Liputan6.com, Jakarta - Dalam persaingan dua aset kripto berkapitalisasi pasar terbesar, Bitcoin (BTC) terpantau berada di posisi yang lebih dekat untuk kembali menyentuh titik puncaknya (all-time high) dibandingkan Ethereum (ETH).
Pada 27 September 2026, harga Bitcoin berada di kisaran US$ 84.900 atau sekitar Rp 1,52 miliar (asumsi kurs Rp 17.921 per dolar AS). Posisi tersebut sekitar 33 persen di bawah rekor tertinggi sepanjang masanya di level US$ 126.080 (Rp 2,25 miliar) yang dicapai pada Oktober 2025.
Advertisement
Melansir Yahoo! Finance, Senin (28/9/2026), Ethereum diperdagangkan di kisaran US$ 2.710 (Rp 48,5 juta), atau masih merosot sekitar 45 persen dari rekor tertingginya di level US$ 4.950 (Rp 88,7 juta) pada Agustus 2025.
Dengan perbandingan tersebut, Bitcoin memerlukan penguatan sebesar 49 persen untuk kembali menyentuh rekor teratasnya, sementara Ethereum harus melonjak hingga 83 persen.
Kendati demikian, performa Ethereum belakangan ini justru mengungguli Bitcoin. Dalam kurun waktu 90 hari terakhir, harga Ethereum telah melesat 72 persen, dibanding Bitcoin yang tumbuh 42 persen. Laju pertumbuhan pesat ini memicu pertanyaan di kalangan investor: akankah reli kencang Ethereum mampu mengejar ketertinggalan jarak yang lebih jauh tersebut?
Bitcoin Butuh Penguatan 49 Persen
Saat ini harga Bitcoin hanya berjarak 33 persen dari rekor tertingginya, mencerminkan koreksi yang jauh lebih dangkal dibandingkan siklus bearish pada masa-masa sebelumnya. Secara tahunan (year-to-date), Bitcoin hanya terkoreksi 4 persen sepanjang 2026, menegaskan pemulihan yang cukup solid tahun ini.
Dalam dua bulan terakhir, Bitcoin menguat sekitar 32 persen dan membukukan kenaikan 42 persen dalam tiga bulan terakhir. Hasil ini membawanya kembali menembus level psikologis US$ 85.000 (Rp 1,52 miliar) pada September untuk pertama kalinya sejak Januari.
Namun, untuk memicu penguatan lanjutan sebesar 49 persen dari posisi US$ 84.900, pasar tetap membutuhkan dorongan aksi beli baru (fresh buying power) dalam jumlah signifikan.
Ethereum Butuh Lonjakan 83 Persen
Tantangan bagi Ethereum terbilang sedikit lebih berat. Harganya saat ini masih 45 persen di bawah rekor tertinggi, serta mencatatkan penurunan 9 persen sepanjang berjalan tahun 2026.
Meski begitu, laju pemulihan Ethereum menunjukkan akselerasi yang lebih kencang. Harganya meroket sekitar 72 persen dalam tiga bulan terakhir dari posisi US$ 1.570 (Rp 28,1 juta) pada akhir Juni. Dalam kurun 60 hari terakhir saja, Ethereum telah menguat 42 persen—melampaui performa Bitcoin pada periode yang sama.
Salah satu pemicu pesatnya lonjakan ini adalah faktor kapitalisasi pasar (market cap). Kapitalisasi pasar Ethereum saat ini berada di kisaran US$ 331 miliar (Rp 5.952 triliun), jauh di bawah Bitcoin yang mencapai US$ 1,7 triliun (Rp 30.570 triliun). Dengan market cap yang lebih kecil, arus modal masuk (inflow) dalam jumlah yang sama dapat mengerek harga Ethereum dengan lebih cepat. Namun secara bersamaan, kondisi ini juga membuat fluktuasi harga Ethereum lebih rentan terkoreksi tajam saat terjadi aksi jual (sell-off).
Kecepatan 90 Hari Bersaing Ketat
Melihat performa kuartalan, dinamika persaingan kedua aset ini berlangsung sengit. Jika Bitcoin mampu mempertahankan laju pertumbuhan 90 harinya, harganya berpeluang menyentuh kembali level US$ 126.080 (Rp 2,25 miliar) dalam kurun waktu sekitar 100 hari ke depan.
Sebaliknya, jika Ethereum berhasil menjaga momentum lonjakan drastisnya, nilainya juga berpotensi menembus US$ 4.950 (Rp 88,7 juta) dalam rentang waktu yang relatif sama.
Kunci pemenang dari perlombaan ini terletak pada konsistensi momentum. Kenaikan sebesar 72 persen dalam kurun waktu singkat seperti yang dialami Ethereum terbilang langka untuk dipertahankan secara terus-menerus. Jika reli Ethereum melambat, jalan yang harus ditempuh akan semakin berat akibat selisih koreksi sebesar 83 persen.
Di sisi lain, Bitcoin mendapat angin segar dari narasi fundamental yang kuat. Investor makro Jodi Visser menilai Bitcoin sebagai "transaksi AI paling murni" (the purest AI trade), sebuah sentimen yang berpotensi menarik minat investor institusional untuk terus menumpuk koin pemimipin pasar ini. Selain itu, Bitcoin terbukti melewati fase crypto winter pasca-puncak 2025 dengan jauh lebih stabil, sehingga jarak pemulihan yang dibutuhkan menjadi lebih pendek.
Bitcoin vs Ethereum: Siapa Mencapai Puncak Lebih Dulu?
Melihat kalkulasi teknis saat ini, Bitcoin memiliki probabilitas lebih tinggi untuk mencapai rekor puncaknya terlebih dahulu. Dengan sisa jarak pemulihan yang hanya 49 persen dibanding 83 persen milik Ethereum, sedikit saja perlambatan pada laju Ethereum akan memberikan keunggulan besar bagi Bitcoin.
Namun, Ethereum tetap berpotensi menyalip jika mampu mempertahankan reli agresifnya di saat Bitcoin mengalami konsolidasi di sekitar level US$ 100.000 (Rp 1,79 miliar). Sebaliknya, apabila pertumbuhan Ethereum tertahan, Bitcoin berpeluang besar mencetak rekor baru US$ 126.080 terlebih dahulu.