Liputan6.com, Jakarta - Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) meninggalkan posisi 6.400 pada perdagangan saham 21-25 September 2026. Analis menilai tekanan IHSG sepekan dipicu kenaikan suku bunga the Federal Reserve (the Fed) hingga nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Mengutip data Bursa Efek Indonesia (BEI), ditulis Sabtu (26/9/2026), IHSG turun 3,09% sehingga ditutup ke level 6.241,89 dari pekan lalu 6.441,16.
Advertisement
Demikian juga kapitalisasi pasar BEI yang tertekan. Kapitalisasi pasr BEI turun 3,2% atau Rp 361 triliun menjadi Rp 10.905 triliun dari pekan lalu Rp 11.266 triliun.
Analis PT MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana menuturkan, IHSG melemah 3,09%, dan masih didominasi oleh tekanan jual. Pergerakan IHSG itu didorong sejumlah sentimen. Pertama, kenaikan suku bunga acuan the Federal Reserve (the Fed) ke level 4%, yield obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) mengalami kenaikan di atas 5%. Ia menuturkan, hal ini menguatkan indeks dolar AS dan membuat aliran dana asing keluar dari Emerging Market (EM) atau negara berkembang.
Selain itu, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang kini berada di 17.942 per dolar AS sehingga meningkatkan kekhawatiran akan capital outflow dan tekanan pada Surat Berharga Negara (SBN). "Ketiga, harga minyak mentah masih menjadi penekan pergerakan bursa, di mana saat ini berada di atas US$ 100 per barel dan akan meningkatkan kekhawatiran inflasi energi global,” kata dia.
Sementara itu, rata-rata frekuensi transaksi harian terperosok 3,95% menjadi 1,82 juta kali transaksi dari 1,89 juta kali transaksi pada pekan lalu.
Sedangkan rata-rata nilai transaksi harian merosot 21,32% menjadi Rp 11,98 triliun dari Rp 15,22 triliun pada pekan lalu. Di sisi lain, rata-rata volume transaksi harian di BEI naik 2,04% menjadi 29,20 miliar saham dari 28,61 miliar saham pada pekan lalu.
Sementara itu, investor asing mencatatkan aksi jual saham mencapai Rp 3,15 triliun. Aksi jual saham oleh investor asing lebih besar dari pekan lalu Rp 2,94 triliun.
IHSG Sepekan Merosot 1,5%, Kapitalisasi Pasar Sentuh Rp 11.266 Triliun
Sebelumnya, laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah pada perdagangan saham 14-18 September 2026. IHSG sepekan bahkan meninggalkan posisi 6.500.
Mengutip data Bursa Efek Indonesia (BEI), ditulis Sabtu (19/9/2026), IHSG sepekan turun 1,53% sehingga ditutup ke posisi 6.441,15 pada pekan lalu di posisi 6.541,37. Kapitalisasi pasar BEI terperosok 1,58% menjadi Rp 11.266 triliun dari pekan lalu Rp 11.446 triliun.
Tekanan IHSG pekan ini terjadi di tengah nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Mengutip riset PT Ashmore Asset Management Indonesia, rupiah merosot ke level 17.742 seiring menguatnya dolar AS.
Di sisi lain, investor asing tercatat masih melakukan aksi jual bersih saham sekitar US$ 65 juta atau Rp 1,15 triliun (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 17.810) hingga Kamis pekan ini. Meski angka ini jauh lebih rendah dibandingkan US$ 152 juta atau Rp 2,70 triliun pada pekan lalu yang mengindikasikan tekanan jual mungkin mereda.
Sentimen IHSG
Imbal hasil obligasi pemerintah tenor 10 tahun turun menjadi 7,13% dari sebelumnya 7,15%, sebuah kondisi yang patut dicatat mengingat tiga bank sentral utama dunia justru menaikkan suku bunga mereka."
Kini, perhatian tertuju pada rapat Bank Indonesia (BI) pada 23 September, di mana konsensus memperkirakan BI Rate akan tetap dipertahankan pada level 5,75%,” demikian seperti dikutip dari riset Ashmore Asset Management Indonesia.
Keputusan ini menghadirkan dilema nyata; di satu sisi, langkah The Federal Reserve (the Fed), European Central Bank (ECB), dan Bank of Japan (BoJ) menaikkan suku bunga mempersempit selisih suku bunga Indonesia dan AS, yang dapat memicu arus keluar modal.
Di sisi lain, menaikkan suku bunga akan membebani pertumbuhan ekonomi serta biaya pinjaman di dalam negeri. Anggaran negara tahun 2026 mengasumsikan harga minyak sebesar US$ 70 per barel.
"Dengan harga pasar yang mendekati US$ 104 per barel, selisih harga tersebut harus ditanggung baik melalui subsidi bahan bakar maupun kenaikan harga jual di tingkat konsumen, sehingga mempersempit ruang gerak pemerintah," demikian seperti dikutip dari riset Ashmore.
Sementara itu, berdasarkan data BEI, rata-rata nilai transaksi harian susut 6,95% menjadi Rp 15,22 triliun dari pekan lalu Rp 16,36 triliun.
Rata-rata frekuensi transaksi harian merosot 14,73% menjadi 1,89 juta kali transaksi dari 2,22 juta kali transaksi pada pekan lalu. Sementara itu, rata-rata volume transaksi harian BEI terpangkas 20,71% menjadi 28,61 miliar saham dari 36,09 miliar saham pada pekan lalu.