Penggusuran Seorang Lansia Picu Demo Besar di Spanyol

Kenaikan harga dan terbatasnya hunian terjangkau membuat banyak warga Spanyol kesulitan membeli atau menyewa rumah, meski ekonomi negara itu tumbuh kuat.

oleh Khairisa FeridaDiterbitkan 27 September 2026, 13:20 WIB
Warga mengikuti aksi protes di Puerta del Sol, Madrid, Spanyol, Sabtu (26/9/2026), menyusul penggusuran Maricarmen Abascal, perempuan berusia 87 tahun, dari rumahnya. Mereka menuntut aturan yang lebih kuat untuk melindungi penyewa. (Dok. AP Photo/Manu Fernandez)

Liputan6.com, Madrid - Ribuan orang demo di Madrid, Spanyol, pada Sabtu (26/9/2026) untuk memprotes penggusuran seorang perempuan berusia 87 tahun dari rumah yang telah ditempatinya hampir sepanjang hidup. Mereka juga menuntut perlindungan yang lebih kuat bagi para penyewa.

Gambar Maricarmen Abascal saat dibawa keluar dari apartemennya di Madrid dengan tandu pada Rabu (23/9), setelah polisi mendobrak pintu rumahnya, kembali menyoroti krisis perumahan di Spanyol menjelang pemilihan umum yang dijadwalkan digelar pada 2027.

Para demonstran mengguncang-guncangkan kunci, meniup peluit, meneriakkan slogan, dan membawa spanduk yang menyerukan langkah untuk menekan biaya perumahan yang terus meningkat serta memperketat aturan penggusuran saat mereka berbaris melintasi pusat Kota Madrid.

"Anda bisa menjadi Maricarmen berikutnya," bunyi salah satu spanduk seperti dilaporkan CNA.

Enrique Ortega de Miguel, desainer grafis berusia 38 tahun yang tinggal bersama ibunya, mengatakan pasar perumahan di Spanyol saat ini "mustahil" bagi banyak orang.

"Sulit mencari tempat tinggal yang mampu kita bayar, lalu setelah mendapatkannya kita hidup dalam ketakutan akan dipaksa pergi," katanya kepada AFP dalam aksi tersebut.

Pemerintah memperkirakan jumlah peserta aksi mencapai sekitar 25.000 orang, sedangkan penyelenggara menyebut sebanyak 300.000 orang ikut berunjuk rasa.

"Penggusuran Maricarmen telah memicu kemarahan dan menjadi titik balik," kata juru bicara Serikat Penyewa Madrid, Alicia del Rio, kepada wartawan pada awal aksi yang berakhir di depan gedung parlemen.

Abascal, yang kini menjadi simbol krisis perumahan Spanyol, menyerukan kepada warga untuk mengikuti aksi tersebut melalui pesan video yang diunggah secara daring beberapa jam sebelum demonstrasi dimulai.

"Saya ingin apa yang terjadi kepada saya bisa menjadi pelajaran agar hal serupa tidak terjadi kepada orang lain," ujarnya dari rumah sakit, tempat ia dirawat karena kelelahan sejak penggusuran.

"Saya ingin kejadian ini mendorong orang-orang untuk berjuang dan membantu mengubah undang-undang yang memungkinkan saya digusur."

Video tersebut diunggah oleh serikat penyewa.

 

"Sudah Muak"

Warga mengikuti aksi protes di Lapangan Sol, Madrid, Spanyol, Sabtu (26/9/2026), setelah Maricarmen Abascal, perempuan berusia 87 tahun, digusur dari rumahnya pada Rabu lalu. Mereka menuntut perlindungan hukum yang lebih kuat bagi para penyewa. (Dok. AP Photo/Manu Fernandez)

Menurut serikat penyewa, Abascal dipaksa meninggalkan apartemen yang telah ditempatinya selama 70 tahun setelah sebuah perusahaan real estat mengambil alih properti tersebut dan menaikkan harga sewa sebesar 275 persen menjadi 2.650 euro.

Irene Lopez, insinyur berusia 33 tahun, mengatakan kondisi perumahan di Spanyol kini sudah semakin sulit dihadapi.

"Ada orang-orang yang sudah tidak mampu tinggal di kota. Harga sewa tidak sebanding dengan gaji," ungkapnya kepada AFP, seraya menyebut penggusuran Maricarmen sebagai 'puncak dari semuanya'.

Demonstran lainnya, Maricarmen Arnedo, pensiunan berusia 76 tahun, mengatakan warga lanjut usia kini terancam kehilangan tempat tinggal, sementara generasi muda bahkan kesulitan untuk hidup mandiri dan meninggalkan rumah orang tua mereka.

"Kami ingin harga rumah dan sewa turun karena saya sudah muak mencuci celana dalam anak laki-laki saya yang berusia 53 tahun," katanya.

Tragedi Sosial

Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez dari Partai Sosialis, yang tahun lalu berjanji menjadikan perumahan sebagai salah satu prioritas pemerintah, kini menghadapi tekanan yang semakin besar untuk bertindak. Demonstrasi terkait persoalan perumahan terus berlangsung di berbagai wilayah Spanyol sejak penggusuran Abascal.

Sanchez menyebut penggusuran Abascal sebagai tragedi sosial yang tidak bisa kita terima.

Pemerintah diperkirakan akan menyetujui paket kebijakan yang dijuluki "Dekret Maricarmen" dalam rapat kabinet berikutnya. Paket tersebut antara lain mencakup perpanjangan otomatis kontrak sewa dan pembatasan lebih lanjut terhadap penggusuran.

Namun, belum jelas apakah paket kebijakan tersebut akan mendapat persetujuan parlemen karena pemerintahan Sanchez tidak memiliki mayoritas kursi.

Meski rancangan undang-undang serupa ditolak pada awal tahun ini, kasus Abascal telah meningkatkan tekanan terhadap partai-partai politik untuk mengambil tindakan.

Bank Spanyol memperkirakan negara berpenduduk sekitar 50 juta orang itu kekurangan 700.000 unit rumah, berdasarkan kesenjangan antara permintaan dan pembangunan rumah baru.

Spanyol hanya memiliki sedikit perumahan publik. Sementara itu, menurut para analis, harga sewa terus terdorong naik akibat meningkatnya permintaan, termasuk dari sektor pariwisata dan pertumbuhan penduduk yang berkaitan dengan imigrasi.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya