BISIKAN DESA GRINGSING Jadi Film Horor Indonesia Pertama yang Gunakan Teknologi Virtual Production

Bisikan Desa Gringsing menghadirkan horor misteri tentang pencarian ayah, teror Fatimah, serta penggunaan virtual production.

oleh Guntur MerdekawanDiterbitkan 28 September 2026, 16:21 WIB
BISIKAN DESA GRINGSING tayang di bioskop sejak 24 September 2026 (OMG Studios)

Liputan6.com, Jakarta - Mandela Pictures bersama Oceanus Media Global (OMG Studios) menggelar press screening dan press conference film horor misteri Bisikan Desa Gringsing. Setelah sebelumnya memperkenalkan dunia film melalui first look, poster, dan trailer, untuk pertama kalinya para undangan media dapat menyaksikan perjalanan Hesti yang diperankan Aghniny Haque secara utuh saat memasuki Desa Gringsing.

Film yang ditulis sekaligus disutradarai Ivander Tedjasukmana ini mengisahkan Hesti yang datang ke Desa Gringsing untuk mencari sang ayah yang hilang. Namun, pencarian tersebut membawanya berhadapan dengan teror Fatimah (Fatmah Nahdi), arwah yang mengurung seluruh warga di dalam desa dan membunuh siapa saja yang berusaha keluar.

Semakin jauh Hesti mencari jawaban, semakin banyak rahasia yang terbuka. Setiap karakter menyimpan potongan cerita, sementara jawaban yang ditemukan justru membawa Hesti semakin dalam pada misteri Desa Gringsing yang ternyata memiliki kaitan dengan trauma dari masa lalunya.

 


Perjalanan Hesti Membuka Rahasia Desa Gringsing

BISIKAN DESA GRINGSING tayang di bioskop sejak 24 September 2026 (OMG Studios)

Kisah dalam Bisikan Desa Gringsing dibangun sebagai perjalanan pencarian yang perlahan mengungkap lapisan misteri. Hesti datang dengan tujuan menemukan ayahnya, tetapi situasi di desa membuat pencarian tersebut berkembang menjadi pengalaman menghadapi ancaman supernatural dan berbagai rahasia para penghuninya.

“Sejak awal kami ingin Bisikan Desa Gringsing menjadi pengalaman sinematik di mana penonton terus terlibat dengan ceritanya. Hesti datang ke desa Gringsing untuk mencari satu jawaban, tetapi perjalanannya justru membuka begitu banyak pertanyaan lain. Sekarang filmnya sudah utuh dan akhirnya bisa kami perlihatkan kepada teman-teman media. Kami berharap pengalaman mencari jawaban bersama Hesti inilah yang nantinya juga akan membuat penonton terus membicarakan film ini setelah keluar dari bioskop,” ujar Manoj Samtani, Produser Mandela Pictures.

Misteri tersebut diperkuat melalui karakter-karakter yang masing-masing membawa bagian dari cerita Desa Gringsing. Proses pencarian Hesti kemudian tidak hanya berkaitan dengan ayahnya yang hilang, tetapi juga membawanya pada persoalan yang berhubungan dengan masa lalunya sendiri.

 


Teknologi Virtual Production Jadi Bagian dari Dunia Film

BISIKAN DESA GRINGSING tayang di bioskop sejak 24 September 2026 (OMG Studios)

Salah satu bagian yang menjadi pendekatan produksi Bisikan Desa Gringsing adalah penggunaan teknologi virtual production. Film ini disebut sebagai film panjang horor Indonesia pertama yang memanfaatkan teknologi tersebut dalam proses produksinya.

Lanjut Baca:

Sejumlah adegan dibuat menggunakan LED volumetric stage yang memungkinkan lingkungan digital fotorealistik ditampilkan secara real time di hadapan para pemain. Sementara itu, adegan lainnya dikerjakan menggunakan real set. Kedua metode tersebut dipadukan untuk membangun dunia Desa Gringsing, termasuk jalanan berkabut, bangunan desa yang terasa mengancam, hingga rangkaian peristiwa supernatural. “Bisikan Desa Gringsing menunjukkan bagaimana teknologi dapat memberikan hasil terbaik ketika digunakan untuk mendukung cerita. Dengan memadukan virtual production, real set, serta talenta kreatif dari Indonesia, Singapura, dan Malaysia, kami bersama-sama membangun Desa Gringsing sebagai satu dunia sinematik yang utuh. Kami bangga menjadi bagian dari kolaborasi ini dan tidak sabar untuk akhirnya membawa pengalaman Desa Gringsing kepada penonton di layar lebar,” ujar Nick GC Tan, Founder dan CEO Oceanus Media Global (OMG Studios). Penggunaan dua pendekatan produksi tersebut juga membuat kesinambungan visual menjadi salah satu tantangan utama. Proses pengambilan gambar di studio virtual production dilakukan lebih dahulu sebelum produksi berlanjut di real set. Karena itu, detail ruang, pencahayaan, komposisi, hingga pergerakan pemain perlu dirancang secara presisi agar lingkungan digital dan fisik tetap terasa berada dalam dunia yang sama.  

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya