan mengganggu kehidupan penghuni lebih dari 580.000 rumah, menurut kementerian.

Sedikitnya 5.901 warga Bangkok telah mengungsi ke 234 pusat evakuasi. Sejumlah wilayah Bangkok masih terendam banjir setelah hujan deras mengguyur kota tersebut sepanjang akhir pekan.

Sementara itu, meningkatnya volume air di waduk di sebuah provinsi di bagian timur memicu perintah evakuasi bagi lebih banyak warga.

Sejumlah permukiman terendam banjir, sementara jaringan drainase kewalahan setelah hujan mencapai 320 milimeter (12,6 inci) dalam dua atau tiga hari pekan lalu.

Curah hujan tersebut hampir menyamai jumlah hujan yang biasanya mengguyur kota Bangkok yang berada di dataran rendah sepanjang September.

“Lebih dari 80.000 warga yang tinggal di wilayah terdampak banjir tidak dapat meninggalkan rumah mereka,” kata Sekretaris Tetap Kementerian Dalam Negeri Thailand Unsit Sampuntharat.

Dia menambahkan, dapur umum bergerak dan perahu dikerahkan untuk membantu upaya penanganan bencana.

“Tujuannya adalah menyediakan tiga kali makan sehari bagi seluruh warga selama periode banjir dan setidaknya tujuh hari setelah air surut,” ujarnya.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya