Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah diprediksi melemah hingga kisaran Rp 18.150-Rp 18.200 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pekan depan. Pengamat Ekonomi dan Komoditas Ibrahim Assuaibi memperkirakan, penguatan indeks dolar AS dan tekanan geopolitik global menjadi faktor utama yang membebani rupiah.
Ibrahim memperkirakan indeks dolar AS bergerak pada kisaran 100,10-102,20 pada pekan depan. Dia menilai penguatan indeks dolar AS menuju level 102,20 dapat meningkatkan tekanan terhadap nilai tukar rupiah.
Advertisement
“Untuk rupiah sendiri, rupiah kemungkinan akan melemah. Melemahnya kemungkinan besar di Rp18.150 sampai Rp18.200-an,” ujar Ibrahim kepada wartawan, Minggu, 27 September 2026.
Ibrahim juga memperkirakan rupiah masih memiliki ruang menguat hingga sekitar Rp17.800 per dolar Amerika Serikat apabila tekanan terhadap mata uang domestik mereda. Pergerakan tersebut tetap bergantung pada kondisi pasar global dan arah dolar AS.
Tekanan eksternal juga meningkat karena harga minyak mentah berpotensi tetap tinggi. Ibrahim memperkirakan harga WTI bergerak di kisaran US$ 87,60-US$ 100,10 per barel, sehingga kebutuhan dolar AS untuk pembayaran energi dapat memberikan tekanan tambahan terhadap rupiah.
Artikel Meneropong Arah Rupiah Pekan Depan di Tengah Sentimen Geopolitik menyita perhatian pembaca di Kanal Bisnis Liputan6.com. Ingin tahu artikel terpopuler lainnya di Kanal Bisnis Liputan6.com? Berikut tiga artikel terpopuler di Kanal Bisnis Liputan6.com yang dirangkum pada Senin, (28/9/2026):
1. Meneropong Arah Rupiah Pekan Depan di Tengah Sentimen Geopolitik
Nilai tukar rupiah diprediksi melemah hingga kisaran Rp 18.150-Rp 18.200 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pekan depan. Pengamat Ekonomi dan Komoditas Ibrahim Assuaibi memperkirakan, penguatan indeks dolar AS dan tekanan geopolitik global menjadi faktor utama yang membebani rupiah.
Ibrahim memperkirakan indeks dolar AS bergerak pada kisaran 100,10-102,20 pada pekan depan. Dia menilai penguatan indeks dolar AS menuju level 102,20 dapat meningkatkan tekanan terhadap nilai tukar rupiah.
“Untuk rupiah sendiri, rupiah kemungkinan akan melemah. Melemahnya kemungkinan besar di Rp18.150 sampai Rp18.200-an,” ujar Ibrahim kepada wartawan, Minggu (27/9/2026).
Ibrahim juga memperkirakan rupiah masih memiliki ruang menguat hingga sekitar Rp17.800 per dolar Amerika Serikat apabila tekanan terhadap mata uang domestik mereda. Pergerakan tersebut tetap bergantung pada kondisi pasar global dan arah dolar AS.
2. Banjir Bangkok Ganggu Aktivitas Ekonomi, 52.000 Rumah Tangga Terdampak
Banjir yang melanda Bangkok, Thailand, mengganggu aktivitas ekonomi setelah hujan deras selama beberapa hari merendam rumah, jalan, dan sejumlah kawasan perdagangan di ibu kota tersebut.
Badan Administrasi Metropolitan Bangkok (BMA) mencatat hampir 4.900 warga telah dievakuasi ke tempat pengungsian, sementara sekitar 52.000 rumah tangga terdampak banjir. Kondisi tersebut mendorong pemerintah menetapkan status bencana di seluruh wilayah Bangkok.
Hujan dengan intensitas tinggi memperbesar tekanan terhadap aktivitas masyarakat dan distribusi barang. Badan cuaca Thailand mencatat curah hujan di sejumlah wilayah Bangkok mencapai lebih dari 330 mm sepanjang Kamis hingga Minggu.
“Rumah kami terendam selama sekitar 30 jam. Kali ini ketinggian air lebih tinggi dibandingkan banjir 2011,” kata pekerja kantoran Kosin Nilset dilansir dari The Guardian, Minggu (27/9/2026).
3. Gaji Numpang Lewat: Tips Agar Gen-Z Tak Bokek Sebelum Gajian
"Gaji numpang lewat" makin akrab di telinga Gen-Z. Gaji baru cair, tapi dompet sudah menipis jauh sebelum tanggal gajian berikutnya tiba.
Founder & CEO MRE Mike Rini Sutikno dan Perencana keuangan Andy Nugroho membagikan cara mengatasinya, mulai dari soal prioritas, disiplin, hingga formula pembagian gaji.
Tekanan Inflasi dan Pentingnya Prioritas
Rini menyoroti kenaikan harga kebutuhan pokok yang menggerus daya beli. "Satu porsi pecel ayam misalnya tadinya Rp 25.000, sekarang Rp 27.000. Kalau gaji kita tidak naik, daya beli kita semakin menurun," ujarnya kepada Liputan6.com, Minggu (27/9/2026).
Ia menambahkan, kenaikan harga barang dan jasa membuat sejumlah pos pengeluaran mau tidak mau harus dipangkas.
Sementara itu, Andy menekankan pentingnya skala prioritas. "Buat skala prioritas dalam membelanjakan uang, hindari membelanjakan uang hanya untuk mengikuti gaya hidup," katanya.
Ia juga menegaskan, Gen-Z harus mulai belajar mendapatkan penghasilan tambahan, "Hindari berhutang hal-hal yang bersifat konsumtif."
Berita selengkapnya baca di sini