DIGIForward 2026 Ajak Siswa SMK Jawa Tengah Kembangkan Solusi Nyata Berbasis AI

CTI Group melalui DIGIForward 2026 mengajak siswa SMK Jawa Tengah belajar AI, design thinking, hingga mengembangkan solusi untuk persoalan nyata.

oleh Wuri AnggariniDiterbitkan 28 September 2026, 16:10 WIB
CTI gelar DIGIForward 2026 sebagai ruang belajar bagi siswa SMK Jawa Tengah. ©CTI Group

Liputan6.com, Jakarta - Perkembangan Artificial Intelligence (AI) terus mengubah cara dunia kerja beroperasi. Teknologi kini semakin terintegrasi dengan kemampuan manusia dalam menciptakan nilai, termasuk mengambil alih sejumlah pekerjaan yang bersifat rutin.

Meski demikian, peran manusia tetap dibutuhkan untuk memahami konteks, memvalidasi kebutuhan, merancang solusi, hingga memastikan teknologi digunakan sesuai tujuan. Kondisi ini membuat kebutuhan kompetensi industri ikut berkembang. Kemampuan menggunakan teknologi saja tidak lagi cukup, tetapi perlu diimbangi dengan kemampuan berpikir kritis, memecahkan masalah, dan menerjemahkan teknologi menjadi solusi yang relevan.

Kesiapan talenta pun menjadi bagian penting dalam menghadapi perubahan tersebut, termasuk di sektor pendidikan vokasi. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) lulusan SMK di Jawa Tengah pada Februari 2026 mencapai 6,75%. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan TPT provinsi secara keseluruhan yang berada di level 4,24%.

Data tersebut memperlihatkan pentingnya memperkuat kompetensi lulusan SMK agar semakin relevan dengan kebutuhan dunia kerja yang terus berkembang.

Hal inilah yang turut menjadi perhatian PT Computrade Technology International (CTI Group). Sebagai salah satu perusahaan teknologi terkemuka di Asia Tenggara, CTI Group menilai penguatan talenta digital perlu dilakukan sejak dini, salah satunya melalui pendidikan vokasi.

Dunia pendidikan perlu semakin dekat dengan perkembangan industri. Dengan begitu, siswa bukan hanya memahami cara kerja teknologi, tetapi juga mampu melihat bagaimana teknologi dapat memberikan nilai sekaligus digunakan untuk menyelesaikan persoalan nyata.

Komitmen tersebut diwujudkan melalui DIGIForward, program corporate social responsibility (CSR) yang memberikan ruang bagi guru dan siswa SMK untuk belajar, bereksperimen, sekaligus merancang solusi teknologi bagi berbagai persoalan layanan publik di lingkungan mereka.

Setelah sukses digelar di Jawa Timur pada 2025, DIGIForward 2026 hadir di Jawa Tengah dengan membawa pendekatan berbasis AI. Para peserta ditantang mengembangkan solusi untuk berbagai persoalan layanan publik menggunakan Cognitive Automation (AI) dan pendekatan design thinking.

“Melalui DIGIForward, kami ingin memberikan kesempatan bagi guru dan siswa SMK untuk belajar dan bereksperimen secara langsung dengan teknologi, sekaligus mengasah kemampuan berpikir kritis, berkolaborasi, dan memecahkan masalah. Bagi kami, penguasaan teknologi akan menjadi semakin berarti ketika dapat digunakan untuk menjawab persoalan nyata di sekitar kita. Karena itu, DIGIForward menjadi salah satu upaya CTI Group untuk membantu mempersiapkan talenta vokasi yang lebih adaptif dan relevan dengan kebutuhan dunia industri,” ujar Rachmat Gunawan, CEO CTI Group.

Dari Memahami Masalah hingga Mengembangkan Solusi Berbasis Teknologi

CTI gelar DIGIForward 2026 sebagai ruang belajar bagi siswa SMK Jawa Tengah. ©CTI Group

Berbekal pengalaman CTI Group di ekosistem teknologi, DIGIForward tidak dirancang sebagai pelatihan satu arah. Peserta diajak menjalani proses yang menyerupai pengembangan solusi di dunia nyata, mulai dari memahami persoalan dan kebutuhan pengguna, mengembangkan ide, menentukan teknologi, hingga melakukan pengujian.

Rangkaian DIGIForward 2026 diawali dengan Online Onboarding yang memperkenalkan 15 sekolah peserta dan guru pada tujuan serta tahapan program. Sosialisasi kemudian dilanjutkan di masing-masing sekolah bersama guru penanggung jawab (PIC).

Setiap tim beranggotakan empat siswa dengan pembagian peran yang berbeda, yakni 1 Team Leader, 2 Developer, serta 1 Quality Assurance dan Designer.

Tahapan berikutnya adalah Upskilling Training. Dalam sesi ini, peserta mempelajari pendekatan design thinking serta pemanfaatan Cognitive Automation (AI) untuk mengembangkan solusi. Mereka belajar memahami kebutuhan pengguna, merumuskan masalah, mengembangkan ide, sekaligus mengeksplorasi pemanfaatan teknologi untuk menjawab tantangan di lingkungan sekitar.

Materi yang diperoleh kemudian langsung dipraktikkan melalui pengerjaan worksheet secara bertahap. Peserta juga memperoleh one-on-one mentoring untuk membantu memahami dan menyempurnakan ide yang dikembangkan. Dari proses tersebut, persoalan yang mereka temukan mulai diterjemahkan menjadi proposal ide serta rancangan solusi berbasis teknologi sesuai case study masing-masing.

Metode experiential learning turut dihadirkan Generation Educators (GenEd) sebagai mitra pembelajaran DIGIForward. Peserta mendapatkan pengalaman belajar melalui praktik, menguji gagasan, memperoleh masukan, hingga melakukan iterasi untuk menemukan pendekatan solusi yang paling relevan.

Worksheet yang dikerjakan peserta selanjutnya menjadi salah satu dasar proses seleksi. Dari berbagai proposal yang dikembangkan, 10 tim dengan konsep terbaik melaju ke Innovation Sprint, hackathon selama dua hari satu malam (2D1N). Tahapan ini menjadi kesempatan bagi peserta untuk mengembangkan, menguji, dan menyempurnakan ide hingga menjadi solusi yang lebih konkret.

Pengalaman tersebut sekaligus memberikan gambaran kepada peserta mengenai proses sebuah ide berkembang melalui kolaborasi dan iterasi.

“Yang paling berkesan bagi saya adalah bagaimana setiap anggota tim bisa berkontribusi sesuai role-nya, tetapi tetap saling membantu selama prosesnya. Dari situ saya belajar bahwa mengembangkan sebuah solusi bukan hanya tentang memiliki ide yang baik, tetapi juga tentang bagaimana tim bekerja bersama, beradaptasi dengan tantangan, dan terus menyempurnakan ide tersebut,” ujar Zantyara, peserta dari SMKN 3 Kendal, Tim Sonic.

Innovation Sprint Bawa Ide Siswa Menjadi Prototype

CTI gelar DIGIForward 2026 sebagai ruang belajar bagi siswa SMK Jawa Tengah. ©CTI Group

Innovation Sprint menjadi tahapan bagi peserta untuk membawa ide yang sebelumnya masih berupa konsep menuju pengembangan yang lebih nyata. Selama dua hari satu malam, peserta tidak hanya berorientasi pada hasil akhir, tetapi terlebih dahulu mendapatkan kesempatan mengenal teknologi melalui hands-on training.

Mereka mengeksplorasi bagaimana teknologi yang digunakan di industri dapat diterapkan untuk mendukung solusi yang dirancang. Bersama AI Solution Engineer dari CTI Group, peserta kemudian menerjemahkan pemahaman tersebut menjadi prototype sekaligus menguji cara kerja solusi mereka.

Rangkaian proses tersebut berujung pada Final Pitching. Sebanyak 10 tim terbaik mempresentasikan solusi di hadapan dewan juri, mulai dari persoalan yang ingin diselesaikan, target pengguna, gap yang hendak diatasi, cara kerja prototype, hasil pengujian, hingga peluang pengembangannya.

Melalui tahapan tersebut, peserta menunjukkan bagaimana teknologi yang telah dieksplorasi dapat diterjemahkan menjadi solusi untuk menjawab kebutuhan nyata.

XSATA Swift dari SMK Negeri Tengaran akhirnya keluar sebagai pemenang DIGIForward 2026 melalui solusi bertajuk “Xsata Career”.

Solusi tersebut dikembangkan untuk menjawab persoalan layanan bimbingan karier yang masih dihadapi siswa dengan menghadirkan pengalaman lebih personal dan terarah. Xsata Career menyediakan akses konsultasi, informasi industri terpercaya, serta panduan karier yang disesuaikan dengan minat, potensi, dan jurusan siswa.

Solusi tersebut dinilai memiliki kesiapan implementasi yang baik sekaligus menunjukkan kemampuan XSATA Swift dalam menerjemahkan kebutuhan pengguna menjadi solusi berbasis teknologi dan mempresentasikannya melalui pitching.

“Awalnya kami melihat masih banyak siswa yang bingung memilih jurusan atau karier karena keterbatasan guru BK di sekolah. Lewat DIGIForward, kami juga jadi punya kesempatan untuk mencoba berbagai tools dan framework yang sebelumnya belum pernah kami gunakan, sehingga lebih mudah bagi kami untuk mengeksplorasi pendekatan yang paling sesuai dengan solusi yang ingin kami buat,” ujar Keisya dan Devin, anggota kelompok XSATA Swift dari SMK Negeri Tengaran.

“Selama mengikuti DIGIForward, kami tidak hanya mendapatkan materi, tetapi juga kesempatan untuk langsung mencoba dan mengembangkan solusi dengan pendampingan selama prosesnya. Kami sempat terkendala jaringan dan prompt, tetapi kami terus mencari cara untuk menyelesaikannya. Dari proses itu, kami belajar untuk lebih berani menghadapi kendala dan terus menyempurnakan solusi sampai siap dipresentasikan,” sambung Kevin dan Yansi, anggota kelompok XSATA Swift dari SMK Negeri Tengaran.

Tak hanya XSATA Swift, dua tim lainnya turut menunjukkan beragam kemungkinan pemanfaatan AI untuk menjawab persoalan di sekitar mereka.

Sikat Stemba dari SMK Negeri 7 Semarang yang meraih Juara 2 mengembangkan WadulKan, solusi yang dapat mengubah laporan warga menjadi draft surat pengaduan secara otomatis. Inovasi ini dirancang agar proses administrasi kelurahan dapat berlangsung lebih cepat dan efisien.

Sementara itu, SKANIDA dari SMK Negeri 2 Semarang menempati Juara 3 melalui Gizka - Gizi Kita. Solusi tersebut memanfaatkan AI untuk mengenali kandungan gizi makanan melalui foto sehingga dapat membantu keluarga memahami asupan gizi dengan cara lebih sederhana.

Bagi CTI Group, DIGIForward 2026 tidak semata-mata berorientasi pada solusi yang dihasilkan maupun penentuan pemenang. Program ini juga menjadi ruang bagi 10 sekolah, 10 guru, dan 40 siswa untuk memperoleh pengalaman langsung dalam belajar, bereksperimen, dan mengembangkan solusi menggunakan teknologi yang semakin dekat dengan kebutuhan industri.

Selain kemampuan teknis, pengalaman tersebut turut mendorong peserta membangun kepercayaan diri untuk mengeksplorasi teknologi, menghadapi tantangan, serta mengubah sebuah ide menjadi solusi. Pengalaman itu diharapkan menjadi bekal yang dapat terus dikembangkan untuk menghadapi dunia kerja yang semakin dinamis sekaligus menciptakan solusi sesuai kebutuhan masa depan.

Melalui DIGIForward, CTI Group terus mendorong talenta vokasi agar tidak berhenti sebagai pengguna teknologi. Mereka juga diharapkan memiliki keberanian untuk bereksplorasi, kemampuan memecahkan persoalan, serta perspektif untuk melihat bagaimana teknologi dapat menciptakan nilai.

Langkah tersebut sekaligus menjadi bagian dari komitmen CTI Group dalam membantu mempersiapkan talenta yang semakin adaptif terhadap perubahan teknologi dan dunia kerja.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya