Liputan6.com, Jakarta - Harga minyak dunia menguat pada perdagangan Kamis, 24 September 2026 (Jumat pagi Jakarta). Namun, harga minyak dunia turun dari level tertinggi dalam sesi perdagangan menyusul laporan negosiator Amerika Serikat dan Iran di New York sedang membahas kesepakatan bertahap untuk mengakhiri kebuntuan di Teluk Persia.
Mengutip CNBC, Jumat (25/9/2026), harga minyak Brent, acuan internasional naik 3,4%, dan ditutup ke harga US$ 106 per barel. Kontrak berjangka minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) menguat 2,7%, dan menetap di harga US$ 94,61 per barel.
Advertisement
Seorang pejabat senior Iran mengatakan kepada Reuters langkah paling realistis ke depan adalah jika Teheran mengizinkan pelayaran di Selat Hormuz sebagai imbalan atas penghentian blokade angkatan laut oleh AS.
AS dan Iran sempat menyepakati pendekatan ini dalam nota kesepahaman 17 Juni, tetapi kesepakatan itu dengan cepat gagal dan memicu kembali pertempuran. Belum jelas apa perbedaan dalam negosiasi kali ini.
Militer AS telah mengawal kapal-kapal tanker yang melintasi Selat Hormuz, meskipun perjalanan tersebut tetap berbahaya karena Iran terus menyerang kapal-kapal komersial. JPMorgan memperkirakan pada Jumat lalu bahwa total arus minyak dari Timur Tengah mencapai 17 juta barel per hari, atau lebih dari 70% dari rata-rata 2025.
Sebelumnya pada Kamis, harga minyak mentah Brent melonjak sekitar 5% hingga mencapai level tertinggi sesi di angka US$ 108,23 setelah milisi Houthi di Yaman yang bersekutu dengan Iran menembakkan serangkaian rudal ke arah Arab Saudi. Brent telah mencatat kenaikan lebih dari 17% sepanjang September, sementara minyak mentah AS naik lebih dari 10%.
Pidato Bernada Keras
Angkatan bersenjata Arab Saudi mencegat enam rudal balistik yang ditembakkan oleh kelompok Houthi ke kota Yanbu dan Taif, menurut keterangan juru bicara militer. Yanbu merupakan terminal ekspor minyak utama yang terletak di pesisir Laut Merah, Arab Saudi.
Presiden AS Donald Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyampaikan pidato yang bernada keras dan menantang di hadapan Majelis Umum PBB pekan ini, bahkan saat para negosiator mereka sedang melakukan pembicaraan di sela-sela pertemuan tersebut.
Pada Selasa, Trump mengatakan menghadapi "keputusan besar" mengenai apakah akan merundingkan kesepakatan dengan Iran atau "membinasakan" Republik Islam tersebut. Pezeshkian mengatakan kepada anggota PBB pada Rabu, Iran tidak akan menyerah kepada AS dan akan terus berjuang "hingga napas terakhir."