Liputan6.com, Jakarta - Kesenjangan adopsi AI di negara maju dan negara berkembang semakin meluas karena tantangan sistemik. Negara maju seperti Amerika Serikat (AS), Korea Selatan, Jepang, dan Selandia Baru dijuluki dengan sebutan Belahan Utara, yang merupakan negara kaya dan level industrinya tinggi.
Sementara, Belahan Selatan adalah sebutan untuk negara berkembang, seperti sebagian besar Afrika, Amerika Latin, dan beberapa bagian Asia.
Advertisement
Dilansir The Korea Times, Selasa (29/9/2026), tingkat penggunaan AI mencapai 28,8% di Belahan Utara dan 16,2% di Belahan Selatan, sehingga selisih tingkat adopsi semakin melebar menjadi 12,6%.
Hal itu merefleksikan tantangan sistemik yang dihadapi Belahan Selatan, di mana akses terbatas terhadap listrik, koneksi internet, dan keterampilan digital terus menghambat adopsi. Demikian menurut Microsoft.
Mereka menyoroti bahwa keuntungan dari generative AI akan tetap tak merata selama ketimpangan ini belum terselesaikan.
Sementara, Korea Selatan menempati posisi ke-12 dalam skala penyebaran AI secara global, di mana lebih dari 40% populasi menggunakan teknologi tersebut pada kuartal kedua, seperti yang ditunjukkan dalam laporan dari Microsoft.
Tingkat penggunaan generative AI di kalangan warga Korea Selatan berusia 15-64 tahun naik 3,5% dibandingkan kuartal sebelumnya, sehingga negara tersebut naik empat peringkat per akhir Juni 2026, menurut laporan penyebaran AI global yang diterbitkan oleh pengembang perangkat lunak asal AS tersebut.
Laporan itu menunjukkan bahwa tingkat penggunaan AI generatif secara global naik 1% dari 17,8% pada periode Januari-Maret menjadi 18,8% pada periode April-Juni 2026.
Daftar Adopsi AI Global
Berikut daftar negara dengan adopsi penggunaan AI terbesar secara global. Dalam laporan ini, Indonesia tidak masuk daftar.
1. Uni Emirat Arab (UEA)
Penggunaan: 73,3%
2. Singapura
Penggunaan: 64,3%
3. Irlandia
Penggunaan: 49,9%
4. Prancis
Penggunaan: 49,6%
5. Belahan Utara
Penggunaan: 28,8%
6. Belahan Selatan
Penggunaan: 16,2%